
Hari ini adalah hari penting bagi hidup Kaisar dan Cantika. Waktu dimana diputuskannya akhir kehidupan rumah tangga mereka.
Kedua keluarga menghadiri sidang ini. Tidak terkecuali Ira. Dia tampak berjalan mendekat ke arah Cantika yang terlihat dingin.
"Hallo, Sayang," sapa Ira mencium pipi anaknya. Cantika hanya terdiam sambil merapikan baju putri kecilnya.
"Aku harap kau sudah mendengar keputusan hakim," kata Ira.
Cantika melihat Ira dengan tajam untuk sesaat, kemudian dia kembali melihat anaknya.
"Siap atau tidak tetap harus siap. Ini bukanlah kabar paling buruk yang harus aku hadapi," sindir Cantika. Dia lalu tersenyum sedih ketika salah satu penggemarnya menyapa dan memberikan dukungan.
Hatinya sedang hancur berkeping-keping karena semua yang Farida lakukan. Dia memang berhasil dengan upaya balas dendamnya kali ini dan membuat Cantika tidak mempunyai apapun juga. Harta, kedudukan, bahkan keluarga yang selama ini dia banggakan ternyata bukan miliknya. Cantika tidak tahu harus menyalahkan siapa? Farida kah yang membuka kebenarannya atau ibunya yang menyembunyikan jati dirinya selama ini. Untung saja publik tidak tahu dengan berita ini, kalau mereka sampai mengetahuinya maka hidupnya akan berakhir saat ini juga karena dia tidak punya muka lagi.
Kini, hanya Alisa saja yang masih bersamanya. Cantika menghela nafas panjang, tanpa terasa setitik air mata lolos melewati pipinya. Dia langsung mengusap itu.
Dari sisi lain, nampak keluarga Kaisar berkumpul, memberi dukungan untuk pria itu. Tidak terlihat Farida sama sekali. Mungkin saja dia tidak ingin menjadi sorotan kali ini karena menjadi sosok wanita perusak rumah tangga orang. Pikir Cantika. Dia bisa dengan tenang mendengarkan hakim memulai sidang .
"Dengan ini pengadilan memutuskan
Mengabulkan permohonan termohon secara verstek
Memberikan ijin kepada pemohon Kaisar Alexander Cortez Bin Alehandro untuk memberikan talak satu kepada termohon Cantika Bin Fadil di depan sidang pengadilan agama.
Hak asuh anak akan jatuh kepada termohon karena memenuhi beberapa unsur.
Membebankan kepada termohon untuk membayar biaya perkara sebesar lima ratus tujuh puluh empat rupiah.
Demikian ....." ucap Hakim yang terputus ketika terdengar suara seseorang dari arah pintu pengadilan. Namun, sebelum itu terdengar jeritan sedih dari Cantika. Dia akhirnya tidak sadarkan diri mendengarnya.
"Tunggu! Saya tidak bisa menerima putusan hak asuh anak ini," ujar Bagas masuk ke dalam ruang sidang. Di belakangnya turut serta pengacara yang sengaja dia sewa untuk menyelesaikan perkara ini.
"Maaf, siapa Anda, kenapa tiba-tiba menghentikan jalannya putusan sidang?"
Bagas menatap ke arah Cantika yang sedang tidak sadarkan diri dan Alisa.
"Alisa adalah putriku. Aku ayah biologisnya," ucap Bagas.
Kaisar langsung berdiri dengan wajah memerah. Dia berjalan cepat mendekat ke arah Bagas. Menarik kerah bajunya.
"Siapa kau, beraninya mengakui anakku sebagai anakmu!" Matanya berapi-api seperti ingin membakar habis pria di depannya.
"Maaf, ini menyakitkan untukmu, tapi ini kebenarannya." Bagas lalu menyerahkan secarik kertas ke depan wajah Kaisar.
Kaisar langsung merebutnya. Seketika tangannya bergetar membaca isinya. Suasana di pengadilan seketika hening, semua orang tampak fokus dengan kejadian ini.
Di sisi lain, Cantika sudah siuman. Dia lalu melihat Kaisar berdiri bersama dengan Bagas. Nafasnya saat itu menjadi sesak. Takut apa yang dia pikirkan akan terjadi.
Kaisar mengusap wajahnya kasar. Dia menatap tajam ke arah Cantika dengan marah, lalu ke arah Alisa yang menatap harap padanya.
Matanya berkaca-kaca. Tidak tahu harus berkata apa. Alehandro yang memang sudah tahu ini langsung mendekat ke arah putranya dengan mengusap bahu Kaisar.
"Kenyataan sering kali membawa kepedihan tapi kau harus kuat, masih ada Maulana yang menunggumu di rumah," bisik Alehandro.
Dia tidak butuh penjelasan apapun. Alisa tetap putrinya. Putri kecilnya.
"Kau tidak bisa datang tiba-tiba mengaku ayah dari anakku. Tidak, dia adalah anakku, sampai kapan pun dia tetap anakku!" bentak Kaisar sakit.
Butiran kristal sempat keluar dari pelupuk matanya. Dia langsung mengusap itu. Dengan langkah cepat, Kaisar mendekat ke arah Alisa. Serta merta Cantika memeluk Alisa.
Alisa yang melihat kekacauan ini menjadi takut dan menangis keras. Di saat itu, Kaisar hendak menggendongnya, tapi tangan Bagas menghalangi.
"Kau bukan ayahnya jadi kau tidak berhak mengambil anak ini!"
"Diam, kau!" bentak Kaisar. Matanya memberi kode pada anak buahnya untuk menyingkir semua orang yang menghalanginya.
Terdengar suara ketuk palu dari hakim. "Ini ruang sidang bukan tempat adu gulat," ujarnya.
Kaisar tidak mendengarkan perkataan itu, dia langsung menarik Alisa dari tangan Cantika.
"Ini adalah anakku, tidak ada yang bisa mengambilnya dariku!" seru Kaisar lalu berjalan keluar dari ruang sidang. Dia membiarkan semua orang yang berteriak agar memberikan Alisa pada ibunya.
Dia langsung membawa Alisa masuk ke dalam mobil.
"Siapa mereka Ayah? Mengapa mengatakan jika aku bukan anak Ayah?" Isak Alisa.
"Kau jangan menangis, Sayang , Ayah. Kau itu anak Ayah, tidak ada yang boleh mengatakan itu. Kau jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja," ujar Kaisar mencium anaknya.
"Mereka semua berbohong?" tanya Alisa.
"Ya, mereka semua ingin memisahkan Ayah dan kamu," ujar Kaisar.
"Jalan, Pak," perintah Kaisar. Mobil mulai melaju pelan.
Sedangkan, diluar Cantika berlari mendekat ke arah mobil. Dia mulai menggedor pintu mobil. "Kau, lepaskan Alisa, kau tidak bisa membawa anakku!" ujar Cantika.
Kaisar diam saja mengabaikan. Sedangkan Alisa berada di dekapan ayahnya sambil menatap ke arah ibunya.
"Ayah, biarkan ibu masuk," pinta Alisa.
"Tidak, Sayang, jika dia masuk, dia akan memisahkan kita. Tidak, aku tidak ingin kehilanganmu," ujar Kaisar.
Alisa memeluk Kaisar semakin dalam.
Sedangkan di ruang sidang. Sidang dihentikan karena rusuh. Kedua belah pihak nampaknya shock dengan kenyataan yang ada. Namun, berbeda dengan Alehandro, dia terlihat tenang.
"Dad, bagaimana ini?"
"Anakku sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan."
"Tapi bagaimana dengan Lana serta ibunya?"
"Itu soal beda lagi. Hmm aku juga seperti tidak rela dengan semua yang terjadi. Bisa-bisanya wanita itu membohongi kita selama ini. Buruknya semua itu terbongkar ketika hubungan Kaisar dan Alisa sangat dekat. Tidak mudah bagi Kaisar menerima kenyataan ini."
"Aku mengerti, hanya... ."
"Percayalah, anak itu pasti akan menyesuaikan semuanya setelah semua permasalahannya ini reda. Percuma kita bicara jika suasana terasa tegang. Aku juga sempat shock ketika tahu kebenarannya. Namun, kita sudah terlanjur mencintai Cucu kita itu. Akan sulit untuk merelakan dia dibawa oleh ayah ibunya nanti."
Dara menganggukkan kepalanya, padahal dalam hati dia tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Itu terlalu dramatis.