
"Tunggu, aku tidak setuju dengan acara ini."
Semua menatap ke arah Hanafi. Maulana datang mendekat. Menarik ujung baju pria itu.
"Bapa Tua kok baru datang?" tanya Maulana.
"Uda, apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Farida berbisik.
Hanafi tersenyum. "Ini adalah adikku, walau kami tidak lahir dari satu rahim, tapi darahku mengalir di tubuhnya."
"Aku tidak rela kau permainkan adikku dan membuat dia bersedih," ujar Hanafi.
"Aku ...."
Hanafi merenggangkan tangan di depan Kaisar.
"Jangan potong pembicaraan ku! Dengarkan dulu." ucapnya berwibawa.
"Uda ...," panggil Farida lirih.
"Farida pernah menyelamatkan hidupku dulu sehingga aku masih bisa bernafas sampai saat ini." Hanafi menatap Farida dengan dalam.
"Jika kau memang mencintainya buktikan padaku saat ini."
"Bukankah ini bukti keseriusanku," balas Kaisar.
"Aku tahu, tapi tidak ada yang tahu dengan hari esok. Maka dari itu, aku ingin kau segera menikahinya saat ini. Jika tidak, sebaiknya acara ini dibatalkan saja," tegas Hanafi.
Farida memegang tangan Hanafi. "Kak, tiga hari lagi kami menikah."
"Lalu apa bedanya jika dilakukan saat ini?" tegas Hanafi.
"Baiklah, saya setuju dengan hal ini. Namun, kita butuh penghulu," sambung Alehandro. Bagaimana pun dia tidak suka jika anaknya ini tinggal bersama dengan Farida tanpa ada hubungan pernikahan walau katanya mereka belum melakukan apapun. Hanya saja itu sangat riskan bagi dua orang berbeda kelamin yang telah dewasa.
"Aku sudah membawanya," ujar Hanafi.
Semua akhirnya setuju dengan usul Hanafi. Mereka melakukan pernikahan secara agama dahulu.
"Sah ... sah ..."
Kaisar menarik nafas lega. Netranya kini mulai berkaca-kaca, terharu karena orang yang dia cintai akhirnya telah nikahi.
Rasa bahagia jelas tersirat di wajahnya.. Tangannya dia ulurkan pada Farida, Farida langsung menerima dan menciumnya dengan lembut. Setelah itu, tinggal Kaisar mencium kening Farida dalam. Lalu menatap istrinya dengan penuh cinta.
Keduanya lalu menangis bahagia bersama dan saling memeluk. Seketika semua terdiam, ikut larut dalam suasana itu.
Ucapan doa dipanjatkan oleh Pak Penghulu. Pernikahan yang selayaknya akan diadakan tiga hari lagi kini dimajukan.
"Wah, aku sudah punya ayah dan ibu beneran," celetuk Maulana merenggangkan tangan pada kedua orang tuanya.
"Memang sebelumnya apa?" tanya iseng salah seorang undangan.
"Sebelumnya aku kita aku hanya punya ibu, ternya punya ayah yang tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri."
"Memang ayahmu punya masalah apa yang tidak bisa dia atasi?" tanya Alehandro.
Maulana membisikkan sesuatu ke telinga Alehandro dan pria tua itu lalu tertawa terbahak-bahak.
"Kau itu masih kecil, tapi tingkahmu ada saja."
"Memang apa yang Lana katakan?" ujar Alehandro.
"Dia berkata kalau kau memintanya untuk temu janji dengan ibunya."
"Bukan itu Kakek," ujar Maulana gemas.
"Lalu apa?"
"Putra kakek memintaku untuk membujuk Ibu yang marah agar tidak marah lagi pada ayah sehingga kami buat kejutan untuk Ibu. Namun, Putra kakek Alehandro tetap saja apa ya ... ehm Ayah dia dan ibu.... Ayah aku tidak tahu apa yang ...ehm..." Mulut Maulana di tutup oleh Hanafi
"Lana, jangan buka cerita itu," cegah Farida.
"Kenapa? Ini romantis saat Ayah mau berubah dan hidup bersama dengan Ibu. Ayah sampai ditolak ibu berkali-kali tapi Ayah tidak menyerah. Ayah kekeh mengajak Ibu menikah sekarang."