
"Rose! Apa kau sudah gila! Selama ini kami diam bukan karena tidak tahu. Namun, kami pikir Kaisar lebih tahu apa yang harus dia lakukan ke depannya. Keputusannya sudah tepat dengan menikahi Cantika. Pikiranmu yang seharusnya dibenarkan," bentak Dara yang baru masuk ke dalam rumah.
"Namun, dia tidak bahagia, aku juga tidak bahagia dan istrinya juga tidak bahagia, mungkin karena kita masih terjebak di satu siklus percintaan yang rumit. Kaisar memaksakan diri mencintai Cantika, tapi perasaannya untukku. Apakah kalian masih menutup mata dengan itu?"
Alehandro mendekat ke arah Rose. "Rose, walau dia masih mencintaimu, tidak seharusnya kau menginginkannya karena dia telah menikah. Permasalahan dia bahagia atau tidak itu masalah pribadi Kaisar dan Cantika. Biarkan mereka menyelesaikan itu. Yang harus kau lakukan adalah berusahalah membuka hatimu untuk pria lainnya. Walau itu sulit, tapi Dad yakin kau akan bisa menemukan pria yang tepat untukmu."
"Dad, bagaimana aku bisa dekat dengan pria jika hidupku selalu dibayangi oleh kalian!"
"Pria yang baik akan datang pada Ayahmu Kris atau Mom terlebih dahulu sebelum berhubungan dekat denganmu. Bukan berarti Mommy tidak membolehkanmu berhubungan dengan pria, hanya saja Mom tidak mau kau menanggung kesalahan yang sama seperti Mom."
Rose menunduk sedih.
Kaisar tersenyum kecut. "Aku tidak ingat seperti apa hubunganku dengan Cantika dulu, hanya saja sebelum menikah dia sudah hamil anakku itu artinya cintaku kepadamu hanya sebatas adik dan kakak. Aku hanya menyalah artikan nya. Sedangkan hubunganku dengan Cantika sendiri itu adalah masalah internal kami dan sedang kami selesaikan. Membentuk sebuah keluarga tidak semudah membuat sebuah perusahaan bagiku, jauh lebih sulit. Aku dan Cantika sama-sama sedang di tahap proses belajar saling mengerti dan memahami perasaan masing-masing," terang Kaisar.
Rose menatap tajam ke arah Kaisar. Dia pikir Kaisar hanya sedang menutupi masalah dia yang begitu pelik dengan istrinya.
"Sebisa mungkin, aku akan mempertahankan pernikahanku dengan Cantika dan kuharap kau mendapatkan pria baik yang akan mencintaimu dengan tulus." Kaisar tersenyum lalu membalikkan tubuh, pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di tempat lain, Farida datang ke sebuah TK mengantarkan kue ulang tahun dan juga hadiah untuk keponakannya. Anak dari Uda Erick sedang berulang tahun sekarang dan ingin merayakannya di sekolah.
"Tante Ida sudah datang, pekik Maulana memeluk Farida yang baru datang."
"Hallo, Sayang," sapa Farida mencium keponakan angkatnya itu. "Papamu belum bisa datang karena masih ada di perjalanan, tapi dia menyuruhku untuk membawakan ini untukmu dan teman-temanmu," kata Farida. Dia melihat ke arah Uyun, istri dari Uda Erick.
"Maaf, jika sebelumya Uda tidak memberitahu."
Uyun mendekat ke arah Farida dan berbisik. "Orang seperti dia mana ingat dengan ulang tahun anaknya, punya istri saja sampai dia lupa. Untung ada kamu yang mengingatkan. Kalau tidak, aku jamin dia akan lupa," ujar Uyun kesal karena sampai saat ini, di saat anaknya ulang tahun Erick tidak pernah mengingatnya.
Farida tersenyum canggung. Ya, ini memang kejutan yang dia rancang sendiri. Farida menatap ke salah satu anak yang terdiam di sudut lain dari kelas. Tersenyum ke arah gadis kecil itu.
Acara ulang tahun pun dimulai semua anak terlihat bahagia. Mereka berebut meminta kue ulang tahun, tapi hanya satu anak yang duduk terdiam, sibuk dengan dirinya sendiri.
Farida mengambil satu iris kue dan mendekati gadis kecil itu.
"Hallo, apakah kau mau kue ini? Ini sangat lezat karena aku yang membuat sendiri."
Anak itu menunduk dan menggelengkan kepala, tetap menggambar di kertasnya. Farida menghela nafas.
"Biarkan saja, Tante. Dia sedih karena hari ini juga hari ulang tahunnya. Hanya saja mama papanya tidak ada yang datang. Katanya, nanti di rumah orang tuanya akan merayakannya dengan meriah karena mama papanya kaya," teriak Maulana yang di iyakan oleh teman lainnya.
"Hush, kalian jangan seperti itu pada Alisa." cetus Bu Guru membuat seluruh siswa terdiam.
"Oh, jadi kau sedang berulang tahun juga? Seharusnya kau meniup lilin. Tunggu sebentar, tadi Tante bawa dua lilin berangka 5," kata Farida sambil pergi mengambil lilin kecil. Lilin itu kemudian diletakkan di potongan kue di tangannya.
"Kau jangan sedih, Sayang. Anggap saja ini kuemu."
Alissa mengangkat wajahnya, menatap potongan kue yang sudah diberi lilin diatasnya.
"Ayo semuanya menyanyi lagu ulang tahun untuk Alisa," kata Farida meletakkan kue itu diatas meja Alisa dan memeluk bahu gadis kecil itu sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
"Tiup lilinnya... tiup lilinnya, sekarang juga... sekarang juga... sekarang juga."
Alisa menatap ke arah wajah lembut Farida. Lalu meniup lilin kecil itu. Wajahnya yang tadinya muram sekarang berseri.
"Sekarang, Tante akan berikan hadiah untukmu," kata Farida mengeluarkannya sekotak cokelat batangan dari dalam tas.
"Ini untukku Tante?" pekik Alisa senang, memeluk cokelat itu. Ini adalah hadiah pertamanya hari ini.
"Terimakasih," kata Alisa merdu, memeluk pinggang Farida.
"Aku mana, Tante?" tanya Maulana iri.
"Tante sudah kirimkan ke rumahmu hari ini. Sebuah sepeda kecil berbentuk motor yang bisa kau gunakan bermain di rumah."
"Wah, Tante ku ini memang baik hati."
Farida lantas tersenyum ke arah Hanafi yang sedang memperhatikan dia dari pintu ruang kelas. Mengangkat kedua alisnya dan menggerakkannya.
Satu jam kemudian, Farida dan Hanafi sudah ada di tempat parkiran perusahaan Cortez.
"Kau yakin ini akan berhasil?" tanya Farida tidak percaya diri.
"Tergantung padamu, jika kau bisa tenang ketika menjadi Farida maka akan berhasil. Ingat, Kaisar bukan orang bodoh yang mudah untuk dibohongi."
"Kakiku gemetar jika berada di dekatnya."
"Semoga bukan karena cinta, ha ... ha ... ha ...."
Farida menoleh dan menatap Hanafi tajam. "Tidak lucu!"
"Lagipula kalian dulu punya hubungan dekat, apakah dia pria yang menghamilimu dulu?" tanya Hanafi lagi.
"Aku keluar!" Farida keluar untuk memutuskan pembicaraan ini.
"Kau marah? Jika marah malah tambah cantik, bisa-bisa Kaisar akan tergoda."
Farida menutup pintu mobil dengan keras.
"Galak sekali dia jika membahas Kaisar," gumam Hanafi sambil mengangkat kedua tangan melihat Farida pergi masuk ke dalam lift.
Farida memencet tombol lantai dimana ruangan Kaisar berada. Dia berharap ditempatkan di ruangan yang jauh dari pria itu.
Semua nampak menatap wanita itu karena gosip tentang kebersamaan mereka kemarin mulai tersebar. Selama ini, Bos mereka tidak pernah mengajak seorang wanita pun masuk ke mobilnya selain dari istrinya sendiri.
"Selamat pagi," sapa Farida pada sekretaris Kaisar yang terlihat sibuk dengan komputernya.
Wanita itu berpakaian sederhana, kacamata tebal menghiasi wajahnya yang tanpa polesan make up. Penampilan sangat sederhana untuk seorang sekretaris perusahaan besar. Bahkan penampilan resepsionis bawah saja seratus kali lebih baik darinya.
Namun, mungkin kemampuan wanita ini diatas rata-rata sehingga Kaisar mengambilnya atau juga karena Cantika yang tidak suka Kaisar punya sekretaris cantik. Dia cemburu sehingga Kaisar memutuskan untuk mengambil sekretaris jelek. Kalau iya, berarti Kaisar terlihat sangat mencintai kakaknya itu.
"Ya," kata Betty sambil menaikkan kacamatanya. Wajahnya nampak polos.
"Nama saya Berliana Farida Purba, ingin bertemu dengan Tuan Cortez."
"Oh, Anda Nona Farida, ehm... ehm... Tuan sudah menunggu sedari tadi. Anda bisa masuk Nona," kata Betty tersenyum, dia bicara dengan logat jawanya yang kental.
"Tapi hati-hati Nona," bisiknya pelan.
Farida mengangkat alisnya. Lalu tersenyum. Sepertinya dia akan menyukai Betty, dia tidak terlihat angkuh atau sombong.
Farida langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Dia masuk dan terkejut melihat ada beberapa orang di sana.
"Apakah ini perusahaan ayahmu, sehingga kau bisa masuk seenakmu sendiri?" bentak Kaisar di depan semua orang, membuat wajah Farida pucat pasi.
Jika dia sering berada di dekat Kaisar maka tidak akan baik untuk kesehatan jantungnya.