
Kaisar melenggang masuk ke dalam ruang perawatan Rose setelah wanita itu selesai berpakaian. Dia lantas mengambil handphone yang sedari tadi menyala untuk merekam aktivitas Rose dan Emilio.
"Kai, apa maksudnya ini?" tanya Rose bingung. Dia melihat ke arah Emilio yang sepertinya juga sama bingung dengan dirinya.
Kaisar masih terdiam, tapi jari tangannya bergerak di atas handphonenya. Hal itu membuat Rose ketakutan. Dia langsung merebut handphone itu.
"Apa ini? Kau merekam kegiatanku sedari tadi?" bentak Rose.
"Biar Mom, Dad dan Om Kris yang akan menentukan kelanjutannya," ujar Kaisar tenang.
"Kau menjebak ku, Kai?" Dada Rose naik turun menahan amarah. Kedua matanya memerah.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya seorang saudara lakukan. Kau bersama dengan dia dalam kamar mandi dan dengan keadaan basah. Orang bodoh pun tahu apa yang telah kalian lakukan. Aku hanya mengambil bukti untuk kuberikan pada orang tua kita."
Rose melempar handphone itu keras hingga pecah.
"Kau licik ...." Rose berjalan mendekat ke arah Kaisar dan memukulnya. Pria itu hanya terdiam.
Emilio sendiri berjongkok lemas, menatap semua yang terjadi. Dia tidak tahu harus bagaimana mengatasi semuanya. Bosnya pintar sekali menjebaknya.
Kaisar sendiri tersenyum licik sangat tipis sehingga nyaris tidak terlihat. Dari awal, dia memang merencanakan itu dengan anak buahnya yang lain. Hal pertama yang dia lakukan adalah menaburkan bedak gatal ke jaket yang biasa dipakai oleh Emilio sehingga pria itu merasa tersiksa dengan rasa gatal itu.
Beberapa orang melakukan cara agar semua toilet umum di lantai itu penuh ketika Emilio membutuhkannya untuk mandi sehingga dia harus ke kamar mandi yang Rose gunakan.
Ide itu keluar dari mulut Boris yang selalu menemani Emilio ketika menunggui Rose. Boris juga yang merusak kunci pintu sehingga pintu bisa terbuka kapan saja.
Bagian paling pentingnya adalah membuat perut Rose mulas sehingga dia harus masuk ke kamar mandi di saat Emilio mandi. Semua berjalan secara mulus. Kali ini Emilio tidak bisa mengelak lagi untuk menyetujui permintaannya untuk menemani Rose seumur hidupnya.
Beberapa jam kemudian, Alehandro, Dara, Krish dan Sheila sudah berada di tempat itu. Rose bersimpuh menangis di pangkuan Dara. Sedangkan Emilio hanya bersimpuh, terdiam menunduk, di depan semua orang.
Kris menghela nafasnya. Bayangannya adalah Rose menikah dengan pria hebat dari keluarga kaya raya. Namun, yang terjadi berbanding terbalik dari apa yang dia pikirkan. Selama ini, Kris membatasi pergaulan Rose dengan kalangan orang elit, nyatanya dia hanya mendapatkan pengawal pribadi keluarga. Tidak jauh dari profesinya dulu ketika bersama dengan Dara.
Apakah ini karma yang harus diterima oleh Rose? Yang jelas, Kris tidak akan seegois almarhum kakeknya yang meletakkan kekayaan calon menantunya sebagai hal yang utama. Kali ini dia akan berusaha bijak walaupun dia tidak rela anak yang dia banggakan harus menikahi pegawai rendahan. Akh!
"Kesalahan yang kau lakukan harus kau pertanggung jawabkan, Rose."
"Tapi, Bu, ini tidak seperti yang kalian kira," ujar Rose.
"Semua sudah terlihat jelas, apa lagi yang harus perlu dijelaskan. Sekarang kau harus menikah dengan Emilio sebelum kau terlanjut hamil." Dara menyeka air matanya. "Kesalahan yang pernah Mom dan Ayahmu lakukan jangan kau lakukan lagi, Rose. Cukup kami yang menanggungnya dan kau tahu kan bagaimana hidup kita dahulu."
Rose tidak bisa mengatakan apapun. Dia tidak sanggup melihat ibunya menangis karena dirinya. Dia harus menerima takdirnya kali ini. Cintanya pada Kaisar akan tetap ada walau apa yang akan terjadi.
"Mom, Dad, aku mau menjemput Alisa di sekolah," pamit Kaisar.
"Masalah pernikahan mereka aku akan menghubungi Kane agar membantu Emilio melamar Rose."
"Kane?" ulang Kris.
"Kane Yang," Kaisar menekankan nama Yang. "dia adalah ipar dari Emilio. Sedangkan Linda adalah ibu tiri Emilio."
"Jangan katakan jadi dia adalah kakak dari Honey Dee?" tanya Dara. Dia mengenal ibu dari Dee.
Kaisar mengangguk.
Dara melihat ke arah Alehandro, tersenyum. Begitu pula dengan Kris, dia menghela nafas lega. Setidaknya nama Kane Yang bisa menutup jatidiri Emilio sehingga tidak terlihat begitu buruk di depan para relasinya.
"Baiklah, aku menerima pernikahan ini. Aku harap secepatnya kau lamar anakku ini!" tegas Kris.
Kaisar tersenyum senang ketika Rose menatap sinis padanya.
"Aku akan membantumu mengurus pernikahan ini. Aku akan mendukungmu sebagai pihak mempelai pria." ujar Kaisar menepuk pundak Emilio. Ayo cepat bangun, apa kau tidak lelah menekuk kaki seperti itu sedari tadi?"
Emilio menatap ke arah Kaisar. Seperti menahan rasa marah.
Setelah rapat keluarga di rumah sakit itu, mereka akhirnya memutuskan untuk langsung membawa Rose pulang ke rumah.
Lamaran akan dilakukan besok karena Dara tidak ingin menunggu waktu lebih lama lagi. Dia takut Rose menggunakan seribu cara untuk kabur dari acara lamaran atau membatalkan rencana pernikahan secara sepihak.
Kaisar sendiri menggunakan trik pulang ke rumahnya agar Rose tidak lagi mencari keberadaannya.
Namun, kali ini dia langsung pergi ke sekolah Alisa, tidak menemani Rose pulang ke rumah. Itu sudah bukan tanggungjawabnya lagi. Namun, tanggung jawab Emilio.
Kaisar melajukan kendaraannya, pergi ke sekolah Alisa.
Sesampainya di halaman sekolah Alisa. Dia melihat para ibu-ibu sedang menunggu anaknya keluar dari kelas. Kaisar segera mendekat ke pintu kelas. Melihat Alisa yang sedang bernyanyi sayonara.
Buat apa susah ... buat apa susah
Susah itu tak gunanya.
Bait di lagu itu membuat dia sadar untuk bangkit dari kehidupannya yang tidak punya arah.
Alisa terlihat tersenyum melambaikan tangannya. Kaisar membalasnya. Akhirnya anak-anak berpamitan pada guru mereka.
"Terima kasih Bu guru karena telah sabar mengajari anak saya," ucap Kaisar.
"Sama-sama, Pak. Alisa anak yang pandai di kelas. Dia selalu mengerjakan semua tugas sekolah dengan baik. Mungkin menuruni bakat dari ayahnya."
Kaisar tersenyum.
"Saya mau bertanya tentang murid yang bernama Maulana, Bu," tanya Kaisar to the points.
"Dia nggak berangkat, Yah. Sakit, ya, Bu guru," jawab Alisa.
Dahi Kaisar berkerut. "Sakit?" ulang Kaisar.
"Ya, Ibunya tadi menelfon memberitahu jika Maulana sedang sakit dan baru saja kembali dari rumah sakit," terang Bu Guru.
Wajah Kaisar tampak menegang.
"Apakah Anda mengenal Maulana juga?" tanya Bu Guru.
"Saya berhubungan baik dengan keluarganya."
"Keluarga Maulana memang orang yang hangat, terutama Tantenya. Dia yang sering mengantar Maulana ke sekolah ketimbang Ayah dan Ibunya."
"Oh, ya? Jadi Maulana seringnya bersama dengan Tantenya?"
"Ya, Tantenya juga baik dan cantik," ujar Alisa untuk kesekian kali. Dia sepertinya mempunya kesan yang baik dengan wanita itu.
"Ya betul, Tante Maulana itu ramah dan cantik."
"Ayah, ayo kita tengok Maulana, aku ingin lihat dia," ujar Alisa.
"Bukannya katamu dia adalah sainganmu?"
"Hmm, aku hanya ingin tanya apa dia mau ikut lomba? Kalau tidak kan, sudah jelas yang menang pasti aku," ujar Alisa percaya diri.
"Maaf Bu guru, Alisa itu...."
"Tidak apa-apa, Pak. Itu biasa dilakukan anak asal mereka dalam batas wajar."
Kali ini Kaisar akan mulai menguak kebenaran semuanya. Alisa yang akan menjadi senjatanya untuk mendekati anak itu.