One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 36



Tubuh Maulana mendadak panas tinggi disertai dengan diare akut. Itu membuat seluruh anggota keluarga di rumah besar milik Uda Hanafi panik. Mereka langsung membawa Maulana pergi ke rumah sakit terdekat.


"Hati-hati Dokter," ucap Farida ketika jarum infus yang besar hendak masuk ke kulit halus dan tipis milik Maulana.


Terdengar desisan kesakitan dari Maulana membuat Farida tambah panik.


"Bisakah lebih pelan sedikit," ujar Farida kesal.


"Ibu, jika Anda terus saja mengkritik lebih baik menunggu diluar saja," kata Co.ast yang sedang berusaha memasang infus ditubuh Maulana.


"Kau itu menyakiti anakku," ujar Farida naik pitam. "Apa kau sedang menjadikan anakku sebagai bahan belajar dan percobaan?" tuduh Farida.


Uyun memeluk bahu Farida. "Sabar Farida, mereka sedang melakukan yang terbaik untuk Maulana.


"Tapi mereka mencoba menyakitinya," ujar Farida, seolah ingin melindungi anak itu.


Hanafi yang melihat membalikkan tubuh Farida dan memeluknya. "Kau tenanglah, mereka akan melakukan yang terbaik untuknya."


"Tapi ...."


Hanafi menganggukkan kepala. "Sebaiknya kita keluar jika tidak, Maulana terlambat mendapatkan pertolongan karena ulah konyolmu."


"Ulah konyol?"


"Ya, ulah konyol seorang Ibu," bisik Hanafi.


Farida menyeka air matanya dan pergi keluar dari ruangan itu. Hanafi membawanya ke sebuah kursi panjang dan duduk saling bersebelahan. Wanita itu masih bersandar di pelukan Hanafi.


Di sudut yang lain dari rumah sakit itu, Kaisar baru saja keluar dari rumah sakit untuk makan dan berjalan kembali ke ruang perawatan Rose.


Dia merasa tenang karena Rose sudah mulai mau makan kembali setelah dia bujuk. Hanya saja belum bisa dia tinggalkan sepenuhnya sebelum kondisi tubuhnya stabil.


"Bagaimana dengan kondisi kantor tadi, Betty?" tanya Kaisar pada Betty melalui sambungan telepon.


Dia selalu memantau keadaan perusahaan dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan walau dalam posisi berada di rumah sakit. Ada ribuan karyawan yang menanggungkan hidup mereka padanya sehingga dia tidak bisa begitu saja melalaikan perusahaan.


"Okey, kau bisa hubungi Pak Jhonny untuk menemui relasi dari Jepang itu. Dia tahu apa yang harus dilakukan dan jangan lupa soal rapat untuk besok, kau ...." Langkah kaki Kaisar terhenti ketika melihat Farida duduk dipeluk seorang pria.


Tangannya tiba-tiba mengepal dengan keras. Wajahnya menegang.


"Aku akan menghubungimu nanti," kata Kaisar pada Betty sebelum mematikan panggilan telepon itu.


Dia lantas berjalan mendekat ke arah Farida. "Farida ...." panggil Kaisar.


Deg.


Merasa namanya disebut Farida menghentikan tangisnya. Dia mengerutkan dahinya merasa sangat mengenal suara itu.


"Tuan Kaisar," sapa Hanafi dengan ramah.


Farida langsung menyeka air matanya. Namun, jejak basah itu tetap ada di mata sembabnya. Dia lantas melepaskan diri dari pelukan Hanafi dan menoleh ke arah Kaisar.


Kaisar sendiri seperti tertegun ketika melihatnya. Fokus menatapnya.


"Anda di sini?" tanya Hanafi lagi.


"Eh, iya, adikku sedang sakit dan aku menunggunya." Kaisar memiringkan kepalanya. "Kalian sendiri sedang apa di sini?"


"Ehm, anak dari saudara kami sedang sakit di dalam sana."


"Anak saudara, bukan anakmu, ehm maksudku kau terlihat seperti sedang sedih sekali?" ujar Kaisar tersenyum penuh misteri.


Pertanyaannya pria itu membuat Farida sedikit panik. Namun, Hanafi memegang tangannya dengan erat. Hal itu tidak luput dari pengamatan Kaisar.


"Adikku ini belum menikah. Masih jomblo. Dia sangat mencintai anak itu seperti anaknya sendiri karena sejak kecil kami semua tinggal dalam satu rumah. Kau lihat itu ibunya," terang Hanafi menunjuk ke arah Uyun yang baru saja keluar dari ruang UGD.


Farida hendak bangkit, tapi tangannya ditarik oleh Hanafi. Dia hanya bisa menahan diri agar Kaisar tidak curiga.


"Bagaimana keadaan Maulana?" tanya Hanafi sambil berdiri.


"Dia sudah tertidur setelah obat yang diberikan Dokter masuk ke tubuhnya. Kata Dokter dia mengalami dehidrasi akut tapi masih bisa diatasi. Kurang cepat sedikit saja kondisinya akan parah," terang Uyun.


Farida memejamkan mata dan menghela nafas lega. Wajahnya tidak setegang tadi.


"Oh ya kenalkan Uyun, ini adalah Bos kita, orang yang akan mendirikan perusahaan jasa antar barang. Beliau yang mengajak perusahaan kita untuk bekerja sama dengannya."


"Oh, kau itu Tuan Kaisar yang sering diceritakan oleh Farida. Hmm ... kau tidak seperti yang dia ceritakan," kata Uyun mengulurkan tangan dan disambut oleh Kaisar.


Farida menatap tajam ke arah Uyun.


"Tenang saja rahasiamu akan aman bersamaku, ha ... ha...."


"Aku jadi penasaran, apa yang Farida katakan tentangku?" ujar Kaisar tanpa rasa bersalah menatap ke arah Farida.


Wajah Farida memerah, dia memalingkan mukanya ke arah lain agar tidak terlihat ekspresi wajahnya.


"Termasuk kejadian terakhir." Perkataan Uyun membuat Farida ingin memukulnya. Wanita itu memang ember, bukan sahabat baiknya lagi.


Bibirnya yang kemerahan di gigit bagian bawahnya dengan satu tangan mengepal erat.


"Memang apa yang terjadi terakhir kali kalian bertemu?" tanya Hanafi penasaran.


"Sedikit pertengkaran kecil, perdebatan, mungkin akan kami selesaikan lain waktu."


"Farida kau tidak menceritakan ini padaku," ujar Hanafi dengan wajah kecewa.


"Bukan soal penting."


"Itu menjadi penting karena kau jadi tidak pergi ke perusahaan lagi. Namun, kembali lagi itu semua salahku. Aku harap kau mau memaafkannya dan kita mulai merangkai semuanya dari awal."


Hanafi menyatukan dahinya sehingga tiga garis terlihat jelas diantaranya.


Di saat itu, Dokter yang tadi merawat Maulana keluar dari ruang perawatan.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Farida langsung.


"Kami sudah memberikan obat agar diarenya berhenti, dia pun sudah diberi infus untuk mengatasi masalah dehidrasinya. Kalian hanya perlu menjaganya dengan seksama."


"Tentu saja, kami akan menjaganya dengan baik."


Dokter itu lantas melihat ke arah Kaisar. "Anda harus mengawasi anak Anda dengan baik, Tuan jangan sampai lalai."


Wajah panik langsung terlihat diantara tiga orang di sana. Bahkan Farida pun sampai tidak bisa bernafas.


"Dia bukan Ayahnya, Dokter," ujar Uyun canggung. "Ayahnya sedang dalam perjalanan kemari. Dia seorang sopir jadi sering berpergian."


"Oh, saya kira dia ayahnya."


"Bukan, mana mungkin dia ayahnya karena saya juga baru bertemu dengannya hari ini. Benarkan, Tuan?"


Kaisar tersentak dari lamunannya. "Eh, iya. Saya hanya sedang lewat dan menyapa mereka karena saya kenal dengan keluarga ini."


"Oh, kadang memang ada orang mirip ya."


"Anak itu akan di pindahkan ke ruang perawatan karena sudah ada ruangan kosong seperti yang Anda minta. Ruang VIP," lanjut dokter itu.


Farida dan lainnya mengangguk kaku dan terlihat tegang. Hanya Hanafi saja yang terlihat santai.


"Tuan, ternyata Anda di sini, Nona Rose mencari Anda sedari tadi," panggil Emilio dari belakang.


"