One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 94 Latar Belakang



Apa yang dikatakan oleh Samson membuat Ira terpaku. Dia tidak percaya apa yang Samson lakukan. Bekerjasama dengan musuh untuk menjatuhkannya.


"Apa maksudmu?" tanya Samson.


"Ini adalah urusan pria," jawab Samson santai menyerahkan satu gelas untuk Ira. Ira sendiri menolaknya.


"Jelaskan padaku!" teriak Ira.


Samson melihat ke arah Cantika.


"Kau sudah merahasiakan kebenaran tentang Cantika padaku selama puluhan tahun. Aku hanya ingin anakku kembali padaku, walau dengan cara apapun karena aku adalah ayah kandungnya."


"Sial! Bahkan aku tidak bisa mempercayai orang yang kucintai," murka Ira melempar gelas di depannya ke arah deretan botol minuman keras di lemari bar. Seketika terdengar suara kaca pecah.


Para pelayan mulai berdatangan, tapi Samson merenggangkan tangannya untuk menghentikan mereka dan menyuruh mereka pergi.


"Justru aku sangat mencintaimu dan anak kita jadi aku melakukan ini," jawab Samson santai. "Sudah cukup semua yang kulakukan untukmu, kini giliranmu untuk mematuhi semua yang kuinginkan. Cukup simple. Jadilah pasangan dan ibu yang baik."


"Aku rasa kau juga lelah dengan semua kebohongan ini, benar begitu Cantika?"


Cantika hanya diam tanpa ekspresi. Dia sendiri tidak tahu dengan apa yang tiga orang ini bicarakan. Semua terasa membingungkan untuknya.


"Selesaikan saja urusan kalian, aku akan ke kamar dan ingin beristirahat." Cantika melangkahkan kakinya pergi, tapi sejenak berhenti di depan ibunya.


"Ibu, jangan berteriak, aku tidak ingin Alisa mendengarnya. Dia sudah cukup lelah menerima semua kepahitan ini di usianya yang masih sangat kecil."


Cantika lalu pergi ke atas melalui lift.


Hanafi melihat itu semua sambil menahan nafas. Sebetulnya melihat seperti ini dia kasihan juga dengan wanita itu karena menjadi korban keegoisan ibunya. Namun, jika mengingat betapa jahatnya dia dan ibunya pada Farida membuat dia enggan untuk bersimpati.


"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Ira dengan berderai air mata.


"Karena sebagai seorang pria aku tidak rela milikku dipunyai orang lain."


Ira lalu mendudukkan dirinya ke atas kursi terdekat. Menangis.


"Hanafi, maafkan atas kekacauan ini. Seharusnya kau menemuiku di tempat biasa saja. Tapi tak mengapa agar semua kebenaran ini terungkap. Aku pun muak terus menerus hidup dalam kebohongan dan dibohongi."


"Tidak apa-apa Om, aku senang bisa membantumu kali ini. Aku pun berharap setelah ini, adikku bisa hidup dengan tenang."


Ira melirik tajam ke arah Hanafi.


"Aku hanya meminta ke depannya adikku tidak menemui masalah yang membahayakan. dari pihak kalian jika tidak, kau tahu apa yang bisa kulakukan pada kalian."


"Jangan mengancamku,'' ujar Samson.


"Aku tidak mengancam hanya mengatakan apa yang seharusnya seorang kakak lakukan," tegas Hanafi.


Samson tersenyum manis walau masih terlihat garang. "Itulah arti sebuah keluarga sesungguhnya. Akan melakukan apapun asal keluarganya dalam keadaan baik-baik saja."


"Kau sama seperti ayahmu. Akan melakukan apapun asal keluarganya bahagia." Hanafi mengangguk.


"Aku rasa persoalan ini selesai sampai di sini. Terimakasih karena telah mempermudah semuanya. Kedepannya semoga hubungan kita tetap baik seperti ini."


Hanafi melirik sinis ke arah Ira.


"Asal kau bisa menjaga wanita ini tidak keluar dari jalur yang kita sepakati," lanjut Hanafi.


Hanafi lalu mengulurkan tangan ke arah Samson dan Samson menerima uluran tangan itu.


"Tetaplah di jalurmu anak muda dan semoga kau akan menemukan kebahagiaanmu. Menikahlah agar kau punya bahagia dengan keluarga sendiri."


"Aku sudah punya keluarga sendiri dan aku bahagia melihat mereka tersenyum."


Hanafi berjalan keluar dari rumah itu menuju ke motor ninja yang dia parkir di depan rumah. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat satu sosok yang berdiri di dekat pintu. Menoleh ke arah pria dengan wajah brewok dan luka di pipi. Dia hanya mengangkat kedua alis lalu kembali berjalan.


Hanafi memakai jaket kulit berwarna hitam yang disampirkan diatas motor. Hendak memutar kunci motor ketika melihat Cantika berjalan ke arahnya.


"Jadi kau kakak angkat Airlangga?"


"Aku kakak dari Farida," tegas Hanafi.


"Ish, apapun itu namanya. Sama saja, dia adalah seorang perebut lelaki orang."


Hanafi menarik nafasnya. "Hati-hati dalam berbicara mengenai adikku itu, Nona. Dia hanya korban keegoisanmu dan ibumu!"


"Korban? Kau yakin? Dia seorang monster yang telah menghancurkan hidup anakku! Katakan padanya, aku tidak akan membiarkan dia hidup bahagia diatas tangis anakku!"


Hanafi tersenyum mengejek, lalu tangannya dengan cepat memegang keras dagu Cantika. "Jangan bertindak bodoh seperti ibumu, kau tidak tahu siapa yang kau hadapi jika sampai menyentuh adikku!"


Wajah Cantika lalu dilepaskan dengan kasar.


"Kurang ajar kau!" Cantika mengusap dagu lancipnya yang sakit.


"Maka dari itu, hilangkan pikiran itu dari otakmu yang kotor ini. Aku bisa saja membuat anakmu hidup dengan hanya mengenal Farida sebagai ibunya," ancam balik Hanafi.


"Aku tidak takut dengan omong kosongmu karena aku punya seorang ayah yang akan membantuku."


"Sayangnya aku bukan Bagas yang takluk dengan kata-kata mu bukan pula Kaisar yang sabar menghadapi tingkah gila mu. Aku Hanafi yang akan melindungi orang-orang yang aku cintai dengan sepenuh jiwa sehingga aku tidak akan pernah takut menghadapi dunia sekalipun. Kau tahu kenapa? Karena keluargaku adalah duniaku, Nona manis."


"Saranku, kau jangan pusing dengan niat balas dendammu, cukup bahagiakan saja putri kecilmu itu. Carilah pria yang bisa membuat pikiran jahatmu menjadi bersih. Jangan jadi seperti ibumu walau kau adalah darah dagingnya."


Hanafi tersenyum menakutkan lalu memutar kembali kunci motornya dan melajukan motornya dengan cepat menjauhi rumah itu.


"Br3ngs3k! Aku pastikan kau dan adikmu membusuk di tanah," teriak Cantika kesal ketika Hanafi berlalu pergi.


Dia membalikkan tubuhnya dan hendak masuk kembali ke rumah ketika melihat Samson dan Ira berdiri menatapnya dari pintu. Cantika berjalan melewati keduanya tanpa kata.


"Aku akan ke kamar, kita perlu bicara," ujar Ira pada Samson sebelum masuk ke dalam rumah.


Samson hanya bisa mengedikkan bahunya.


"Puluhan tahun berada di dunia mafia tidak membuat hidupku kacau, tapi beberapa hari bersama dengan dua wanita membuat pikiranku menjadi semrawut dan hatiku nelangsa."


"Apa kau juga punya keluarga Codet?" tanya Samson pada pria di depannya.


"Tidak ada, aku hanya hidup sendiri setelah keluar dari penjara. Mereka menghilang entah kemana," ujar Codet.


"Jangan punya keluarga jika ingin hidup tenang, tapi jika ingin bahagia maka punyailah keluarga. Namun, orang seperti mu jika berkeluarga malah hanya membebani mereka. Mereka akan malu punya ayah seorang pengedar, ha ... ha ...," ujar Samson sambil tertawa terbahak-bahak dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Padahal itu yang dia rasakan. Wanita yang dia cintai lebih bangga hidup bersama dengan Fadil yang notabene adalah pengusaha kaya walau kekayaan yang dimiliki tidak lebih banyak dari punya Samson. Putrinya pun seperti itu, dia akan malu jika tahu ayahnya adalah mantan narapidana dan seorang bandar besar. Sampai saat ini pun, putrinya masih memberi jarak padanya untuk mendekat. Apakah dia tidak layak menjadi ayahnya? Batin Samson.