
*Katakan Ibu, kau jangan diam saja!" bentak Cantika putus asa dan frustasi. Ira hanya tergugu tidak mampu menjawab pertanyaan dari Cantika.
"Sial!" rutuk Cantika lagi. Dadanya sudah naik turun karena menahan beban berat di pundaknya. Dia lalu pergi meninggalkan tempat itu. Di lorong, dia sempat menabrak Kaisar.
"Cantika, kau kenapa?" tanya Kaisar melihat wajah dan penampilan Cantika yang kusut di tambah dengan jejak air mata yang membasahi wajah dan sebagain rambut depannya, itu tidak seperti biasanya.
Kaisar mengira telah terjadi sesuatu pada Fadil. Namun, bukannya menjawab Cantika malah menatapnya sinis.
Kaisar mengendikkan bahunya, lalu berjalan ke arah dimana Farida berada. Ajudan yang dia percaya untuk mengikuti Farida kini menghampiri.
"Ada apa?"
"Saya tidak tahu persis, Tuan, hanya saja tadi ada pertengkaran antara Nona Farida bertengkar dengan Nyonya Ira dan Nyonya Cantika. Setelah itu, Nyonya Farida masuk tinggal Nyonya Ira dan Nyonya Cantika yang terlihat berdebat."
Kaisar menghentikan langkahnya. Keningnya nampak berkerut.
"Dasar kau anak Jelong bisanya menyusahkan orang saja! Kau mau cari mati denganku. Hah!" Terdengar teriakan keras dari arah ruangan Fadil.
"Akh!'' Suara Farida terdengar. Kaisar langsung berlari masuk ke dalam.
Untung saja dia bergerak dengan cepat. Jika tidak, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya itu. Farida tampak sudah terjatuh di lantai dan Ira tampak memegang sebuah pisau lipat. Ira hendak menghunuskan pisau itu ke tubuh Farida ketika Kaisar memegang pergelangan tangan wanita itu.
Fadil yang tidak bisa berbuat apapun bisa bernafas lega ketika melihat Kaisar mencegah sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.
Farida yang terlihat shock menutup matanya erat. Wajahnya nampak pucat pasi. Beberapa detik kemudian kedua matanya dibuka ketika tidak merasakan sakit.
Dia melihat Kaisar berdiri di depannya menatap tajam ke arah Ira. Pisau terjatuh karena kerasnya tekanan di pergelangan tangan Ira.
"Aku kira hanya bicaramu yang sulit untuk diatur ternyata kau memang orang yang berlebihan dalam segala hal. Seperti ini! Berlebihan untuk tidak memakai otakmu!" ujarnya geram.
Ira tertawa keras dengan tangan masih digenggam erat oleh Kaisar. "Kau ingin jadi pahlawan kesiangan? Atau kau hanya ingin berbuat drama disini!" ujar Ira.
"Kau ratu dramanya!" Kaisar lalu menatap ke arah Bima. "Singkirkan dia dan pastikan dia jauh dari keluarga dan orang terdekatku!"
"Keluarga? Aku keluargamu bukan wanita ini. Dia hanya wanita jelong yang jahat dan penuh tipu daya."
Kaisar memberi isyarat dengan matanya. Bima lalu menarik paksa Ira menjauh dari tempat itu.
"Aku berjanji akan membalasmu, Airlangga, tidak akan ku biarkan kau hidup tenang bersama dengan anak keparatmu itu!" teriaknya ketika berada di luar ruangan.
Kaisar lalu membantu Farida berdiri. Lalu memeriksa memastikan orang yang dia cintai tidak terluka.
"Kau tidak apa-apa kan?'' tanya Kaisar. Farida menganggukkan kepalanya. Tubuhnya masih bergetar karena shock. Dia menatap ayahnya yang melihatnya dengan tatapan khawatir. Tatapan yang tidak pernah dia peroleh selama ini.
"Aku baik-baik saja," kata Farida menenangkan semua orang yang ada di sana. Terutama ayahnya secara tidak langsung.
Kaisar lalu memeluk Farida. "Aku begitu khawatir denganmu. Mulai sekarang jangan pernah jauh-jauh dariku!"
"Ish, lebay!" ujar Farida berusaha melepaskan diri. Walau begitu dia merasa terharu ada orang yang peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Sedangkan di tempat lain, Bagas mengikuti arah pergi Cantika. Dia lalu memegang tangan wanita itu ketika hendak masuk ke mobilnya. Cantika terkejut. Namun, Bagas mendorongnya masuk ke dalam sehingga dia yang berada di posisi
"Bagas! Apa yang kau lakukan?" ujar Cantika terkejut. Begitu banyak masalah hari ini yang membuatnya down dan kini Bagas malah mau menambah daftar masalahnya lagi.
"Kita harus bicara!"
"Tidak pernah ada waktu yang tepat jika kita tidak mencobanya," ujar Bagas mulai memutar kunci kontak.
"Aku sedang ingin sendiri, tinggalkan aku!"
Bagas melirik ke arah Cantika. "Kau butuh seseorang untuk mendengarkanmu," tandasnya membuat Cantika pasrah. Dia pun sedang tidak punya daya dan upaya untuk melawan pria itu.
Mobil mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
"Kau mau membawaku kemana?" tanya Cantika.
Bagas hanya terdiam, tapi Cantika segera tahu arah dan tujuan Bagas membawanya pergi.
Mereka akhirnya sampai ke sebuah apartemen biasa. Cantika menatap ke arah Bagas.
"Kenapa kau membawaku lagi kemari?"!tanyanya pelan sambil memainkan jarinya.
"Karena kau sedang butuh ketenangan dan suasana berbeda dari keseharian mu." Bagas menatap ke arah Cantika.
"Kau tampak kacau sekali," ujar pria itu.
"Bukan berarti kau bisa membawaku seenaknya saja."
"Kau tahu, hanya tempat ini yang bisa membuat kita rileks berbicara seperti dulu."
"Bagas, sekarang semua sudah berbeda."
"Aku tahu," ujar pria itu. "Tapi cintaku padamu masih tetap sama."
Cantika tertegun sejenak. Rasa rindu dicinta membuat dia membiarkan Bagas membawanya pergi ke apartemen lama mereka. Tempat mereka memadu kasih dulu selama bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang tahu.
Cantika masuk ke dalam apartemen itu. Terlihat masih sama suasananya walau enam tahun telah berlalu. Tidak ada yang berbeda. Semua di tata sesuai dengan konsep yang dia inginkan dulu.
Cantika langsung menuju ke arah jendela yang bersebelahan dengan sofa besar dan panjang milik mereka. Membuka tirainya.
Pemandangan yang dia rindukan selama ini ada di depan matanya. Di saat yang sama sebuah tangan masuk ke pinggangnya dan memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Bagas menghirup aroma Cantika. Sesaat Cantika terbuai.
Terlalu lama dia tidak mengenal sentuhan pria dan terlalu lama juga dia kesepian. Kaisar menghancurkan hidupnya secara perlahan dengan sikap dinginnya.
Bagas membalikkan tubuh Cantika, lalu mulai mencium bibir merah wanita itu. Awalnya Cantika terdiam untuk sesaat karena setelahnya dia malah mengalungkan tangan ke leher Bagas. Membalas ciuman itu.
Mereka seperti kuda liar dipadang rumput, melepaskan semua kerinduan yang tersimpan, kepenatan dan masalah dalam hidup. Mereka lupa siapa mereka saat ini. Hingga saat Bagas ingin melepaskan penghalang terakhir Cantika wanita itu tiba-tiba melihat sosok Farida yang tertawa mengejek padanya.
"Kau lihat, siapa yang ****** di sini? Kau!"
Ucapan Farida itu langsung masuk ke hatinya membuat dia langsung duduk dan menatap kosong ke depan.
"Bre$$3k kau!" teriak Cantika sambil menutup telinga dan memasukkan kepalanya diantara dua kakinya yang ditekuk. Cantika lalu menangis keras. Dia depresi berat untuk saat ini.
"Ada apa?'' tanya Bagas panik dan khawatir. Dia mau memeluk Cantika, tapi wanita itu menyingkirkannya. "Jangan sentuh aku!"