
Emilio menghentikan kegiatan panasnya, mengambil sesuatu dalam celana.
Rose mengamati pria itu. Dia mengambil bungkusan plastik yang Rose tahu apa itu isinya. Moodnya langsung turun.
"Kau mau memakai itu di malam pertama kita?" Rose lalu duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku hanya ingin berjaga-jaga." Rasa kecewa mampir di dada Rose ketika mendengar hal ini.
"Berjaga-jaga dari apa? Aku masih bersih, belum tersentuh pria manapun."
Emilio tersenyum sedih. Menyentuh pipi Rose. Wanita ini sangat mudah marah.
"Aku tahu itu karena aku yang selalu menjagamu selama ini. Kau lupa dengan hal itu?"
"Lalu? Kau takut aku hamil?"
"Aku suka jika kau hamil, tapi aku lebih peduli dengan kesehatanmu. Sangat berbahaya jika sampai kau mengandung dan melahirkan. Aku tidak bisa membayangkannya."
Sekali lagi, Rose tersentuh mendengar ucapan Emilio. Matanya berkaca-kaca. Ibunya benar jika hanya Emilio yang bisa mengerti dirinya dan bisa menjaganya. Bahkan dirinya sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu.
Rose mulai menitikkan air mata. "Kenapa kau sebaik ini?"
Emilio memeluk Rose. "Kau itu istriku kewajibanku menjagamu. Rasa sakitmu juga akan menjadi rasa sakitku."
"Jangan memakai ini! Kita bisa menggunakan pil kontrasepsi."
"Kau yakin?" tanya Emilio. "Apa itu tidak akan mempengaruhi tubuhmu?"
"Aku tidak selemah itu, lagipula ada kau, apa yang harus kutakutkan."
Emilio menatap Rose dalam. Menghela nafasnya. "Aku kira setahun pernikahan kita hanya akan ada pertengkaran. Ternyata kau tidak seburuk itu."
Rose tersenyum lalu memukul lengan pria itu.
"Bagaimana aku bisa marah kalau kau selalu mencoba untuk mengerti aku."
"Singa betina mulai jinak menjadi kucing Angora yang cantik."
"Kau pejantan liarku," kata Rose yang mulai memicu malam panas pertama mereka.
(Puasa jangan bayangin yang aneh-aneh)
Pagi menjelang, tapi udara masih terasa dingin menusuk kulit. Dua insan masih tetap diatas tempat tidur saling berpelukan. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
Emilio menatap istrinya yang kini tertidur pulas di dadanya. Dia tidak menyangka di usinya yang hampir mencapai 40 tahun akan menikah dengan seorang wanita cantik kelas atas. Walau awalnya penuh drama.
Tangannya membelai pipi Rose yang kenyal dan bersih. Wanita ini seperti anak kecil dalam tidurnya. Tubuhnya tambah merapat ketika angin masuk dan melewati kulitnya yang tidak tertutup. Kepala wanita itu juga bergerak di dada Emilio membuat pria itu kembali merasakan keinginan untuk menyatukan tubuh mereka.
Andai saja dia tidak ingat jika Rose dilarang untuk terlalu kelelahan, malam tadi dia pasti akan ******* habis wanita itu.
"Kau sudah bangun?" ucap Rose malas masih tetap memeluk tubuh besar Emilio.
"Sudah subuh," balas Emilio sambil meringis.
"Jangan bergerak terus," ujar pria itu lagi.
"Kenapa?" Rose membuka matanya bingung.
Emilio hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih.
"Aku akan mandi, meredamnya. Aku tahu kau pasti lelah dan masih sakit."
Rose menganggukkan kepala dengan wajah polosnya. "Punyamu sangat besar dan itu terasa mengganjal. Namun, itu hal biasa di malam pertama untuk yang pertama kali juga."
"Ini juga yang pertama untukku," ujar Emilio jujur, membuat Rose terkejut.
"Aku tidak percaya, kau pasti berbohong."
"Aku tidak punya waktu untuk sekedar bermain dengan wanita. Dulu memang ada wanita yang pernah singgah di hatiku. Hanya saja dia keburu menikah dengan pria lain ketika aku masih menjalani pendidikan militer. Setelah itu banyak hal yang terjadi yang membuatku memilih untuk menjauhi wanita. Aku kira selamanya aku akan hidup sendiri dan mati dalam keadaan perjaka. Ternyata Tuhan masih baik padaku dengan memberikan seorang wanita cantik dan hebat sepertimu masuk ke duniaku yang sepi."
Wajah Rose memerah, seperti bunga mawar. Emilio selalu bisa membuat dia melayang. Dia memasukkan kepalanya di dada berlekuk dan berisi pria itu. Ya, tubuh Emilio seperti model pria yang seksi dengan kotak enam di perutnya bahkan lebih seksi dari mereka.
"Ayo kita mandi, lalu sholat berjamaah," ajak Emilio.
Sholat. Lama Rose tidak melakukan sholat subuh atau isya, kecuali Maghrib. Itupun kalau di rumah Ibunya. Ayah Ale akan marah bila ada yang tidak ikut berjamaah di rumah.
"Dingin," ujar Rose malas.
"Ish, jangan membuatku masuk ke neraka karena tidak mengajari istriku untuk sholat tepat waktu."
"Gendong," ujar Rose.
Emilio lalu mengangkat dan membawa Rose ke kamar mandi.
(Cerita Emilio nanti akan menyambung dengan cerita Kaisar, mereka dalam satu kesatuan cerita yang tidak bisa dipisahkan.)
Sedangkan pagi di rumah Kaisar nampak berbeda. Biasanya rumah ini sepi karena jarang sekali Kaisar datang ke sini. Paling ketika dia butuh waktu sendiri.
Semalam ketika Kaisar dan Farida berdebat, Maulana datang sehingga membuat mereka harus berhenti dan berakting untuk menjadi orang tua yang baik.
Kaisar sebenarnya penasaran dengan ucapan Farida hanya saja wanita itu kekeh tidak mau memberitahu hal sebenarnya. Kata wanita itu, belum waktunya.
Kaisar membuka mata ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Semalam Maulana merengek ingin tidur bersama ayah dan ibunya sekali saja. Melihat anaknya seperti itu, Farida tidak tega dan membiarkan Kaisar ikut tidur di kamar itu.
Sebenarnya ini kamar utama, memang diperuntukkan untuk mereka berdua nantinya. Hanya saja Kaisar mengalah untuk menempati kamar lainnya sebelum mereka benar-benar menikah.
Kaisar menatap ke arah putranya yang masih tidur pulas memeluk kakinya. Terlihat lucu. Dia juga suka tidur bersama Alisa. Hanya saja putrinya itu lebih suka tidur di sudut tempat tidur menghadap tembok. Tidak suka di peluk, gerah katanya. Namun, dia suka merengek untuk ditemani tidur olehnya karena ibunya sangat sibuk dan sering pulang malam.
Farida keluar dari kamar mandi dengan tampilan segar. Terlihat cantik tanpa make up. Dia lalu pergi mencari tasnya dan mengeluarkan mukena dan memakainya. Dia terlihat bingung. Lalu mengambil handphone mencari tahu mana arah kiblat di rumah itu.
"Menghadap ke balkon," kata Kaisar.
Pria itu lalu bangkit. "Tunggu aku."
Kaisar langsung bergegas ke kamar mandi lalu mengambil sajadah di dalam lemari yang masih berisi bajunya sendiri.
"Aku belum memindahkan pakaianku," ujarnya mengerti arti tatapan Farida.
Setelahnya dia menggelar sajadah di depan sajadah Farida. Mereka lalu sholat berjamaah. Terasa nikmat dan tenang. Hal yang tidak pernah dilakukan dia dan Cantika.
Farida tidak terkejut Kaisar menjadi imamnya karena di kantor pun saat waktu sholat dia akan pergi ke mushola untuk sholat berjamaah.
Yang membuat terkejut adalah ketika Kaisar meledeknya dengan mengulurkan tangan untuk dicium. Farida melebarkan matanya.
"Biar terbiasa nanti."
"Belum tentu aku akan jadi istrimu!" Farida melipat mukenanya dan meletakkan lagi di tas.