
Mau tidak mau akhirnya Farida mengajak tamunya untuk makan karena waktu makan siang sudah lewat sedari tadi dan kemungkinan besar keduanya pasti sudah kelaparan.
"Silahkan duduk, tapi maaf di sini hanya ada makanan ini karena seleraku seperti ini," ujar Farida.
Di meja itu hanya ada sayur kuah bayam, tempe goreng, telur dadar dan sambal, Farida juga membawa kerupuk dari dapur.
"Aku tidak tahu apa kalian menyukainya atau tidak?"
"Aku sering makan ini di rumah Nenek, betul kan, Yah?" Kaisar mengangguk. Ibunya memang suka makanan sederhana.
"Eh, aku lupa katanya kalian juga bawa makanan. Aku akan melihatnya," ujar Dara hendak mengambil makanan apa yang mereka bawa tadi.
"Tidak usah, aku mau ini saja," ujar Alisa. "Aku bosan dengan ayam terus."
"Mungkin Ayahmu mau," lanjut Farida berjalan keluar mengambil bungkusan itu di ruang tamu. Dia kembali lagi ketika melihat Alisa sudah duduk di kursi makan dengan sepiring nasi yang sudah diberi sayuran oleh Kaisar.
"Kami akan makan ini saja," ujar Kaisar.
"Itu tidak lebih enak dari ayam teriyaki ini." Farida membawa kotak berisi makanan Jepang.
"Kami sudah bosan makanan seperti itu." Kaisar lantas mengambil makanan sendiri. "Maaf aku ambil makananmu dulu sebelum kau persilahkan."
Farida tersenyum.
"Kau tidak ikut makan bersama kami?" tanya Kaisar.
"Aku sudah makan tadi." Farida melihat Alisa kesulitan menyendok makanannya sendiri. Dia lantas maju dan duduk di sebelah gadis cilik itu.
"Biar Tante bantu," katanya menyuapi Alisa dengan sabar.
Kaisar melirik dengan senang. Sebenarnya ini yang dia harapkan dari dulu. Sebuah keluarga yang hangat. Namun, Cantika selalu sibuk dengan pekerjaannya walau begitu dia tidak bisa menyalahkan wanita itu. Cantika adalah tulang punggung keluarganya. Jadi dia harus mewarisi perusahaan milik ayahnya.
"Berapa umurmu, Ida?"
"Belum genap dua puluh empat," jawab Farida cepat. Setelahnya dia tertegun sejenak, terdiam.
Kaisar mengingat resume tentang Farida yang dia baca. Seharusnya umur Farida itu dua puluh delapan, kenapa bisa dua puluh empat tahun.
"Masih sangat muda. Jika ditilik dari kecelakaan yang ku alami maka saat itu kau masih berumur delapan belas tahun, tujuh belas tahun. Tunggu, kenapa aku harus mengencani wanita belia?"
"Sudah kukatakan wanita itu bukan aku! Kau tidak punya bukti jika itu adalah aku," kilah Farida tenang.
"Jadi Tante dulu pacar Ayah?" tanya Alisa.
Farida dan Kaisar saling melihat.
"Bukan, Ayahmu salah orang. Otaknya sedang bermasalah." Farida menunjuk ke kepalanya sendiri.
"Oh."
"Sayur bayam ini segar, hanya saja terlalu asin sedikit, aku suka yang sedikit manis." Kaisar berusaha mengalihkan perhatian.
"Ku rasa selera kita memang berbeda."
"Kau bisa belajar menyatukan selera kita nantinya," lanjut Kaisar santai. Entah mengapa dia sangat suka sekali melihat wajah kesal Farida.
"Pak, ada putri Anda di sini. Bisakah Anda mengendalikan ucapan Anda."
"Ayah dan Ibu mau berpisah," ujar Alisa dengan mata berkaca-kaca.
Farida merenggangkan kedua tangannya ke arah Kaisar sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu menggendong Alisa dan membawanya ke sofa keluarga yang letaknya bersebalahan dengan meja makan.
"Orang tua apa yang membiarkan anaknya mendengar pertengkaran kalian. Egois."
Alisa dipangku oleh Farida. "Kalau ingin menangis menangis saja, jangan ditahan."
"Kata Ibu anak kuat tidak boleh menangis. Kalau aku suka menangis Ayah tidak akan suka padaku," ucap Alisa sesak menahan tangis.
Suasana menjadi haru seketika. Farida memeluk Alisa dan meletakkan dalam dekapannya.
"Jika tidak menangis maka dadamu akan terasa sesak dan itu rasanya sakit sekali. Percayalah, aku tahu seperti apa rasanya. Maka dari itu, jika ingin menangis menangis lah dengan keras sehingga semua orang tahu apa yang sedang kau rasakan. Katakan apa yang Alisa mau. Jangan takut."
Farida sendiri sangat kesal pada Cantika. Wanita itu tetap saja tidak berubah, bahkan pada anaknya sendiri masih bersikap keras. Entah terbuat apa hatinya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Sekarang setelah semua yang dia miliki apakah dia bahagia? Farida rasa tidak.
"Sekarang katakan apa yang kau rasakan semuanya. Ayahmu akan mendengarkan."
"Apakah Ayah akan marah dan membenciku kalau aku mengatakannya?" tanya Alisa menatap takut ke arah Kaisar.
Farida melihat dengan tatapan menuduh pada Kaisar. "Aku selalu berusaha jadi ayah yang baik untuknya. Tidak pernah memarahinya."
Farida memejamkan mata sejenak. " Entah doktrin apa yang diberikan oleh Cantika pada Alisa sehingga anak ini ketakutan mengungkapkan perasaannya!"
"Kau dengar ayahmu tidak akan memarahi atau membencimu."
"Kau tahu Ayah sangat mencintaimu," lanjut Kaisar.
Alisa mengangguk.
"A-aku ha-hanya ingin Ayah dan Ibu seperti lainnya. Menemani aku bermain, tertawa, bahagia...."
"Bahkan karena keegoisan ibumu, Maulana hidup tanpa ayahnya sekarang," batin Farida.
Mungkin ini jadi balasan Tuhan atas apa yang telah terjadi rumah tangga Cantika memang tidak bahagia tanpa dia rusak. Dia hanya perlu merebut Alisa dari diri Cantika untuk langkah selanjutnya.
"Kau tidak bisa memaksakan sesuatu yang kau inginkan pada orang lain." Kaisar tertegun mendengar ucapan Farida.
"Namun, kau bisa mencari kebahagiaanmu sendiri. Jika ayah dan ibumu bukan orang tua sempurna maka kau harus jadi anak kuat. Di sana masih banyak anak lain yang tidak punya ayah dan ibu, serta hidup di pinggir jalan, tanpa rumah. Sedangkan kau punya segalanya. Jika kau sedih karena tidak punya teman bermain, kau punya nenek dan kakek yang sayang padamu. Kalau kau bosan pergi ke rumah mereka dan ajak mereka menemanimu."
Mata Alisa yang polos melihat Farida tanpa berkedip. "Kita harus bersyukur atas apa yang ada dalam hidup. Bersyukur Alisa punya Ayah dan Ibu, masih bisa melihat mereka walau sebentar. Bersyukur Alisa punya rumah yang besar dan bagus, punya mainan yang banyak dan punya paman bibi pelayan yang pasti mau menemani Alisa bermain."
"Kalau mau punya teman bermain, di sekolah pun ada teman bermain juga kan?"
"Mereka nakal, Tante, Maulana juga sering meledekku," jujur Alisa menatap takut pada Farida. Farida lalu tertawa.
"Dia hanya suka melihat kau menangis, jika kau tidak menangis maka dia akan lelah sendiri. Tapi besok Tante akan bilang pada Maulana agar tidak nakal lagi padamu. Terkadang anak itu memang menyebalkan dan menjengkelkan."
"Iya, dia ikut mewarnai kertas tugasku katanya warnanya salah. Kan aku tidak suka. Dia juga suka beri sayuran ke wadah makananku, sayuran yang tidak aku sukai. Dia ...."
"Hush..., Maulana hanya ingin mengajarimu tentang hal yang dia suka bukan nakal."
"Tapi aku tidak suka. Dia juga suka menarik kucir rambutku," lanjut Alisa.
"Ya... ya, nanti Tante akan marahi dia karena nakal padamu."
Farida meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Alisa.
"Sekarang anak cantik tidak sedih lagi kan? Ayahmu sudah dengar semua yang kamu inginkan. Tante rasa nanti dia akan berubah, bukan begitu, Pak Kaisar?"
Alisa menatap ke arah Kaisar.
"Humm," jawab Kaisar.
"Sekarang sudah hampir sore, kau pulang ya. Ibumu pasti mencarimu," ujar Farida.
"Ibu belum pulang kerja, pulangnya nanti malam," jelas Alisa.
"Hanya saja kau harus pulang, mandi, ganti baju dan istirahat," sambung Farida.
"Apa yang Tante Farida katakan benar, Sayang. Kita pulang sekarang."
"Kita tidak akan menengok Maulana, Yah?"
"Bukankah tadi Tante sudah jelaskan jika Maulana sedang di rumahnya sendiri."
Hachi!
Terdengar suara orang bersin dari lantai atas. Suara seorang anak kecil.
"Itu seperti suara Maulana bersin, Tante?"
Wajah Farida panik seketika. Mata tajam Kaisar sendiri melihat ke arah atas.