
Tubuh Cantika membeku seketika mendengar perkataan dari Rose. Dia tidak menyangka jika adik Kaisar sendiri lah yang jadi orang ketiga dalam hubungan ini. Dadanya terasa terhimpit beban berat. Nafasnya mulai sesak dan matanya tiba-tiba memerah.
Dia tidak siap mendengarnya. Ini terasa sangat tidak masuk akal dan menyakitkan, jauh dari apa yang dia pikirkan.. Bagaimana mungkin ada hubungan menjijikkan seperti itu antara seorang kakak dan adik, walau dia sendiri tahu mereka adalah saudara tiri. Namun, itu terasa aneh dan membuat perutnya terasa mual seketika.
"Maaf, Mba, jika ingin masuk, masuk saja."
Mendadak suara seorang perawat memecah lamunannya. Dua orang yang sedari tadi berbicara serius di dalam ruangan perawatan itu menoleh ke arah sumber suara.
Seorang wanita nampak menatapnya dengan mata berkaca-kaca dengan tatapan menuduh. Dia langsung berlari pergi dari tempat itu dengan detail air mata.
Ini adalah hal yang tidak Kaisar inginkan, tapi sudah terjadi. Hubungannya dengan Rose akhirnya terbuka di depan Cantika di saat yang tidak tepat.
"Cantika," gumam Kaisar. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya. Namun, tangannya di pegang oleh Rose. Penuh harap dia menatap ke arah Kaisar. Berharap pria itu tidak meninggalkannya.
Kaisar melepaskan pegangan tangan Rose. Berlari cepat mengikuti langkah kaki Cantika. Hatinya merasa tidak senang karena telah menyakitinya. Walau hubungan mereka tidak baik, tapi dia tidak ingin berakhir seperti ini. Bagaimana pun ini akan berefek pada Alisa.
Dia mengabaikan panggilan dan tangisan Rose yang bergema di lorong rumah sakit. Ada yang jauh lebih penting daripada itu. Dia harus menjelaskan semua ini pada Cantika.
Kaisar memegang tangan Cantika ketika sudah berada di tempat parkir kendaraan roda empat.
"Cantika, kita harus bicara."
"Bicara apalagi, semua sudah jelas dan terang sekali." Cantika menghempaskan tangan Kaisar dengan kasar.
"Semua tidak seperti yang kau pikirkan."
"Yang kupikirkan? Bahkan selama ini tidak pernah terbesit dalam pikiranku sendiri jika kau punya affair dengan adikmu sendiri. Itu menjijikkan."
"Cantika, jaga bicaramu! Kita akan bicarakan masalah ini di rumah." Kaisar melihat ke sekelilingnya. Beberapa orang terlihat menatap pertengkaran mereka.
"Kenapa kau malu? Itukah yang kau pikirkan? Apakah kau tidak pernah memikirkan hatiku. Sial, nyatanya aku tidak pernah ada di hatimu karena hatimu hanya ada untuknya ... ya hanya untuk adikmu Rose."
Kaisar mengamit lengan Cantika pergi ke mobilnya. Wanita itu memprotes, tapi Kaisar tidak perduli.
"Kaisar," panggil seorang pria dari kejauhan. Kaisar melihat ke arah pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"Om, aku harus pulang," ujar Kaisar ketika Kris datang mendekat.
"Kaisar, tolong Rose."
"Maaf, aku tidak bisa."
"Rose, dia muntah darah dan pingsan. Saat ini dia ada di ruang UGD tidak sadarkan diri."
"Kau dengar, sekarang pergilah dan jangan pedulikan aku!" ujar Cantika menarik lengannya dari pegangan Kaisar.
Untuk sesaat Kaisar terpaku. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi istrinya sendiri salah faham dengan hubungan mereka. Di sisi lain, Rose membutuhkan dirinya. Jika dia pergi kepada Rose maka Cantika akan mengira jika dia punya hubungan khusus dengan Rose. Jika tidak maka nyawa Rose dalam bahaya. Namun, jika Cantika pergi mengendarai mobilnya sendiri dalam keadaan kalut pun tidak baik bagi wanita itu.
Kepala Kaisar terasa sakit sekali. Namun, dia harus kuat menahan semuanya. Andai ada jalan cahaya bagi kehidupannya yang gelap maka dia akan memilih jalan itu. Pikirnya. Nyatanya, semua terasa sulit sekarang. Hidupnya seperti dipermainkan oleh nasib. Padahal selama ini dia berpikir bisa mengatasi semuanya. Nyatanya, kini dia merasa kalah dan ingin menyerah.
"Nak, Cantika. Maaf ... bukan Om bermaksud untuk menganggu hubungan kalian. Hanya saja, Kaisar lah orang yang bisa membuat semangat hidup Rose bangkit lagi. Anak itu sedang sakit hemofilia dan masalahnya membuat keadaannya semakin parah. Bisakah aku meminta sedikit pengertianmu," ujar Krish hati-hati.
"Aku selalu berusaha mengerti suamiku ... jika dia memang membutuhkannya, maka aku ...." Cantika tidak bisa meneruskan kata-katanya.
Dia tetap tidak rela harus berpisah dari Kaisar dan melihat pria itu bahagia diatas rasa sakitnya.
"Kai, pergilah bantu adikmu itu. Abaikan aku dan Alisa ... dia lebih membutuhkanmu," ucap Cantika dengan sakit. Dia langsung berjalan menuju ke arah mobilnya.
"Nanti aku akan pulang dan berbicara denganmu," seru Kaisar, tapi tidak digubris oleh Cantika.
Dada Cantika terasa nyeri seketika. Inikah rasanya dikhianati oleh suami? Jika iya, dia tidak ingin merasakannya. Dunia yang dia impikan selama ini terasa runtuh semuanya. Dia seperti tidak sanggup menahan beban metal.
Cantika masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Tangisnya kemudian pecah. Tangannya mulai memutar kunci mobil dan perlahan meninggalkan tempat parkir itu melewati Kaisar yang masih menatapnya.
Dia berharap Kaisar masih mempunyai sedikit hati untuk diberikan padanya, tapi setelah melihat semua ini dia rasa semua hanya khayalan semata. Kaisar tidak akan pernah bisa menganggap dia sebagai istri sepenuhnya. Dia hanya istri dalam secarik kertas berstempelkan tulisan Departemen agama. Bukan istri sebenarnya.
***
Sedangkan di tempat lain, Farida sedang membersihkan wajahnya di depan sebuah cermin hias. Tangannya berhenti ketika jarinya menyentuh bibir. Teringat akan ciuman Kaisar kemarin. Pria itu sungguh bajigur, beraninya melakukan hal ini padanya. Berniat menodainya untuk kedua kali.
Farida menghela nafas dan meletakkan kapas ditangannya di meja. Dia menunduk. Berpikir apa yang harus dia lakukan ke depannya.
Jika dia berhenti, itu artinya dia harus melupakan misinya untuk membalas kematian ibunya. Sedangkan kartu As untuk misi itu adalah Kaisar.
Hanya dengan menggunakan Kaisar dia bisa menusuk Cantika tepat di jantungnya. Hanya dengan berada di sisi Kaisar maka hidupnya akan aman.
Tanpa uang dan kekuasaan maka hanya kekalahan yang dia dapatkan dan hanya Kaisar yang mempunyai itu.
Dia mulai menatap ke arah Maulana yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Berpikir apa yang akan terjadi jika Maulana tahu kenyataan bahwa dia ibu kandungnya, apakah dia akan marah dan kecewa karena merahasiakan ini darinya?
Pasti anak itu akan mencari siapa ayahnya dan itu adalah hal yang sangat tidak Farida inginkan. Mempertemukan ayah dan anak itu. Sampai kapan pun dia akan merahasiakan ini. Dia tidak ingin Maulana diambil oleh Kaisar begitu saja.
Walau Kaisar tidak ikut dalam kejahatan Ira, tapi dia turut andil dalam kehancuran hidupnya. Tidak ... dia tidak akan membiarkan pria itu menghancurkannya untuk kedua kali. Kali ini dia yang harus menang dan mendapatkan ketenangan.
Mendadak dadanya terasa nyeri. Tidak nyaman dan seperti khawatir. Dia tidak tahu apa yang menyebabkannya. Adakah seseorang yang sedang memikirkannya? Mungkin Uda Hanafi sedang dalam masalah. Sebaiknya dia menelfonnya.