
Sedangkan ditempat lain, Kaisar berjalan ke rumah milik Farida dengan didampingi oleh para ajudannya. Dia mengetuk pintu dan memberikan salam.
"Assalamualaikum," ucapnya.
Terdengar sahutan dari dalam. Ada sedikit kelegaan karena ternyata rumah itu tidak kosong seperti apa yang dia pikirkan.
Pintu mulai dibuka menampakkan satu sosok tinggi besar dengan kumis tebal yang bertengger di atas bibirnya. Kumis khas milik Hanafi.
"Selamat siang, Uda."
"Siang, oh Tuan Kaisar. Ada angin apa yang membawa Tuan datang kemari?" ujar Hanafi.
Kaisar tersenyum tipis, matanya menatap ke dalam mencari sosok kecil yang kemarin malam dia temui.
"Apakah Maulana dan ibunya ada?"
Hanafi mengerutkan dahinya.
"Aku rasa Anda faham maksudku."
Seringai tipis terpatri sebentar di bibir Hanafi yang tebal.
"Mari kita berbicara di dalam saja. Silahkan masuk, Tuan."
Setelah mempersilahkan Kaisar duduk, Hanafi masuk ke dalam untuk membuatkan minuman.
Kaisar lalu duduk di ruang tamu rumah itu. Ruangan itu sangat sederhana hanya ada satu set sofa kecil berwarna hitam dan juga lemari kaca berisi hiasan dari daerah Sumatera, seperti kain dan patung serta alat minum yang terbuat dari kayu. Tidak mewah hanya saja teratur dan sangat bersih. Rumah yang nyaman untuk sebuah keluarga kecil.
"Kopi Tuan Kaisar, kopi asli dari tanah minang."
"Terimakasih. Panggil saja Kai, agar terdengar akrab. Aku kira umurmu diatasku, jadi tak salahkan kalau aku panggil Uda seperti Farida memanggil Anda seperti itu."
Hanafi hanya membalas dengan sebuah senyuman.
Setelah menyeruput kopinya, Kaisar mulai memberanikan diri bertanya tentang Farida. Dia mulai dengan berdehem sambil merenggangkan dasinya yang terasa mencekik.
Dia lalu mengeluarkan rokok kretek yang memang dia ketahui adalah kesukaan Hanafi sesuai dengan informasi dari anak buahnya.
"Katakan saja." Uda Hanafi lalu menyalakan rokok kretek kesukaannya. Menghisapnya.
"Uda, aku pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan sebagian ingatan ku hilang. Aku masih mengumpulkan potongan demi potongan memori itu."
Hanafi menganggukkan kepala. Asap putih berbentuk bulatan keluar dari mulutnya, membumbung ke atas.
Entah mengapa gaya santai Hanafi itu malah membuat Kaisar semakin gugup. Lebih gugup ketika akan menikah dengan Cantika.
"Aku melupakan tentang Farida dan calon anak kami. Hingga kami bertemu dan Uda tahu kejadian setelahnya."
"Berarti saat itu Uda dan Farida sudah tahu tentangku tetapi mengapa masih berbohong?" ucap Kaisar berhati-hati. Tahu siapa pria yang dihadapinya. Mantan residivis kasus narkoba yang akhirnya dibebaskan karena bukti yang kurang memadai.
Hanafi menyipitkan matanya sejenak, menatap Kaisar dengan dalam seakan hendak membaca pikiran pria itu.
"Itu untuk melindungi Farida dari dirimu!" tegas Hanafi.
"Apakah salahku?"
"Haruskah kuingat kan? Menikahi kakaknya yang sedang mengandung dan menghamili adiknya, apakah itu yang layak disebut pria!" ujar Hanafi keras. Dia tahu kejadian sebenarnya hanya saja ingin melindungi Farida.
Kaisar menyisir rambutnya kebelakang dan memejamkan mata.
"Dia minta bantuanku untuk bisa lepas darimu dan keluarganya. Jadi aku jadikan dia sebagai adikku dengan memakai identitas adikku. Aku kira kau tahu tentang ini."
Kaisar memang mulai curiga ketika bertanya tentang umur pada Farida. Umurnya berbeda dengan umur yang tertera pada data pribadi miliknya. Semenjak itu, dia selalu mencari tahu apapun tentang Farida. Hanya saja semua informasi itu belum sepenuhnya benar karena Hanafi sangat pandai menyembunyikan kebenaran.
"Aku sudah bercerai dengan istriku secara agama dan sedang dalam proses di pengadilan."
"Lalu?"
"Aku ingin melamar dia pada Anda karena dia menganggap Anda sebagai kakak kandungnya."
"Aku rasa kau salah jalan, Kai. Farida tidak pernah mencintaimu dan tidak ingin dekat denganmu karena itu, dia memutuskan pergi dari hidupmu."
"Dia pergi? Pergi kemana?" Kaisar mulai panik.