One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab.102 Melepaskan semuanya



Tiga hari kemudian diadakan acara resepsi pernikahan. Banyak orang yang diundang untuk hadir di acara ini para pejabat, pengusaha, relasi bisnis, termasuk orang penting di negara ini. Serta mengundang beberapa artis besar untuk menyemarakkan acara.


Keluarga itu tidak peduli dengan semua rumor yang beredar di masyarakat karena jalan cerita hidup mereka hanya mereka yang tahu. Orang hanya menonton saja, tapi tidak tahu semua kebenarannya. Mereka hanya tahu jika seorang adik merebut suami kakaknya sendiri selama bertahun-tahun.


Pasangan pengantin yang baru menikah tiga hari yang lalu memasuki aula tempat berlangsungnya pesta pernikahan. Sorot lampu langsung mengarah ke pasangan itu. Semua orang langsung memberi jalan mereka lewat ke podium.


Suara lantunan irama gamelan mengiringi langkah mereka. Keduanya tampil serasi dengan pakaian adat Jawa serta riasan seperti putra-putri keraton. Keduanya tersenyum dengan lebar sambil sesekali saling menatap dengan penuh cinta.


Sekelompok penari daerah melakukan tarian penyambutan untuk mereka dan beberapa orang melempar bunga di sepanjang jalan yang mereka lalui.


Maulana sendiri berjalan dibelakang kedua orang tuanya bersama dengan kakek neneknya. Fadil duduk di kursi roda di bawah panggung menunggu anak dan menantunya datang. Matanya berkaca-kaca karena bahagia.


"Ayah," panggil Farida memeluk Fadil. Fadil mengeluarkan seluruh tenaganya agar bisa mengangkat tangan dan menyentuh kepala Farida.


Farida melihat itu dan tertawa tanpa suara karena terharu. Fadil menganggukkan kepalanya. Ini adalah tanda restunya atas pernikahan ini.


Kini giliran Kaisar mendekat ke arah Fadil. "Ayah, aku janji akan mencintai dan menjaga Farida dan anak-anak dengan sebaik mungkin walau itu akan mempertaruhkan nyawaku."


Fadil tersenyum sambil mengedipkan mata. Dia pun berharap Kaisar akan bisa mencintai anaknya seumur hidup. Tidak sepertinya yang hanya bisa menyakiti mendiang istri dan anaknya.


Acara resepsi pernikahan pun berlangsung dengan lancar tanpa terhalang sesuatu apapun. Semua tampak bahagia.


Setelah menggunakan adat pakaian adat Jawa, pasangan pengantin itu lalu menggunakan pakaian adat Batak sesuai dengan asal daerah Hanafi karena Farida sudah dianggap sebagai adiknya.


Keluarga besar Hanafi ikut merasa bangga dan senang karena mereka masih diakui oleh Farida sebagai bagian dari keluarga.


"Selamat ya Farida, aku ikut bahagia dengan pernikahanmu, ini," ungkap Uyun pada Farida.


"Terimakasih, Kak. Tanpamu pun aku tidak akan sekuat ini," balas Farida.


"Sekarang, aku dan Uda Erick mulai berdamai dengan takdir yang kami miliki. Rencananya kami akan mengadopsi anak," bisik Uyun. Farida melirik ke arah Erick yang sedang berbicara dengan Kaisar.


"Alhamdulillah. Namun, kenapa g mencoba memakai cara bayi tabung? Kalau iya, aku dan suamiku akan membantu biayanya."


"Kami akan mengadopsi anak dulu untuk memancing rasa sayang, terutama Uda Erick. Kalau dulu ketika merawat Maulana banyak yang membantu, kini kami sendiri yang ingin merawatnya dengan tangan kami."


"Baguslah."


Maulana yang melihat dua ibunya sedang berbincang lalu datang mendekat.


"Kalian sedang berbicara apa hayoo?" tanya Maulana.


"Lana, kau mengagetkan Ibu Uyun saja," jawab Uyun. Dia lalu menggendong Maulana.


"Sedang berbicara kapan kau akan diberi adik oleh ayah dan ibumu?"


Maulana lalu melihat ke arah Ibu dan ayahnya secara bergantian.


"Adik? Aku belum mau punya adik. Aku masih ingin memiliki ayah dan ibu sendiri saja," ujar Maulana.


"Eh!" ucap Farida dan Uyun bersama sambil saling menatap.


"Kau tidak boleh seperti itu? Punya adik itu senang lho," ujar Uyun.


"Aku tidak mau punya saudara karena nanti akan bertengkar dengannya, akan berebut ayah dan ibu," terang Maulana.


"Ada apa ini?" tanya Kaisar yang mendekat ke arah ketiganya.


"Tidak apa-apa, jadi aku bisa terus bulan madu bersama ibunya," jawab Kaisar enteng. "Lagipula Lana saja sudah cukup untuk kami. Namun, bila tambah satu anak lagi pasti akan terasa lebih ramai lagi."


"Ayah," rajuk Lana cemberut. Dia masih trauma dengan namanya saudara gara-gara Alisa.


"Tentu saja kau adalah prioritas kami, kalau kau keberatan mana ayah berani memberikan adik untukmu, tapi kalau buat adik bisa setiap hari," goda Kaisar yang mendapatkan hadiah cubitan dari Farida. Wajah wanita itu memerah karena malu.


"Jadi sudah buat adik setiap hari?" sela Erick.


"Belum, mungkin nanti malam," bisik Kaisar pada Erick yang masih bisa didengar oleh semua orang.


"Aku butuh bantuan untuk , kau tahu lah, mengamankan situasi agar terkendali," sambung Kaisar sambil mengedipkan mata.


"Memang ada yang berbahaya Ayah?" tanya Maulana khawatir.


Semuanya langsung tertawa.


Malam harinya setelah acara resepsi pernikahan selesai, kedua mempelai akhirnya berada di kamar pengantin.


Tubuh mereka saling berkaitan dan berpelukan. Tubuh mereka masih basah oleh peluh setelah melakukan kegiatan malam yang melelahkan. Kaisar benar-benar tidak memberi waktu pada Farida untuk beristirahat sedikit pun setelah lelah dengan semua rangkaian acara yang ada.


Dia sudah cukup lama bersabar untuk bisa menyatukan tubuh mereka berdua. Namun, semuanya tidak sia-sia. Semua anggota tubuhnya bergerak aktif hingga puncaknya. Tidak mengalami kendala dan hambatan. Tidak pula memalukan karena mengalami ejakulasi dini.


Kaisar menatap wanita yang memejamkan mata di dadanya. Wanita itu belum tidur, terlihat dari jari tangannya yang masih bergerak mengusap lengan Kaisar.


"Sayang, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" Kaisar merapikan anakan rambut Farida yang menutupi parasnya yang cantik.


"Hmm, tanya apa? Aku sudah mengantuk," ujar Farida.


"Apa perasaanmu sekarang?"


"Senang, bahagia dan tenang," jawab Farida, lebih masuk ke dalam pelukan Kaisar.


"Apakah rasa bencimu pada Ira dan Cantika masih ada?"


Farida langsung membuka matanya, lalu membuat jarak antar keduanya untuk bisa menatap ke arah suaminya. Satu tangannya yang lain menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya.


"Kenapa kau tanya seperti itu?" ujarnya penuh selidik.


"Apa kau masih ingin berhubungan dengan Cantika?" tuduhnya cemburu.


Kaisar hendak memeluk kembali Farida, tapi wanita itu menahannya. Dia masih terluka jika membahas tentang Cantika dan Ira.


"Kau cemburu?" Sebuah senyum terbit di bibir Kaisar.


"Tidak lucu," ujar Farida menyibak selimut hendak bangkit. Namun, tangan Kaisar langsung menarik tangan Farida hingga membuatnya terjatuh kembali ke pelukan Kaisar.


"Kau benar-benar cemburu, aku menyukainya. Itu artinya kau mencintaiku."


"Kau benci dengan kedua nama itu dan aku tidak ingin mendengar dan melihat apapun yang berhubungan dengan mereka," tegas Farida penuh luka.


"Kau merusak hari bahagia kita dengan membahas hal itu," imbuh Farida.


"Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kita, tapi aku ingin bertanya tentang satu hal padamu. Hal yang membuatku heran karena kau melepaskan mereka dengan begitu mudah setelah apa yang mereka lakukan padamu," terang Kaisar dengan wajah serius.