One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 96 Rencana Gila



Emilio menahan nafasnya. Dia tidak tahu harus bercerita apa pada istrinya. Oleh karena dia tidak yakin kalau Rose tahu mungkin akan melarangnya bekerja.


"Sayang, katakan apa pekerjaanmu?"


"Seperti dahulu ketika bersama dengan kakakmu, hanya saja aku bekerja di bawah pimpinan militer, mantan komandanku dulu sewaktu di kesatuan."


Rose tampak bingung, butuh penjelasan lebih.


"Kau khawatir kalau aku tidak bisa menafkahimu?" balik Emilio menggoda istrinya.


"Uangku tidak banyak, tapi di kartu ATM yang kuberikan ada uang satu milyar lebih. Bisa untuk membeli keperluan mu. Mungkin uang sebesar itu tidak berarti banyak untukmu, tapi hanya itu harta yang ku punya dan sudah kuserahkan semua hanya untukmu."


"Aku tidak peduli dengan uang itu. Hanya saja keselamatanmu."


"Aku akan menjaga diriku dengan baik, demi dirimu dan calon anak kita."


"Kenapa instingku mengatakan kau sedang menutupi suatu hal padaku?"


"Apa yang kututupi, semua aku perlihatkan padamu, kau bisa melihatnya," ledek Emilio.


Wajah Rose memerah.


"Hmm kita bahkan lupa meneruskan inu ... inu...," goda Emilio.


"Aku takut," jawab Rose.


"Ish, sudah berkali-kali masih saja takut."


" Ii...ih, bukan itu. Aku takut anak kita akan tersakiti di dalam sana."


"Tidak akan, janji aku akan pelan-pelan. Aku ingin berkenalan dengannya," ujar Emilio merebahkan Rose kembali ke tempat tidur lalu membuang selimut yang menutupi tubuhnya.


***


Pagi harinya, Farida bangun seperti biasa. Dia langsung mandi, sholat dan keluar untuk membuat sarapan serta membersihkan rumah.


Ketika pintu kamar dia buka, dia terpaku melihat semua sudah bersih serta Kaisar yang memakai celemek dan memegang alat penyedot debu.


"Kau sudah bangun?"


Farida memutar bola matanya malas, pertanyaan yang tidak perlu dijawab, batinnya. Dia berjalan ke arah dapur dan Kaisar mengikutinya.


"Aku ingin membuat sarapan, tapi kau tahu aku tidak bisa membuatnya kan? Jadi aku menunggumu."


Farida mulai memasak air di teko.


"Kopi itu enak sekali diminum di pagi hari. Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan dan suka."


Setelah meracik minuman untuk semua orang, Farida melihat isi lemari pendingin miliknya.


"Aku rindu nasi goreng buatanmu, itu sangat lezat. Telor ceplok setengah matang itu menambah nilai perfeknya."


Farida mengangkat wajah dan menatap horor ke arah Kaisar.


"Tapi semua yang kau masak aku suka, opor, ayam goreng, sayur asam, ya, aku paling suka itu."


Farida mengambil bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Hal itu membuat Kaisar tersenyum di belakang wanita itu.


Bagaimana pun dia tahu jika Farida sebenarnya mencintainya. Hanya saja luka yang dia buat membuat Farida masih enggan untuk menerimanya kembali.


Kaisar langsung mengeluarkan ikat rambut andalannya. Dia maju dan memegang rambut Farida untuk diikat.


"Lepaskan!" ujar Farida tidak suka.


"Rambut ini akan menyulitkanmu ketika memasak. Lebih mudah ketika diikat," jawab Kaisar.


"Aku akan membantu agar tidak menyusahkan hidupmu, bahkan aku rela jadi budakmu asal bisa bersamamu," ungkap Kaisar pelan. Akh, selama ini dia tidak pernah berkata manis pada wanita. Hanya pada Farida dia melakukan ini.


"Keras kepala!" omel Farida.


"Kau yang akan melembutkan aku," jawab Kaisar memilih bersandar di sebelah Farida. Dia mengambil secangkir kopi lalu menyeruputnya.


"Ini impianku. Hidup bersama dengan wanita yang kucintai, menunggunya masak di dapur sambil mengobrol santai dengan segelas kopi manis."


Dulu Kaisar menyukai kopi pahit, tapi setelah bersama Farida kini dia menyukai kopi manis buatan wanita itu. Hidupnya yang pahit akan terasa manis bila bersama dengannya.


Farida diam saja ketika Kaisar bercerita tentang masa kecilnya dengan Ibu tirinya Dara. Lebih fokus dengan masakannya. Pria itu bercerita jika dari Dara lah dia bisa melihat bayangan wanita yang dia inginkan. Wanita rumahan yang selalu ada untuk suaminya. Tersenyum ketika ayahnya pulang sambil membawakan secangkir kopi. Menemani ayahnya makan dan menjadi sahabat yang baik untuk ayahnya.


"Kenapa kau tidak nikahi Rose saja, bukankah dia anak dari Mama Dara. Selain itu dia sangat mencintaimu. Sifat ibunya pasti akan menurun padanya."


Farida memasukkan bumbu ke wajan. Seketika asap masakan naik dan mengenai rambutnya. Kaisar langsung mengikat rambut Farida.


"Kai!"


"Aku sangat suka ketika melakukan ini. Kau terlihat cantik dan alami dengan posisi seperti ini," ujar Kaisar.


"Mulutmu seperti madu tapi sangat beracun."


"Mana ada madu yang beracun, yang ada madu memberikan rasa manis."


Untuk sesaat mereka terdiam, tidak mengatakan apapun. Akhirnya masakan telah matang. Farida tinggal membantu ayahni membersihkan tubuh. Di saat dia meletakkan sarapan dan juga susu serta teh hangat miliknya ke atas meja, Kaisar memegang tangannya.


"Ida, aku ingin menikah denganmu," ujar Kaisar. Farida menghempaskan tangan Kaisar dan berjalan menjauhi pria itu.


"Ida, bukankah kita sudah merencanakan ini sebelumnya. Kau mau menerimaku ketika aku sudah resmi bercerai."


"Sebelum kau meninggalkan kami!" ulang Farida berkali-kali.


"Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi. Kemarin aku sudah menyerahkan Alisa pada Cantika."


"Itu tidak mempengaruhi apapun!" ujar Farida.


"Semua sudah aku siapkan di Indonesia, acara lamaran dan pernikahan, bahkan aku sudah meminta ijin Kakakmu untuk membawamu kembali setelah kau setuju untuk menerimaku kembali."


"Pernikahan bukan soal permainan yang kau mainkan ketika suka dan kau tinggalkan ketika ada yang lain dan terlihat lebih menarik."


"Yes, I know. Karena itu, aku yakin hanya kau yang bisa menemaniku hingga kita tua dan ajal memisahkan kita nanti."


"Maaf, aku tidak menerimamu lagi!" ujar Farida. "Carilah wanita lain karena masih banyak wanita yang akan menerimamu untuk menjadi suaminya."


Kaisar mulai merasa kesal. Dia lalu memeluk pinggang Farida dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain menyentuh dada Farida. Menatapnya dalam.


"Katakan, kau tidak berdebar keras ketika bersamaku?" cecar Kaisar.


Farida membuang wajahnya ke samping. Kaisar lalu mengambil wajah kecil Farida dengan dua jari, menyatukan dahi mereka


"Katakan kau tidak mencintaiku?"


Farida menutup matanya. "Kai, aku...."


"Apa kau rela aku dimiliki orang lain? Kalau aku sampai mati pun tidak akan pernah rela kau didekati pria manapun," lanjut Kaisar tegas.


"Nanti malam aku sudah membuat pesta di hotel untuk acara lamaran resmi dan pertunangan kita. Sedangkan tiga hari lagi tinggal acara pernikahan kita di Bali. Seperti yang kau inginkan, aku mengundang banyak orang untuk datang. Aku ingin memberi tahu semua orang bahwa aku mencintaimu."


Mata Farida membelalak lebar.


"Kai, kau gila, merencanakan semuanya tanpa bertanya dulu padaku!" seru Farida tertahan, tidak ingin pertengkaran mereka terdengar oleh ayahnya.


"Aku yakin kau akan setuju," jawab Kai berbisik di telinga Farida.