One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 49 Kembali ke masa lalu



Di taman kanak-kanak, Alisa sedang bermain sendiri dengan boneka kecil di tangannya. Selama ini, dia memang jarang sekali bergaul dengan temannya yang lain. Lebih suka menyendiri.


Kalau ada Maulana, hari Alisa terasa berbeda. Walau anak itu suka menggodanya, tapi hal itu membuat kerinduan di hati Alisa. Kini dia merasa sepi.


Dia berjalan melewati anak-anak yang sedang berlari. Tubuhnya terjatuh ketika salah seorang anak menyenggolnya.


Alisa duduk terdiam sambil menunduk. Lututnya mulai terasa perih. Dia memegang lututnya itu dan menemukan ada luka.


"Darah, hik...," gumam Alisa mulai menangis.


"Tuh kan nangis lagi. Kau sih, dia kan cengeng," ujar salah seorang anak.


"Maaf, Alisa," ucap anak bertubuh tambun yang menyenggol Alisa.


"Bu guru, Alisa menangis karena Burhan," teriak anak-anak yang lain membuat salah seorang guru datang mendekat. Melihat keadaan Alisa.


"Burhan lagi, kau itu... jangan suka jahil pada temanmu. Sekarang minta maaf pada Alisa."


"Aku tidak sengaja, Bu guru, Alisa yang jalan nggak lihat-lihat," ujar Burhan.


"Benar, Bu, Alisa jalan sambil lihat tanah," ungkap anak yang lain menirukan cara jalan Alisa.


Mendengar pembicaraan itu membuat Alisa bertambah menangis. Bu guru membawa Alisa ke ruang guru untuk dibersihkan lukanya.


"Kau duduk di sini ya," kata Bu guru lembut.


Alisa duduk di sebuah kursi sofa panjang. Kepalanya yang terus menunduk tidak melihat ke sekitar.


"Alisa," panggil Maulana.


Alisa langsung mengangkat wajahnya, menatap ke arah sosok anak yang duduk di sebelahnya. Anak itu menatapnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.


Alisa langsung membalas senyum itu. "Lana...."


Maulana memeluk Alisa erat. "Aku merindukanmu," ujarnya.


"Bohong," ujar Alisa.


"Benar, aku rindu mencubitmu," bisik Maulana membuat wajah Alisa ditekuk. Tapi dia merasa senang ada Maulana di sebelahnya.


"Wah, Alisa langsung ceria lagi setelah melihat Maulana. Dari kemarin cemberut terus," ledek Bu Guru Septi.


"Iya, Bu, Alisa jarang terlihat tersenyum saat Maulana sakit kemarin, bahkan selalu bertanya kapan Maulana berangkat sekolah," ujar Bu guru wali kelas Alisa, Ana.


Bu guru itu membersihkan


Alisa terlihat malu.


"Yakin Maulana mau pindah sekolah? Tidak kasihan pada Alisa?" tanya Bu Septi lagi.


Alisa menatap tidak mengerti pada Maulana.


"Lana pindah sekolah?" ulang Alisa. Maulana menganggukkan kepala.


"Kenapa?"


"Aku ingin sekolah di sini tapi Ibu menyuruh Lana pindah sekolah, ikut Ayah," terang Maulana.


Maulana menatap ke arah ibunya yang duduk berhadapan dengan Ibu Septi untuk mengurus kepindahan Maulana.


"Pindah kemana?"


"Jauh," hanya itu jawaban Maulana. "Tempat Kakek, menyebrang lautan."


"Kami akan tinggal di Bukit Tinggi, kembali ke kampung orang tua saya," terang Uyun.


"Jauh sekali," ujar Bu Septi.


Uyun menganggukkan kepala.


Alisa sendiri terlihat sedih lagi. Matanya memerah. "Kenapa harus pindah? Di sini saja."


Maulana yang melihat memeluk Alisa. "Jangan sedih, nanti aku akan menelfonmu."


"Ibu, boleh aku bermain dengan Alisa di luar?" tanya Maulana pada Uyun.


"Mereka sangat akrab sekali ya," ujar Bu Septi.


Uyun menganggukkan kepala. Bagaimana pun mereka punya ikatan darah yang sama yang menjadikan mereka dekat satu sama lainnya tanpa bisa dicegah. Andaikan Farida tidak seegois itu mungkin mereka bisa tinggal rukun bersama. Uyun menghela nafasnya memikirkan ini.


Di sini dia sudah beruntung dipercayai oleh Farida untuk merawat Maulana. Kata orang tua sebagai pancingan agar dia bisa cepat punya anak. Namun, bagaimana bisa punya cepat punya anak, jika suaminya hanya pulang satu Minggu dalam waktu satu bulan.


Maulana menggandeng tangan Alisa keluar ruang guru. Dia lantas mengajak Alisa duduk di kursi depan kelas.


"Katanya kau ke rumah kemarin?"


"Ya, ingin melihatmu, tapi katanya kau ada di rumahmu sendiri karena itu bukan rumahmu tapi rumah Tante Cantik."


Maulana menghela nafasnya. Kala itu, dia tidak faham kenapa harus bersembunyi dari Alisa dan ayahnya. Ibu dan Tantenya mengatakan jika yang datang tukang tagih utang yang akan culik anak kecil bila terlihat. Nyatanya ketika dia mengintip yang datang Alisa.


Baru setelahnya dia tahu jika ayah Alisa itu kemungkinan besar ayahnya. Ayah Alisa kan tampan, itu lebih cocok menjadi ayahnya daripada Ayah Erick. Bukan dia ingin durhaka pada ayahnya sendiri, hanya saja dia tidak menemukan kemiripan antara keduanya. Ayah Erick pun tidak memperlakukannya seperti kebanyakan ayah lainnya. Dia bersikap baik, tapi tidak pernah mengajaknya bermain atau menggendongnya. Bahkan memeluk.


"Kau datang bersama dengan ayahmu waktu itu?"


"Kok kamu tahu?" tanya Alisa.


"Ehm, Tante Ida yang memberitahu."


Alisa mengangguk.


"Siapa nama ayahmu?" tanya Maulana tiba-tiba.


"Kaisar Alexander Cortez," ujar Alisa jelas.


"Panjang sekali dan keren," kata Maulana.


"Tentu saja," balas Alisa bangga. "Namaku pun sama bagusnya dengan Ayah. Queen Alisa Cortez."


"Namaku juga bagus Maulana Malik, Pelindung Raja, wah nama kita saling berhubungan, ya?" ujar Maulana.


Mata Alisa membelalak cantik, lalu mengangguk sambil tersenyum.


"Nama siapa yang saling berkaitan?" ucap suara merdu dari arah depan mereka.


"Nenek," panggil Alisa bangkit dari duduknya dan memeluk Dara.


"Namaku dan Maulana," ujar Alisa menunjuk ke arah Kaisar.


Netra Dara mengedip tidak percaya melihat satu sosok kecil yang duduk menatapnya sambil tersenyum.


Dia seperti melihat Kaisar dua puluh enam tahun yang lalu. Dengan wajah sama tapi ekspresi berbeda. Kalau Kaisar selalu terlihat angkuh dan jarang sekali tersenyum. Kalau ini, terlihat ramah. Senyumnya itu sangat menawan.


"Nek," panggil Alisa menarik baju Neneknya yang berdiri terdiam sedari tadi.


"Ya." Dara terkesiap. Dia lantas berjalan ke depan Maulana dan menekuk kakinya, berjongkok.


"Siapa namamu, Nak?" tanya Dara.


"Maulana Malik." Ucapnya dengan jelas. Gesturnya sama seperti Kaisar. Tidak mungkin kan ini anaknya Kaisar? Batin Dara.


"Siapa nama orang tuamu?" tanya Dara menyentuh wajah Kaisar muda. Jika kemungkinannya anak ini punya ibu yang single parents, dia akan menyelidiki ini secara seksama.


"Qurota 'ayun dan Erick Purba," jawab Uyun dari arah ruang guru.


Dara menoleh ke arah wanita yang sedang berdiri menatapnya. Dia langsung bangkit.


"Anda ibunya?" tanya Dara menatap penampilan Uyun dari bawah ke atas. Dia berpikir tidak mungkin Kaisar menyukai wanita seperti ini. Sederhana, tidak terlalu cantik dan seperti wanita kalangan menengah biasa. Tidak ada yang istimewa.


Lagipula wanita ini punya suami. Kemungkinan anak ini anak lain Kaisar sangat tidak mungkin.


"Iya, ada yang salah?" tanya balik Uyun.


"Bukan begitu, maaf ... hanya saja Anda sangat tidak mirip dengan putra Anda," ujar Dara sopan tidak bermaksud menyakiti atau menghina.


Ini sekolah kalangan atas, bagaimana bisa orang biasa sekolah di sini? Pikir Dara lagi.


Sebenarnya dia tidak ingin usil karena dulu dia juga bukan siapa-siapa. Namun, wajah Kaisar yang ada di diri anak itu yang membuat dia penasaran tentang jati diri Maulana.