One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 103



Farida menoleh ke arah lain. Menerawang jauh ke depan. Seolah sedang mengingat kembali masa yang telah lampau.


"Tidak mudah untuk melupakan semuanya. Ejekan, siksaan verbal dan non verbal, abuse yang mereka lakukan, serta kata-kata yang menyakitkan, semua masih teringat jelas di mataku. Aku masih berusaha untuk memaafkan, walaupun sulit."


"Namun, aku tidak akan pernah memaafkan apa yang mereka perbuat pada ibuku. Mereka membunuhnya. Ibu dan anak itu pelakunya," ungkap Farida dengan gigi yang saling beradu.


"Aku ingin sekali membunuh dan menghabisi mereka, tapi Kak Hanafi mencegahku untuk melakukan hal itu. Dia mengatakan untuk apa aku melakukannya jika itu tidak akan membuatku bahagia. Itu hanya mengotori tanganku saja dan akan berimbas pada kebahagiaan Lana. Semua nanti akan mengatakan jika ibu Lana adalah seorang pembunuh," tutur Farida.


"Karena Lana, aku masih menahan diriku. Hanya karena Lana, aku berusaha untuk tetap tenang. Hanya karena Lana ...."


"Kau menerima pernikahan ini?" tanya Kaisar.


Farida terdiam. Kaisar menangkup wajah kecil Farida.


"Apakah kau tidak pernah mencintaiku walau sesaat?"


Farida menunduk enggan untuk menatap wajah Kaisar.


"Aku tidak tahu apa itu cinta. Yang kutahu, cinta hanya akan membuat orang menjadi bodoh. Sama seperti ibuku yang menjadi bodoh karena mencintai ayahku."


"Aku rela menjadi bodoh asal bisa bersamamu," ujar Kaisar.


Kepala Farida diangkat, dia menatap dalam bola mata Kaisar. Mencari kebenaran di sana.


"Kau hanya terobsesi pada tubuhku, bukan diriku."


Kaisar mengambil tangan Farida dan meletakkannya di dada.


"Oh, ayolah, Farida. Bagaimana caranya agar kau percaya bahwa aku mencintaimu, perlukah aku menyerahkan nyawaku padamu agar kau mengerti betapa dalam cintaku padamu."


"Maaf, aku tidak percaya cinta dan pernikahan ini hanya sebuah kompromi bagiku," ungkap Farida membuat Kaisar tertegun.


"Kompromi, kau sebut pernikahan kita sebagai kompromi?" Kaisar hampir tidak percaya mendengar hal itu dari mulut Farida.


"Kalian membuatku terpojok, tidak punya pilihan selain menikah denganmu."


"Yang benar saja Farida, setelah semua yang kulakukan dan kau sebut hubungan suci ini sebagai kompromi?"


"Ya, kau mempunyai keuntungan dengan menikahi ku. Aku akan jadi istri yang baik selama kau baik pula pada diriku. Aku pun akan menjadi istri yang penurut dan setia selama kau bisa menjadi imam yang baik bagi keluarga kita."


"Lalu apa keuntunganmu?" ejek Kaisar.


"Lana bisa tinggal bersama dengan keluarga yang utuh dan bahagia."


"Sial! Kau merusak kesenangan malam pertama kita dengan kata kompromi," ujar Kaisar kesal sendiri.


"Kalau kau tidak suka, kita bisa bercerai." Kata itu begitu mudah meluncur dari bibir Farida.


Kaisar menatap tajam ke arah Farida.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu," ujar Kaisar. "Walau kau tukar cintaku dengan kata kompromi. Untuk saat ini aku menerimanya, tapi aku pastikan selanjutnya kau akan mengatakan jika kau sangat mencintaiku."


"Kenapa harus bahas tentang cinta jika menikah tanpa cinta saja bisa. Yang penting kita bisa saling bekerjasama untuk membentuk keluarga ini."


Kaisar nampak gemas sekali dengan perkataan Farida. Namun, dia tidak mau gegabah dengan buru-buru menekan Farida untuk mencintainya. Biarlah cinta itu tumbuh seiring dengan waktu kebersamaan yang mereka lalui. Semua akan terjadi pada masanya. Hanya menunggu waktu itu datang.