One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 90 Malu Kucing



Farida menatap nyalang pada Kaisar. "Untuk apa kau datang, jika hanya membuat luka."


"Aku ingin meminta maaf dan menyembuhkan luka yang kemarin kubuat. Semua terjadi begitu saja dan aku tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak berharap kau untuk mengerti tentang itu. Namun, aku berharap kau akan memberikan aku satu kesempatan lagi."


"Tidak ada kesempatan bagimu lagi. Pergilah!" usir Farida.


"Sungguh?" tanya Kaisar yang selanjutnya pria itu mendekatkan wajahnya pada Farida lalu mencium wanita itu.


Bugh!


"Aww!" pekik kesakitan Kaisar ketika bagian penting tubuhnya di tendang oleh Farida. Wanita itu langsung keluar dari kungkungan pria itu.


"Maaf, aku bukan wanita murahan yang bisa kau sentuh jika kau mau!" ucap wanita itu pergi ke luar dapur.


Kaisar tersenyum sambil menahan sakitnya. Apa yang Farida lakukan ini belum seberapa dengan rasa sakit yang dia terima karenanya dulu.


Kaisar melihat kegiatan Farida seharian ini. Menemaninya walau wanita itu bersikap dingin padanya. Dia tidak patah semangat.


Dia pun menemani Maulana belajar lewat jaringan internet dan bermain. Sesekali dia membantu mantan dan calon mertuanya Fadil ketika mau bangkit pergi ke kamar mandi.


Kini semua duduk di meja makan menatap ke arah Farida yang sedang sibuk menyiapkan makanan.


"Ibu cantik kan Ayah?" tanya Maulana.


Kaisar yang sedang memangku tangannya menganggukkan kepala.


"Wanita marah akan sulit untuk dibujuk," jelas Maulana lagi. Kaisar terhenyak mendengar perkataan putranya.


"Mereka merajuk karena sayang dan cinta," ungkap Maulana.


Kaisar menuang minuman air mineral intim dirinya sendiri. "Dari mana kau tahu ini?"


"Dari paman-paman di tempat travel dulu. Mereka lalu memberi hadiah agar pasangannya berhenti marah. Seperti yang Ayah Erick lakukan pada Ibu Uyun setiap kali Ibu sedang marah. Dia akan membawa bunga dan juga coklat atau makanan kesukaan Ibu."


Maulana menabok dahinya sendiri. "Bagaimana sih Ayah, sangat tidak berbakat untuk menjadi suami dari ibuku. Kau tidak lolos audisi jika caranya seperti ini."


"Ayah benar-benar tidak mengenal Ibumu sebelumnya. Yang aku tahu Ibumu sangat suka jika Ayah mencium."


"Ish, Ayah, aku ini anak kecil."


"Oh, ayah lupa."


"Bro...brow-nies," jawab Fadil terbata membuat ayah dan anak yang ada di depannya menoleh ke arah Fadil.


"I-ibu mu su-suka itu," lanjut Fadil sulit.


"Baiklah, aku akan menyuruh anak buahku membelinya."


"Ish kenapa tidak Ayah saja yang membelinya? Akan beda Ayah," jelas Maulana kesal.


Seumur hidup biasanya Kaisar yang dikejar wanita, bukan dia yang mengejar wanita jadi tidak tahu harus melakukan hal romantis apa yang bisa meluluhkan hati kekasihnya.


"Jika aku pergi nanti...." Perkataan Kaisar terhenti ketika Maulana menatapnya tajam sambil melipat tangan di dada.


"Baiklah," ujar Kaisar bergegas keluar dari apartemen itu.


Farida sendiri melihat hal itu dari dapurnya. Sebenarnya penasaran kenapa Kaisar pergi, tapi dia tidak mungkin untuk bertanya.


"Semoga pria itu enyah dari hidupku," gumam Farida. Namun, banyak pertanyaan yang hinggap di pikirannya. Apakah Kaisar pergi karena kecewa tadi? Farida kembali masa bodoh dengan peristiwa tadi. Dia kembali fokus dengan masakannya.


Namun, rasa kecewa tetap saja membuatnya tidak tenang. Mengapa pria itu pergi tanpa pamit darinya? Kemana dia?


Farida mencoba menepis rasa itu, tapi tidak bisa. Seharusnya pria itu berusaha lebih keras lagi agar bisa meluluhkan hatinya. Bukannya pergi tanpa permisi. Huft, memang semua pria egois. Dia setengah membenci kaum itu.