
Airlangga ketakutan dengan semua pertanyaan yang Kaisar lontarkan. Tenggorokannya terasa kering seketika. Kini dia mulai terjepit oleh masalah ini sendiri.
Semua gara-gara Kakaknya yang licik. Entah mengapa dia merencanakan ini semuanya. Sampai sekarang Airlangga tidak tahu alasannya. Bodohnya lagi kenapa dia malah menolongnya? Kini dia sendiri yang masuk ke dalam masalah berat ini, menjadi korbannya.
Kini setelah Kaisar tahu apa yang akan dilakukannya? Apakah dia akan bertanggungjawab? Tidak... tidak... dia tidak ingin menikah dengan pria menyeramkan ini.
"Katakan! Dimana kau sembunyikan wanita yang telah tidur bersamaku itu?" lanjut Kaisar.
Airlangga mengerjap tidak percaya dengan pertanyaan Kaisar. Pria ini masih belum tahu jika dia adalah wanita.
"Wa-wanita yang ma-mana?" tanyanya gugup karena pikirannya sudah tidak menentu.
"Jangan berlagak bodoh seolah kau tidak tahu apa yang terjadi? Kau kan yang merencanakan mencampuri minumanku dengan obat dan membawaku ke kamar lalu menjebak ku dengan seorang wanita?"
Untuk sesaat otak Airlangga terasa kosong.
Jadi Kaisar mengira dia dalang semua ini. Airlangga menghela nafasnya panjang. Dia tersenyum kecut.
"Aku tahu kau dijebak oleh seseorang dan aku membawamu pergi dari sana. Jika aku bermaksud buruk padamu, mungkin aku telah memfoto perbuatanmu dengan wanita itu, nyatanya tidak kan? Karena aku tidak merencakan apapun."
Jawab Airlangga dengan meyakinkan.
Kaisar menyipitkan mata mencoba mencari kebenaran dari kata-kata yang diucapkan Airlangga. "Jika begitu katakan dimana wanita itu? Aku tahu dia pergi ke apartemenmu."
"Wanita itu tidak ingin menemuimu. Katanya lupakan semuanya, dia telah memaafkanmu dan ingin melupakan semuanya."
Kaisar tertawa keras. Tiba-tiba dia mencekik leher lembut Airlangga. Menatap kedua matanya dengan penuh kemarahan.
"Kau ingin bermain-main denganku?"
Airlangga terdiam, membiarkan Kaisar mencekiknya. Wajahnya sampai membiru.
"Bagiku kematian lebih baik. Aku tidak akan takut padamu," ujar Airlangga dengan suara tercekat.
Kaisar akhirnya melepaskan pegangannya di leher Airlangga. Dia lalu menendang jok depan mobilnya dengan keras.
Di saat yang sama mobil telah berada di kawasan rumah keluarga Fadil. Setelah mobil berhenti, Airlangga buru-buru keluar dari mobil itu dan berlari cepat masuk ke dalam rumah. Di pintu dia tidak sengaja menabrak Cantika yang hendak keluar menyambut Kaisar.
Semenjak kejadian itu, Airlangga seperti menghindari Kaisar. Dia takut jika Kaisar tahu kebenarannya. Untung saja pria itu hanya tahu jika wanita yang telah bersamanya itu adalah teman Airlangga bukan Airlangga sendiri.
Satu bulan kemudian, persiapan pernikahan sudah siap 100 persen tinggal menunggu tiga hari lagi menuju akad.
Semua ruangan di rumah ini telah dihias dengan sangat cantik dan indah menyambut hari itu. Rencananya malam ini akan diadakan pengajian.
Sudah banyak orang berkumpul di ruang tengah menunggu calon mempelai wanita datang untuk diberi wejangan oleh ustadz yang sengaja di panggil untuk mengisi acara pengajian ini
Airlangga ikut berdiri bersama dengan Ayah dan ibu tirinya menyambut kedatangan para tamu yang baru datang.
"Angga, panggilkan Cantika untuk turun ke bawah," perintah Fadil.
"Baik, Yah." Airlangga langsung pergi naik ke atas mencari kakaknya. Dia mengetuk pintu kamar sebelum masuk ke dalam.
"Kak," panggil Airlangga. Pintu terbuka, yang keluar ternyata adalah MUA.
"Mencari Nona Cantika ya, Mas. Tadi ada teman prianya datang dan Non Cantika pergi keluar kamar. Entah mereka kemana. Saya tahunya ke arah sana," tunjuk MUA itu ke lorong ruangan.
"Oh ya makasih, Bu."
"Sama-sama, Mas."
Walau dalam hatinya ragu kakaknya naik ke atas. Untuk apa kakaknya ke sana?
Dia melangkah naik ke atas tangga. Ternyata pintu menuju ke roof top telah terbuka, berarti memang seseorang sedang berada di sana.
Airlangga lantas segera meneruskan langkahnya. Namun, belum juga dia sampai dia mendengar suara Cantika yang menangis. Dia mengendap sampai ke pintu melihat apa yang terjadi.
"Cantik, tolong batalkan pernikahan ini," ucap Bagas yang Airlangga tahu dia adalah bawahan ayahnya.
"Kau gila! Kaisar adalah mimpiku. Semua yang ada pada dirinya adalah impian semua wanita. Dia tampan kaya dan berkuasa serta punya masa depan bagus. Keluarganya masuk dalam jajaran orang terkaya di negeri ini. Apakah aku harus melepaskan dirinya untuk bisa hidup bersamamu yang hanya seorang bawahan ayahku? Kau mimpi?"
"Aku tahu aku tidak layak disandingkan dengan Kaisar, hanya saja kau sedang mengandung anakku," imbuh Bagas.
Suasana hening untuk beberapa saat.
"Selain itu, kau juga mencintaiku?"
Terdengar tawa sumbang dari Cantika. "Cinta? Apa kita bisa makan dengan hanya bermodalkan cinta?"
"Aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu ke depannya."
Airlangga yang mendengarnya lalu melangkah mundur ke belakang. Tidak ingin mencampuri urusan kakaknya lebih dalam lagi. Walah begitu, dia terkejut ternyata kakaknya telah hamil anak Bagas.
Oleh karena kurang hati-hati kakinya terselip kaki yang lain hingga dia hampir jatuh, namun tangannya dengan sigap memegang pegangan tangga. Hanya saja langkahnya terdengar oleh Bagas dan Cantika.
Tidak ada waktu lagi bagi Airlangga dengan cepat dia berlari turun ke bawah di saat itu, Cantika dan Bagas mendekati tangga dan melihat Airlangga yang turun ke bawah.
"Aduh bagaimana ini?" kata Cantika panik. Bagas malah terlihat tenang. Akan sangat bagus jika Airlangga melaporkan hal ini ke ayahnya karena dia bisa bertanggungjawab dengan kehamilan Cantika.
"Biarkan saja," ujar Bagas.
"Kau gila!" seru Cantika. Dia lalu langsung hendak turun ke bawah namun Bagas menghalangi. Dia menggendong Cantika.
"Hati-hati, kau sedang mengandung anakku."
Cantika memberontak tapi tidak membuat Bagas goyah. Pria itu malah tersenyum.
"Kau... bagaimana jika ada yang melihatmu, turunkan aku!"
"Bagas! Jika kau tidak menurunkan aku, aku akan menggugurkan kandungan ku!" ancam Cantika.
Mendengar hal itu, membuat Bagas menghentikan langkahnya. Dengan gerakan pelan dia menurunkan Cantika. Setelah itu mereka turun ke bawah untuk mencari keberadaan Airlangga.
"Anak sialan, semua yang dia lakukan selalu saja menyulitkan aku!" rutuk Cantika sepanjang jalan.
"Mengapa dia datang jika hanya membuat hidup keluarga ku seperti di neraka? Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan mimpiku dan ibu. Aku harus menjadi Nyonya Gonzales," gumamnya dalam hati.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pemandangan.
Deg!
Cantika melihat Airlangga ada di dekat ayahnya. Berbicara berbisik. Rasa panik dan khawatir mulai menggelayuti diri Cantika.
"Apakah Airlangga sedang melaporkan semua ini pada Ayah? Kalau iya, mati aku!"
Cantika melihat ayahnya menatap tajam ke arahnya.