One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 37 Mabuk



Kaisar menatap ke arah Farida. Dia seperti enggan untuk meninggalkan tempat itu, andai Rose tidak mencarinya.


"Rose?" tanya Hanafi.


"Bukankah sudah kukatakan jika adikku sedang sakit dan aku sedang menungguinya."


Hanafi mengangguk.


"Maaf, aku harus pergi. Nona aku berharap anakmu lekas pulih."


Uyun menganggukkan kepalanya.


"Ida, aku harap kejadian kemarin tidak membuatmu memutuskan rencana kerja kita."


Farida hanya diam membisu.


"Tentu saja tidak," jawab cepat Hanafi sambil menatap Farida dan menganggukkan kepala. "Begitukan, Farida."


Farida akhirnya mengangguk, tersenyum dengan wajah kecut.


Kaisar hendak pergi ketika teringat akan sesuatu. "Nanti aku akan mengunjungi keponakan kalian."


Farida, Hanafi dan Uyun seketika saling menatap.


"Tidak perlu, Anda pasti sedang sibuk, kami bisa mengerti," balas cepat Uyun sambil menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal.


"Keluarga kalian juga keluargaku juga," tandas Kaisar lantas pergi dari tempat itu.


Mereka bertiga terpaku melihat kepergian Kaisar.


"Bagaimana ini?" tanya Farida.


"Entahlah."


"Kita hanya menunggu peruntungan saja," lanjut Hanafi.


"Peruntungan atau kebuntuan? Kenapa jadi begini," ujar Farida frustasi.


"Kita akan mengatasinya," ucap Hanafi mencoba menenangkan Farida.


Sedangkan Kaisar berjalan santai menuju ke ruangan Rose.


"Apakah kau melihat seperti ada yang mencoba mereka sembunyikan?"


"Ekspresi mereka memang terlihat aneh, Pak. Terutama Nona Farida," ujar Emilio.


Kaisar terdiam, berpikir.


Mereka akhirnya sampai di kamar Rose dan masuk. Wanita itu nampak cemberut menatapnya.


"Kemana saja kau? Kau mengatakan tidak akan pergi," ujar Rose.


"Aku hanya pergi makan siang sambil merokok."


Sesuatu yang menyebalkan jika seorang pria diawasi oleh seorang wanita. Rose nampak protektif sekali padanya. Seperti takut Kaisar akan meninggalkannya.


"Kau tidak tidur? Ini sudah tengah malam."


"Aku ...."


"Tidurlah, aku akan ada di sini," ujar Kaisar.


Rose menatap ke arah Kaisar penuh harap. Namun, pria itu tampak dingin. Mematikan lampu lantas berbaring di kursi sofa.


Hanya pantulan sinar dari luar yang masuk lewat celah-celah jendela membuatnya masih melihat bayangan. Rose menatap ke arah Kaisar yang terlihat samar dalam kegelapan malam. Pria itu seperti tidur membelakanginya.


Dia sadar semua sudah tidak seperti dulu lagi. Dia bukan Kaisar yang penuh perhatian dan cinta padanya. Dia menjadi sosok berbeda. Namun, dia merasa jika mereka bisa bersama maka cinta Kaisar padanya akan tumbuh lagi seperti dulu.


"Kai, kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Rose.


"Besok akan kutanyakan pada, Dokter."


"Kai, maukah kau kembali ke rumah Daddy Ale seperti dulu? Lagian kau juga mau bercerai kan?"


"Aku masih punya Alisa yang sedang butuh perhatian dariku, apakah kau melupakannya?"


"Kau bisa membawa Alisa ke rumah, aku akan merawatnya seperti anak sendiri karena dia adalah darah dagingmu."


Kaisar hanya terdiam.


Waktu terasa lama berjalan. Detik jam bahkan terdengar keras dan sangat lambat, tapi mereka masih dalam kebisuan.


"Kai, berilah aku satu kesempatan lagi untuk membuatmu jatuh cinta padaku seperti dulu lagi," ujar Rose.


Lama Kaisar tidak menjawabnya.


"Baiklah, tapi aku juga punya syarat."


"Apa itu?" tanya Rose antuasias.


"Kai, kenapa kau seperti itu?"


"Karena aku kesal dan marah padamu, kau seperti anak kecil yang merengek pada semua orang agar mereka memberikan permen yang kau mau walau itu dengan merebut permen anak lain."


"Kai!" seru Rose tertahan dengan suara yang serak.


"Aku lelah, Rose, lelah untuk melayani kemauanmu sedangkan aku ingin mencari kedamaian yang lama tidak kutemukan."


"Kedamaian itu ada saat kita bersama, kau ingatkan, kau dulu selalu tersenyum bila kita bersama."


"Dulu dan sekarang berbeda."


"Walau begitu aku akan tetap menggunakan waktu sebulan itu sebaik mungkin agar kau kembali jatuh cinta padaku."


"Saat kau menunggu waktu itu datang, aku harap kau bertahan hidup dengan cara tidak melakukan hal gila lainnya."


Rose mengangguk di dalam gelap.


"Sekarang tidurlah," kata Kaisar. Mereka lantas terdiam.


Lama kelamaan Rose memejamkan matanya. Obat yang Dokter berikan membuatnya sering mengantuk setiap saat.


Kaisar sendiri tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya kembali kepada Farida. Wajah wanita itu terlihat jelas di pelupuk mata dan memenuhi otaknya.


Dia merasa yakin jika Farida adalah wanita yang pernah bersamanya. Hanya saja siapa dia? Apakah kekasihnya dulu? Jika iya, mengapa dia malah bertunangan dengan Cantika dan punya hubungan gelap dengan Rose.


Semua ini membingungkan dirinya karena ada potongan ingatan yang hilang. Hal itu membuat dia hampa dalam melangkah mencari jatidirinya sendiri. Tidak tahu apa yang dia cari. Semua yang diimpikan semua pria, telah dia miliki di usia muda.


Harta


Tahta


Istri cantik


Anak sempurna,


Namun, semuanya tidak bisa membuat dia tersenyum dari hati. Semuanya seperti topeng saja yang ada kalanya ingin dia lepaskan.


Kaisar menatap ke arah Rose yang mulai tertidur lelap. Dia yakin jika hatinya bukan untuk Rose. Mungkin dulu dia mengira jatuh cinta padanya. Padahal itu hanya rasa sayang seorang kakak pada adiknya yang dilakukan secara berlebihan sehingga melewati batas yang ada.


Namun, jika itu memang cinta seharusnya dia bergetar ketika berada di dekat Rose. Namun, tidak. Dia hanya sebatas sayang saja, bukan cinta pria untuk wanita.


Kaisar yang tidak bisa memejamkan mata lantas keluar dari ruangan. Dia menemukan Emilio yang sedang duduk sambil mengamati handphonenya.


Kaisar lalu duduk di sebelah Emilio. Pria itu lebih dewasa darinya. Terkadang pemikirannya pun sangat bijaksana sehingga Kaisar menyukainya. Bukan sekedar sebagai bodyguard seluruh keluarganya tapi juga sebagai teman yang bisa di ajak berbicara.


"Eh, Pak," kata Emilio yang langsung mematikan handphonenya.


"Teruskan saja, aku hanya ingin duduk berdua saja denganmu, mungkin kita bisa keluar sambil merokok."


"Lalu Nona Rose? Dia tidak bisa ditinggalkan begitu saja." Nampak jelas wajah khawatir dari Emilio.


Kaisar menepuk bahu pria itu dan bangkit. "Ayo ikut sebelum kau kupecat!"


Akhirnya Emilio mengikuti langkah kaki Kaisar. Mereka akhirnya sampai dikawasan bebas merokok.


"Sudah berapa lama kau ikut denganku?"


"Lebih dari sepuluh tahun."


"Umurmu sekarang?"


"Hah?!" Emilio menatap ke arah Kaisar.


"Hampir empat puluh tahun."


"Seharusnya kau sudah berkeluarga sekarang."


"Aku belum ingin menikah, Pak."


"Kenapa?"


"Menikah itu bukan soal cinta semata atau bisnis yang memikirkan untung dan rugi. Menikah adalah bagaimana cara seseorang meruntuhkan egonya agar bisa membahagiakan orang yang ada bersamanya. Cinta bisa saja hilang, tapi kenyamanan ketika berada di dekat seseorang itu yang akan membuat benih cinta itu bersemi dan tumbuh terus tak kenal musim."


Kaisar tertegun sejenak.


"Sepertinya kau orang yang tepat."


"Untuk apa Pak? Apa ada tugas baru lagi?"


"Ya, tugasmu menjaga Rose setiap waktu. Jadi kau harus menerimanya jika tidak kau bisa keluar dari kesatuan tim kerja kami."


"Maksud Anda Pak? Kok otak saya ngelag, tidan bisa menerima maksud perkataan Anda."


"Dekati Rose dengan gaya yang natural, setelah itu, nikahi dia. Jika kau bisa melaksanakan tugasmu, maka kau bisa meminta bekerja di bidang apapun. Bahkan kau bisa minta jadi pimpinan salah satu perusahaan milikku."


"Pak, yang saya berikan rokok biasa. Tidak mungkin membuatmu mabuk kan?"