
Farida nampak duduk tenang di samping Kaisar. Wajahnya yang biasanya terlihat serius kini santai seperti tidak ada beban.
"Jadi besok akan ketuk palu?" tanya Farida.
"Hmm," jawab Kaisar menoleh ke arah Farida. Pria itu tersenyum. "Kenapa? Kau suka?"
"Ya, aku sangat menyukainya."
Kaisar memegang dagu panjang dan lancip milik Farida. Mengangkatnya agar tatapan mereka bertemu.
"Apakah setelah ini kau mau menikah denganku?" tanya Kaisar.
"Semua bisa terjadi, kali ini aku belum bisa menjawabnya sebelum semua jelas," jawab Farida.
"Apanya yang tidak jelas, aku menyukaimu dan kita juga telah memiliki seorang putra. Satu lagi, kita juga telah tinggal bersama." Ibu jari Kaisar mengusap bibir Farida. "Tinggal menunggu apa lagi?"
Sejenak mereka terdiam hanya saling menatap. Selanjutnya Farida yang terlebih dahulu memutuskan tatapan itu dengan memalingkan wajah ke samping.
"Oh ya, aku ada urusan dengan Uda Hanafi, aku mau turun di sini saja," ujar Farida.
"Aku yang akan mengantarkanmu," tawar Kaisar.
"Tidak!" jawab cepat Farida. Kaisar tampak sedang membaca pikiran Farida. "Bukankah kau ada rapat dengan klien penting hari ini. Jadi kau harus segera menemuinya, jangan sampai terlambat. Aku bisa naik taxi sendiri."
Kaisar masih terdiam, membaca situasi.
"Aku tidak akan pergi, karena Maulana ada bersamamu kan?" ujar Farida tertawa.
"Bukan aku tidak percaya hanya saja, aku takut ada apa-apa denganmu di jalan. Ini sebagai rasa pertanggungjawabanku pada kakakmu itu."
"Aku itu wanita dewasa yang bebas. Biasa melakukan apapun sendiri apalagi pulang ke rumah sendiri. Kau jangan terlalu khawatir. Sudahlah."
Farida lalu mengetuk kursi pengemudi mengatakan bahwa dia akan turun di depan.
"Pak!" Sopir itu menatap ke arah Kaisar menunggu persetujuan pria itu.
Kaisar akhirnya menganggukkan kepalanya. Namun, sebelum itu dia menghubungi anak buahnya yang lain untuk mengikuti Farida.
"Ida, hati-hati," pesan Kaisar.
Farida menganggukkan kepalanya. Mobil Kaisar melaju pergi meninggalkan Farida. Setelah itu, Farida menyetop taxi. Mobil berputar arah menuju ke rumah sakit tempat ayahnya di rawat.
Farida kembali datang ke rumah sakit itu bukan untuk menemui ayahnya kembali, tetapi menemui seseorang. Dia merasa ada yang mengikutinya, senyum tersemat di bibir. Dia berjalan cepat menuju ke sebuah lorong khusus pasien wanita.
Langkahnya terhenti ketika melihat satu sosok yang akrab dengannya lima tahun yang lalu.
Bagas yang sedang duduk memainkan ponselnya menghentikan kegiatannya ketika melihat ada sepasang kaki indah di depan matanya. Dia mengangkat wajahnya.
Untuk sejenak dia terdiam mengamati satu sosok di depannya dengan detail. Sepertinya wajah ini tidak asing baginya. Namun, siapa? Tunggu!
"Airlangga, kau kah itu?" panggil Bagas.
"Kak Bagas, akhirnya kita bertemu lagi," sapa Farida.
"Kau wanita? Ya, aku pernah mendengar itu tapi baru pertama kali aku melihatmu dalam wujud wanita." ujar Bagas lagi. "Kau tampak cantik walau ketika kau jadi pria sudah tampan."
"Kak Bagas ada-ada saja," ujar Farida. Mereka lalu berbicara tentang masa lalu.
"Kak, kenapa kau ada di lorong ini? Bukankah ini ruang khusus kebidanan?"
"Istriku baru saja menjalani pengangkatan tumor di rahimnya," terang Bagas sedih.
"Aku turut bersedih "
.
"Tadinya kami tidak tahu, tapi setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, dia dinyatakan terkena tumor rahim. Jadi sebagian ovarium miliknya harus dipotong." Bagas menundukkan wajahnya sedih.
"Kak, aku punya foto anakmu dan Kak Cantika." ujar Farida.
Bagas mengangkat wajahnya. Ya dia kini mempunyai harapan baru dengan kehadiran seorang anak.