One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 69 Rahasia yang Belum Terungkap



Kaisar lalu mencium Farida membuat wanita itu terkejut karena tidak punya pertahanan. Farida kembali lagi menggigit bibir Kaisar keras sehingga darah yang terasa manis dan anyir di mulut, tapi apa yang Farida lakukan tidak menghentikan pergerakan bibir Kaisar. Bahkan, tangan pria itu beralih ke tempat sensitif Farida.


Lambat laun pemberontakan itu melemah, hanya butir air mata Farida yang keluar. Dia ingin menolak, hanya saja kebutuhan biologisnya akan sentuhan pria membuat dia tidak bisa menolaknya.


Bibir pria itu mulai menghisap leher Farida yang membuat kaki Farida bergetar.


"Ku mohon hentikan," ucapnya dengan suara merintih yang menjijikkan menurutnya. Dia sempat menikmatinya.


"Bukankah kau menikmatinya juga," ejek Kaisar sambil menggigit pelan telinga Farida.


"Ini salah," ujar Farida.


"Justru inilah yang benar, kau dan aku memang tercipta untuk bersatu dan kau berusaha membentengi dirimu dengan kebencianmu padaku. Katakan alasannya Farida, kali ini jujurlah padaku." Kaisar menatap ke arah dua bola mata Farida.


"Karena kau penyebab semuanya."


"Aku? Apa salahku?"


"Kenyataannya kita tidak pernah saling mencintai. Kau mencintai kakakku dan ingin menikahinya. Semua yang terjadi adalah sebuah kesalahan, aku pernah mengatakan hal ini padamu kan!" isak Farida dengan suara serak tertahan.


"Kau hanya menceritakan sebagian saja. Ceritakan semuanya."


Kaisar melepaskan pelukannya pada Farida, lalu membawa wanita itu duduk di pinggir tempat tidur. Dia mengambil tisu untuk wanita itu.


Waktu itu....


Flash back.


Di sebuah acara pesta keluarga Cortez. Semua terlihat bahagia dengan acara itu, tapi tidak dengan Airlangga. Dia datang bersama dengan keluarganya hanya saja di sisihkan. Airlangga yang merasa tidak betah lalu berjalan lewat belakang untuk bisa keluar dari acara pesta secara diam-diam.


Tanpa sengaja dia mendengar bahwa salah satu pelayan menyuruh pelayan lainnya untuk memberikan obat ke minuman Kaisar. Mereka mengatakan ini dari seorang wanita yang ingin menjebaknya.


Airlangga merasa itu bukan hal benar, walau dia sendiri tidak setuju dengan rencana pernikahan mereka. Dia berusaha untuk mencegahnya. Sayangnya, saat itu Ira sedang melihatnya dan menyuruhnya untuk mengambilkan segelas air putih untuknya karena penyakit maag yang dia derita kambuh.


"Angga, ambilkan segelas air putih untukku meminum obat lambung," perintah Ira.


"Aku akan menyuruh pelayan untuk mengambilkan," kata Airlangga sambil tetap melihat ke arah pelayan jahat itu.


"Ngga! Aku menyuruhmu, cepatlah sebelum acara pengumuman pertunangan diadakan."


"Baik, Bu," jawab Airlangga langsung berlari ke dapur dan kembali dengan membawa segelas air mineral.


"Bu, aku harus ke belakang, kebelet, aku tinggal ya," kata Airlangga cepat melesat pergi di balik kerumunan banyak orang sebelum Ira mengatakan sesuatu.


Airlangga melihat gelas di tangan pelayan jahat itu sudah kosong. Dia mengepalkan tangannya erat dan mulai mengamati Kaisar dari jauh.


"Untung saja pengumuman rencana pertunangan Kaisar dan Cantika segera dilakukan. Jadi keadaan masih aman terkendali. Hingga setengah jam kemudian, terlihat gelagat aneh dari Kaisar.


Pria itu nampak memegang kepalanya dan menarik dasi yang melingkar di leher. Airlangga bingung harus melakukan apa. Ketika Kaisar pergi meninggalkan tempat itu, ke arah lift. Airlangga melihat gelagat aneh dari dua orang pria yang mengintai Kaisar sedari tadi.


"Calon Kakak Ipar, kau terlihat tidak sehat biar aku membantumu," tawar Airlangga memapah Kaisar hingga masuk ke dalam lift. Untung saja lift segera tertutup ketika mereka sudah berada di dalam.


Di dalam lift, Kaisar mulai bersikap aneh. Dia mengendus tubuh Airlangga untuk sesaat.


"Jauhi aku!" katanya mendorong keras tubuh Airlangga ke dinding lift.


"Panas ... panas ...," ujar pria itu mulai membuang jas dan dasi yang dia pakai. Lalu pria itu kembali menatap ke arah Airlangga, menggelengkan kepalanya.


Ketika sampai di lantai yang diinginkan. Kaisar hendak keluar dari lift, tapi rasa sakit di kepala dan tubuhnya membuatnya sukar untuk melangkah ke depan.


Airlangga yang polos tidak tahu, obat apa yang diminum oleh Kaisar mendekat dan memapahnya. Dia mengira jika pria dewasa di depannya meminum obat bius oleh musuhnya. Pasti akan tidak sadarkan diri. Karena itu, dia sebisa mungkin membantu Kaisar hingga ke kamarnya. Bagaimana pun dia adalah calon kakak iparnya.


Namun, Kaisar kembali lagi mengendus tubuh Airlangga. Bau parfum bayi yang lembut membuat hasratnya semakin membuncah. Namun, dia masih dalam batas kewarasan karena yang bersamanya ini seorang pria.


Hingga pada akhirnya ketika mereka telah sampai di kamar, tanpa sengaja tubuh mereka terjatuh ke atas tempat tidur. Dengan posisi Airlangga yang berada di bawah Kaisar. Tangan Kaisar pun berada di atas dua squishi lembut milik Airlangga. Keduanya mengerjap untuk sesaat.


Airlangga ingin menjerit tapi bibir merahnya yang sedari tadi dilihat oleh Kaisar kini mulai dilumat pria itu. Lalu semua terjadi. Pelecehan seksual yang membuat Airlangga muda ternoda oleh kakak iparnya sendiri.


Kembali ke laptop atau masa kini.


"Lalu siapa yang salah di sini? Aku juga korban, jadi itu tidak sepenuhnya salahku!" ujar Kaisar membela diri.


"Semua bukan salahmu hanya saja karena apa yang kau perbuat semua rencana yang dirancang ibuku buyar dan ibuku harus merenggangkan nyawa karena itu," ucap Farida penuh emosi.


"Kau yang salah karena dari awal berbohong pada keluarga mu sendiri."


Farida lalu tertawa hambar sambil mengusap airmata di wajahnya dengan kasar. Sorot matanya menatap Kaisar penuh kebencian dan terluka.


"Aku yang salah? Kau tidak tahu sejahat apa mereka, sampai kami harus melakukan ini agar bisa bertahan hidup."


"Aku tidak tahu hal apa saja yang menimpa hidupmu sebelumnya hanya saja jika dari awal kau bercerita hamil, aku pasti akan bertanggungjawab." Tegas Kaisar.


Farida sendiri tahu akan hal itu, hanya saja semua tidak semudah yang bisa dikatakan. Semua serba sulit untuk dia lakukan dan di saat itu dia masih lemah dan tidak punya kekuatan untuk melawan.


"Kau sendiri akan menikah dengan Cantika, lalu bagaimana aku menjelaskan. Sedangkan mereka mengancam akan menghentikan pembiayaan pengobatan ibuku jika aku menceritakan semua kebenaran yang ada. Suatu kebenaran yang mungkin suatu hari akan membuatmu sakit hati dan hancur."


Kaisar memiringkan kepalanya. Penasaran dengan apa yang akan diungkap oleh Farida. Sesuatu yang akan membuat dia hancur?


"Kebenaran apa lagi itu? Katakan padaku!" pinta Kaisar.


Bukannya menjawab Farida malah tersenyum penuh misteri. "Bukankah katamu kau bisa mencari tahu dan melakukan apapun maka cari tahu maksud dari perkataanku!"


Kaisar memegang bahu Farida dan mengoyaknya. "Katakan kebenaran apa itu Farida, jangan sampai aku melakukan hal yang buruk padamu!"


Jeng ... Jeng ... penasaran... kan? Ih gemesh deh. Terusin sekarang atau besok ya?