One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 52 Keakraban



Farida melihat Maulana berdiri di lantai atas menatap dirinya dengan sedih. Anak itu lantas berlari turun ke bawah.


"Lana," panggil Farida mendekat. Namun, anak itu malah menerjang melewatinya dan pergi keluar rumah.


"Lana, kau mau kemana?" teriak Uyun sambil melirik Farida dengan marah. Dia berlari mengejar anak itu. Sedangkan Farida langsung tersadar dan ikut mengejar bersama dengan Hanafi.


Maulana terus berlari melewati orang-orang yang ada di pinggir jalan. Suasana trotoar jalanan yang ramai dan tubuh itu yang kecil membuat mereka bertiga kehilangan jejaknya. Akhirnya, mereka berpencar untuk mencari anak itu.


"Di mana Lana?'' tanya Hanafi pada Uyun yang nampak berhenti di belokan jalan.


Dengan nafas terengah-engah Uyun menggelengkan kepalanya.


"Ini semua karenamu!" ujar Uyun melihat Farida yang mendekat.


"Sudah jangan saling menyalahkan. Yang terpenting sekarang kita temukan dulu anak itu," ujar Hanafi.


"Kau ke arah gang sana, aku akan belok ke sini, dan kau Ida, ikuti jalan ini terus. Kita harus bergerak cepat. Aku takut anak itu ditangkap penculik," ujar Hanafi.


"Ya, Tuhan jangan sampai itu terjadi," ujar Farida dengan suara bergetar. Dia mengusap air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya.


"Lana, kau dimana? Maafkan ibu, Nak," ucap Farida sepanjang jalan yang dilaluinya. Dia lantas bertanya pada orang di sepanjang jalan itu, siapa tahu ada yang melihat Lana lewat. Namun, tidak seorang pun yang menemukannya.


Sedangkan Lana berjalan sendiri dengan cepat. Dia melihat ada segerombolan orang menyeberang jalan raya. Dengan cepat, dia mengikuti gerombolan orang itu menuju ke sebuah danau buatan di dekat pemukiman rumah mereka.


Dia tidak sadar jika lampu telah berubah menjadi hijau dan ketika dia sedang berlari ke tengah jalan tiba-tiba dia melihat sebuah mobil sedan berwarna putih bergerak cepat ke arahnya. Lana langsung berjongkok ketakutan.


Ciiit...


"Ada apa?" tanya Alehandro pada sopirnya.


"Entah Tuan, seperti anak kecil," ucap sopirnya, gugup dan shock.


"Anak kecil?" seru Alehandro. Dia keluar dari mobil dengan cepat untuk melihat apa yang terjadi.


Nafasnya yang tadi sempat berhenti kini terasa lega setelah melihat keadaan anak kecil itu baik-baik saja


Mobil nyaris menyentuh tubuhnya yang mungil. Dia bergetar hebat sambil menangis sesenggukan. Alehandro berjongkok untuk memastikan keadaan anak itu baik-baik saja.


"Nak, apakah kau baik-baik saja."


Maulana mengangkat wajahnya dan meraung keras. Membuat Alehandro ketakutan.


Seketika suasana di jalan itu mendadak ramai. Beberapa orang mulai mendekat.


"Apakah ada yang tahu orang tua anak ini?" tanya Alehandro pada semua orang yang ada di sana. Tidak ada yang menjawab.


"Pak sebaiknya Anda bawa dia ke rumah sakit untuk di periksa, takutnya ada apa-apa?" kata salah seorang yang ada di sana. Mereka memang sempat melihat anak ini yang salah karena menerobos jalanan yang padat oleh kendaraan yang lalu lalang. Untung saja pemilik kendaraan itu mengerem mobil itu sehingga tidak terjadi kejadian fatal.


Mereka saling memandang.


Alehandro mengusap wajahnya dengan kasar.


"Nak, kau tahu di mana rumahmu?" Tangannya memegang bahu anak itu.


Bukannnya menjawab, Maulana malah mengeraskan tangisnya. Hal itu membuat Alehandro merasa iba dan kasihan lagipula wajah itu seperti tidak asing baginya. Terasa akrab.


Akhirnya, Alehandro membawa Maulana pergi dari tempat itu.


"Tuan, acara pertunangannya akan diadakan satu jam lagi. Jika kita ke rumah sakit sekarang, mungkin kita akan datang terlambat."


Alehandro mulai berpikir sejenak setelah mendengar masukan dari sopirnya. Dia melirik anak kecil yang masih duduk melamun bersandar pintu mobil.


Anak itu terlihat sangat tertekan. Matanya yang berwarna kecoklatan itu menatap kosong ke depan. Sesekali buliran bening melewati dua pipinya yang putih dan tirus.


Dari pakaian yang dikenakan anak ini, Alehandro tahu jika dia bukan anak orang kalangan bawah. Dia rapih dan terawat. Rambutnya lurus, di sisir serong ke samping.


Alehandro mengerjap. Dia seperti akrab dengan wajah ini, tapi siapa? Dia mulai mengingat anak atau cucu kenalannya.


"Ada apa, Sayang?" ujar Alehandro.


"Kau dari mana saja? Sebentar lagi acara pertunangan dan lamaran Rose akan diadakan. Tamu dari pihak keluarga Emilio sudah datang dan kau tidak ada kabar."


Alehandro ingin menjawab ketika Dara kembali mengomel.


"Tak apa jika kau tidak mau datang. Dia memang anakku!" ujar Dara dengan suara mengambek dan sedih. Dia hendak mematikan telepon tapi Alehandro cepat menjawab.


"Aku baru saja menabrak anak kecil."


"Apa!"


"Hmmm."


"Lalu bagaimana keadaannya?"


"Dia baik-baik saja hanya saja dia terus menangis. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," ujar Alehandro dengan suara pelan di handphonenya.


"Bawa saja kemari, kita lihat keadaannya kalau perlu aku akan panggilkan Dokter sekalian," ujar Dara.


Alehandro menganggukkan kepalanya.


"Apa kau dengar apa yang kukatakan?"


Dia sadar bahwa Dara pasti tidak melihat dia mengangguk. "Okey, aku akan bawa dia ke rumah. Tapi aku akan masuk lewat belakang saja. Aku tidak ingin membuat keributan dengan calon besanku. Suruh mantanmu itu untuk bertemu dengan mereka terlebih dahulu."


"Sayang, kau masih mau bahas masa lalu?" ujar Dara dengan nada mengancam.


"Mana mungkin aku membahas masa lalu itu tidak enak, maksudku Krish."


"Itu lebih baik."


"Mom, Om Krish sudah datang, dia mencarimu," terdengar suara Jasmine dari balik panggilan itu.


""Kau dengar, dia mencarimu," sindir Alehandro. "Cepat temui dia."


Alehandro langsung mematikan telepon itu dengan kesal. Walau pernikahan mereka sudah berlangsung dua puluh lima tahun tapi dia masih saja tidak suka jika mantan Dara itu mendekati istrinya.


"Nak, apa kau tahu dimana rumah orang tuamu?" tanya Alehandro.


"Aku tidak tahu dimana rumah ayahku, aku ingin mencarinya," jawab Maulana sesengukan.


Entah mengapa hati Alehandro tidak tega melihat anak itu. Seketika dia memeluknya.


"Kalau begitu kita akan mencarinya nanti."


Darahnya mendesir sakit ketika anak itu memeluk pinggangnya.


"Janji ya ... kakek akan mencari rumah ayahku," ujar Maulana lagi.


Alehandro mengangguk sambil mengusap kepala anak itu. Seperti ada perasaan berbeda ketika dia memeluknya. Alehandro menebak mungkin itu hanya perasaan bersalah dan ibanya. Namun, setitik air mata sempat keluar dan membuat dia heran.


Kenapa aku tiba-tiba jadi melankolis begini?


Mobil akhirnya sampai di kediaman Cortez. Mobil itu langsung masuk ke garasi. Di sana tampak Dara sudah menunggunya tidak sabar.


Dia langsung mendekati mobil ketika Alehandro keluar menggendongnya sosok mungil di pelukannya. Anak itu tampak tertidur pulas.


"Ini anaknya?" tanya Dara memeriksa anak itu. Dia lalu berusaha melihat wajah anak itu.


"Hah!" Dara menutup mulutnya sendiri karena terkejut.


"Ada apa?"


"Di-dia."