
Sedangkan di sebuah rumah mewah dekat dengan tebing yang mengarah ke laut, ada sepasang pria dan wanita yang sedang berada di dalam kamar.
Wanita itu sedang menempelkan bedak di kulitnya, untuk menutupi kerut yang ada di wajah. Sedangkan sang pria duduk bersandar di tempat tidur sambil menghisap rokok ganja di tangannya.
Tubuhnya penuh dengan tatto. Hanya bagian wajahnya saja yang tidak. Rambutnya setengah panjang. Lurus yang bagian bawahnya dia potong tipis. Biasanya dia akan mengucirnya jika bepergian.
"Masih pagi dan kau sudah mau pergi, tidak ingin menemaniku makan," kata Samson.
Ira menghentikan gerakannya, melihat pria dari cermin.
"Aku harus pergi sebelum suamiku bertanya dan anakku mencariku," ujar Ira.
"Aku sudah bosan mendengar kau beralasan suami itu. Kenapa tidak kau bunuh saja dia?" ujar Samson. "Toh dia sudah lumpuh tidak berguna. Masih sehat saja hanya bisa menyakitimu. Namun, kau tetap setia bersamanya. Padahal selama ini aku yang setia bersamamu."
"Tidak semudah itu, harta Fadil masih belum berada di tanganku sepenuhnya. Semua masih ambigu. Apalagi semenjak kedatangan anak itu, dia menyebarkan ancaman dan ketakutan."
Samson tertawa mendengar ucapan Ira. "Kau takut dengan anak tirimu?"
"Kau bercanda, mana mungkin aku takut dengan dia. Hanya saja, kehadirannya seperti duri dalam daging."
"Semua yang aku usahakan untuk Cantika akan sia-sia jika dia membuka semuanya, aku tidak ingin itu terjadi," ujar Ira dengan wajah marah.
Wanita itu lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Samson. "Kau harus membantuku."
"Membantu menghabisi pria tua itu, akan kulakukan," ujar pria itu bangkit dan mengambil piyamanya.
"Bukan itu, aku ingin kau menghabisi gadis itu."
"Bukannya dulu kau juga sudah mencoba membunuhnya, tapi malah orang yang kau suruh membunuhnya malah yang menolongnya. Lucunya dunia ini. Aku kenal ayah Hanafi karena dulu kami adalah rekan bisnis."
"Ya, kau yang merekomendasikan orang bodoh itu, kini malah berbalik mereka yang menyerangku. Lucu benar, padahal mereka sudah memakan uangku."
Samson lalu memegang dagu Ira.
"Aku akan membantumu tapi dengan catatan ini yang terakhir kalinya. Setelah itu, jika kau tetap bersama dengan pria cacat itu, maka aku akan membuka semuanya. Aku lelah dengan semua permainan ini."
Ira melepaskan pegangan tangan Samson di dagunya.
"Setelah ini, aku sendiri yang akan membunuh Fadil karena aku smsudah bosan dan lelah menjadi pengasuhnya. Dia hanya berteriak dan memerintah saja. Aku capek terus berpura-pura aku baik-baik saja. Hanya kau lah yang selalu bisa membuatku tersenyum kembali."
Ira mencium tangan Samson.
Sebuah panggilan masuk ke handphone Ira. Wanita itu memberi tanda agar Samson tidak bersuara.
"Fadil!" ucap Ira dengan suara berbisik. Dia lalu memencet tombol hijau.
Samson sendiri memilih pergi dari ruangan itu. Dia muak melihat wanita yang dia cintai bersama dengan pria lain, walau itu suaminya.
"Sayang, kata Cantika kau sudah tidak ada di rumah nya?"
"Aku sedang perjalanan pulang, tunggu sebentar lagi aku sampai. Kebetulan taxi yang aku naiki bannya bocor tapi baru saja di ganti kok."
"Oh. Okey, aku akan menunggumu di rumah,"
Setelah itu, Ira mematikan panggilan itu. Dia bangkit dan menarik nafasnya lalu berjalan keluar dari kamar. Dia mendekati Samson dan mencium pipinya.
"Aku pergi dulu," ujar Ira.
Tepatnya 27 tahun yang lalu, Samson yang seorang bandar besar narkoba tertangkap polisi bersama dengan Ayah Hanafi. Ayah Hanafi memberontak tidak mau di tangkap sehingga polisi menembak mati di tempat. Sedangkan dia masuk ke dalam penjara.
Ira sendiri adalah kekasihnya. Hanya saja setelah tahu Samson di penjara dia berbalik menikah dengan Fadil. Bukan karena dia tidak setia hanya saja dia butuh banyak uang agar nasib Samson tidak merana di penjara. oleh karena mereka yang punya uang maka akan bisa hidup layak di penjara. Bukan jadi pecundang di sana.
Dia menghargai pengorbanan Ira.Oleh karena itu, walau dia kini sudah jadi bos besar mafia, dia hanya ingin Ira yang menemaninya hingga ajal menjemput.
Satu jam kemudian Ira sudah kembali ke rumahnya. Fadil sendiri sudah menunggunya di depan pintu utama.
"Kau di sini, Sayang. Suhu udara pagi ini masih dingin karena mendung, tidak baik bagi kesehatanmu. Lututmu sakit kan kalau udaranya seperti ini." Ira terlihat sangat perhatian dengan suaminya.
"Akhirnya kau pulang juga," kata Fadil. "Dari mana saja?"
"Dari rumah Cantika, hanya saja aku pergi dari sana saat fajar karena ingat kau yang pasti membutuhkan aku. Namun, di tengah jalan taxi yang aku tumpangi ban nya bocor."
"Kenapa tidak diantar sopir saja."
"Masih terlalu pagi untuk membangunkan sopir, yang penting aku selamat dan kembali ke rumah kan?'' ujar Ira sambil mendorong kursi roda suaminya ke dalam.
"Apakah kau sudah makan?"
"Mana bisa aku makan tanpa ada kau. Terasa hambar makan sendirian."
Ira tersenyum, lalu membawa suaminya ke ruang makan. Dia memerintahkan pelayan untuk membawakan mereka sarapan.
"Bagaimana keadaan Cantika? Dia pasti masih terguncang setelah kejadian di rumah Kaisar."
Ira menarik nafasnya. Wajahnya tampak muram dan sedih. Fadil melihat perubahan itu dengan seksama.
"Ada apa? Katakan padaku."
"Jika kau mendengarnya pasti kau akan tambah sedih."
"Katakan padaku, jangan membuatku cemas."
Ira meletakkan sendok dan pisau ditangannya ke piring dan menundukkan wajahnya.
"Sebenarnya aku ragu untuk mengatakan ini, tapi kau harus tahu."
"Apa itu?" Fadil mulai merasa was-was.
"Anakmu itu, ternyata mendatangi putri kita di perusahaan dan mengancam akan mengambil semua yang seharusnya menjadi miliknya."
"Kurang ajar sekali dia. Sudah membohongi kita semua, lalu menghancurkan keluarga Cantika kini malah meminta hak nya. Hak yang mana! Namanya sudah dicoret dari keluarga kita dan sudah tertulis mati. Dia juga sudah mati bagiku, jadi jangan katakan lagi kalau dia anakku!"
Ira lalu memeluk Fadil untuk menenangkannya. Di belakang pria itu dia tersenyum samar.
"Tenang Sayang, kau jangan emosi dulu. Semua ada jalan keluarnya."
Fadil lalu merenggangkan pelukannya agar bisa melihat wajah istrinya. Ira lalu mengusap matanya yang tidak basah.
"Bukan aku bermaksud untuk berbuat lancang padamu, hanya saja posisi Cantika sekarang sulit. Apalagi, Kaisar menantu kita sekarang ada di pihaknya. Otomatis dia punya bekingan orang kuat dan berkuasa. Dia bisa melakukan apapun pada Cantika yang lemah."
"Jelaskan saja secara singkat," ujar Fadil tidak sabar.
"Kau buat surat pengalihan harta kekayaan untuk putrimu Cantika. Kau tahu kan hanya dia yang terbaik yang bisa mengurusnya. Dia juga anak yang baik selama ini yang menyayangi kita berdua. Tidak seperti anak mu yang ... lainnya."