
Pagi hari sebelum Fadil dibawa ke rumah sakit, di rumah keluarga Fadil.
Mereka sedang menikmati sarapan pagi. Suasana sangat tenang
"Jadi hari ini kau akan mendatangkan pengacaramu ke rumah?" tanya Ira berhati-hati.
Fadil mengangguk.
Ira menghela nafas lega. Dia melihat ke arah pintu. Fadil seperti mengerti maksudnya.
"Mereka akan datang jam 1 siang," jelas Fadil menyelesaikan makannya.
"Jangan lupa kau hubungi Cantika untuk datang kemari."
Tanpa mereka sadari seorang pelayan yang selama ini dekat dengan Airlangga atau Farida memberitahu keadaan ini dengan mengirimkan pesan.
Farida yang menerimanya langsung mengkoordinasikan masalah ini dengan para kakak angkatnya. Lalu mereka mulai membuat rencana dadakan.
Jam satu sudah lewat, tapi pengacara yang ditunggu belum datang juga. Ira terlihat sangat khawatir.
"Sabar, Sayang. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan. Apakah kau sudah hubungi Cantika untuk datang kemari?" ujar Fadil melipat koran yang dia baca.
"Sudah, Sayang, tapi kok dia belum juga datang ya?" ujar Ira sambil melihat handphone di tangannya. Dia mencoba menghubungi Cantika, tapi tidak diangkat.
"Mungkin dia sedang ada rapat."
Handphone milik Fadil berbunyi. Dia lalu mengangkatnya.
"Pak Siswo, ada apa, Pak?"
"Oh, ya, jadi sedikit terlambat ya," ujar Fadil.
Setelah mematikan handphonenya Ira tidak sabar bertanya pada suaminya.
"Ada apa, Sayang?"
"Itu mobil Pak Siswo mengalami pecah ban di jalan jadi harus dibawa ke bengkel dulu. Aku bilang tidak usah terburu-buru. Bisa nanti sore saja."
Ira menghembuskan nafas kesal. Sepertinya hari ini ada-ada saja. Tinggal tanda tangan kok ya dipersulit oleh, Tuhan. Pikirnya.
Mereka lalu terdiam, asik dengan pikiran masing-masing.
Pelayan mata-mata Farida kembali lagi masuk ke ruangan. Membawa baki berisi dua es kelapa muda yang terlihat segar.
"Tuan, Nyonya, udara diluar sangat panas, aku buatkan es kelapa muda hijau."
"Kau sangat pengertian sekali," ujar Ira meneguk minuman itu.
"Sudah lama saya ikut dengan Tuan dan Nyonya, jadi saya sudah faham apa yang harus saya lakukan."
"Kalau begitu saya permisi ke belakang. Mau membereskan dapur."
"Iyo. Bik katanya mau pulang kampung?" tanya Fadil.
"Nggih, Tuan. Saya sudah ijin dengan Nyonya. Niatnya besok saya berangkat ke kampung melihat anak."
"Kalau begitu Bibik bisa pergi diantar Pak Slamet membeli oleh-oleh pakai motor untuk keluarga."
"Tidak usah, Tuan."
Setelah itu pelayan itu masuk ke dalam. Lima belas menit kemudian perut Ira mulai terasa sakit.
"Ada apa, Bu?"
"Kok mulas ya? Aku mau ke kamar mandi dulu," ujar Ira meninggalkan tempat itu.
Di saat yang sama seorang kurir yang memang sengaja menunggu Ira pergi datang ke rumah. Kurir itu adalah Ryan.
"Tuan ada kurir datang, katanya kiriman penting untuk Tuan," kata pelayan itu memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat.
Fadil mengerutkan dahinya. Nama yang tertera sebagai pengirim tidak di kenalnya. Dia lalu membuka amplop itu. Matanya membelalak besar ketika melihat deretan foto di depannya. Tangannya seketika bergetar hebat.
"Tuan... Tuan, Anda kenapa?" ujar wanita itu histeris. Beberapa pelayan di rumah itu langsung masuk ke dalam.
"Nyonya... Nyonya ...."
"Ira!" teriak Fadil sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
Ira yang mendengar keributan di ruang tamu langsung berlari mendekat. Dia melihat tubuh suaminya mengejang.
"Ayah ... Ayah ... kau kenapa?" seru Ira panik.
Baru dia mendekat. Dia melihat tumpukan foto dirinya dengan Samson yang masih di pegang oleh Fadil.
"Aku ... aku bisa jelaskan." ujar Ira gemetar mengambil semua foto yang ada.
Namun, semua sudah terlambat. Fadil menatapnya penuh kebencian sebelum tidak sadarkan diri.
"Kenapa kalian diam saja, cepat panggilkan ambulans."
"Satu lagi, jangan ceritakan masalah ini pada siapapun jika ingin nyawa kalian selamat. Aku bisa melakukan apapun pada kalian atau keluarga kalian," ancam Ira.
"Baik, Nyonya kami akan melupakan kejadian ini."
"Jika ada yang bertanya bilang saja kalau kalian menemukan Tuan sudah tidak sadarkan diri."
Semua orang ditempat itu menganggukkan kepalanya.
Para pelayan yang melihat itu hanya bisa terdiam sambil mengurut dada melihat kelakuan Nyonya mereka di belakang majikan pria.
Fadil langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Cantika lalu dihubungi oleh ibunya.
"Kenapa sih kok tidak diangkat-angkat. Cantik ... ayo ...." ucap Ira dengan panik dan gugup.
Akhirnya panggilan itu tersambung juga.
"Ya, Ibu."
"Cantika... ayahmu ... dia tiba-tiba terkena serangan jantung dan kini dibawa ke rumah sakit. Keadaannya kritis."
Cantika terlihat berlari mendatangi ruang UGD di mana ayahnya akan melakukan operasi. Dia melihat ibunya yang duduk kursi sambil menopang dagunya menatap kosong ke depan.
Cantika lalu mendekat.
"Ibu... apa yang terjadi?" tanya Cantika cemas dan takut.
"Entahlah, semuanya terjadi dengan tiba-tiba. Dokter akan melakukan operasi karena ada darah yang menyumbat pembuluh belakang otak." Ira memeluk anaknya dan menangis.
Dia bukan menangisi suaminya yang bertarung nyawa di dalam ruangan itu, tapi menangisi kenapa kejadian ini datang ketika Fadil belum menandatangani surat pengalihan kekayaan.
***
Malam harinya di rumah Kaisar.
Farida terlihat berdiri sendiri di balkon kamarnya. Menatap gelapnya langit yang ditaburi bintang-bintang.
Tadi, dia sudah menidurkan Maulana di kamarnya sendiri. Sedangkan Kaisar menidurkan Alisa. Anak itu tadinya mau dekat dengan Farida, hanya saja karena masalah ini dia seperti menjauh dan seperti memusuhi Farida. Farida tidak perduli dengan itu. Hatinya hanya berisi dendam dan dendam saja.
Handphone di tangannya berdering. Farida menerima panggilan dari kakaknya.
"Assalamualaikum, Uda? Bagaimana keadaan ayahku?" tanya Farida cemas. Bagaimana pun buruknya Fadil dia tetap orang tuanya.
" Wa'alaikum salam. Dia sedang dioperasi."
"Yang penting Ayah tidak menandatangani surat pengalihan harta kekayaan itu kan?" tanya Farida lagi.
"Belum. Semua masih aman. Kau temui dia karena belum tentu dia bisa bertahan hidup."
Farida menghela nafas keras seperti ada beban besar di hatinya.
"Apakah dua orang itu akan memperbolehkan ku menemuinya?"
"Kau minta bantuan Kaisar saja?"
"Kau benar!"
"Terimakasih, Uda atas bantuannya hari ini. Tanpamu aku masih menjadi Airlangga yang bodoh."
"K*au sendiri yang membantu dirimu sendiri untuk bangkit dari keterpurukan dan berjuang sampai sejauh ini. Kami hanya mendukungmu sebagai Kakak."
"Ingat ini baru awal, mereka pasti tidak akan menerima dan melakukan hal buruk padamu atau Maulana. Kau harus berhati-hati*."
"Aku tahu itu, Uda. Aku sudah siap mati jauh sebelum aku merencanakan semua ini. Makanya aku inginnya Maulananya tahu jika Uyun dan Uda Erick, orang tuanya. Agar dia tidak terlalu bersedih misal aku tiada."
"Jangan bicarakan soal kematian, aku tidak suka. Yang terpenting sekarang kita berusaha merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu dan memberi mereka banyak pelajaran."
"Ya, Uda."
"*Ini sudah malam, kau tidurlah. Jaga dirimu baik-baik dan ingat jaga dirimu dari pria itu, kalian belum menikah. Jangan ulangi kesalahanmu yang dahulu."
Assalamualaikum*.
"Wa'alaikum salam."
Sedangkan dari luar kamar, Kaisar mendengarkan pembicaraan Farida dan Hanafi. Ya, dengan bantuan Emilio, dia telah mengkloning handphone Farida dari awal mereka bekerja sama di perusahaan. Hanya saja ketika Farida menghilang. Handphonenya tidak pernah aktif. Baru setelah dia menghubungi Hanafi, Kaisar bisa melacak keberadaannya.
Kaisar menghela nafasnya panjang sebelum memutar kenop pintu kamar Farida. Dia lalu masuk ke dalam dan melihat wanita itu berdiri di balkon. Melamun.
Suasana kamar itu gelap karena lampu kamar dimatikan, hanya cahaya bulan saja yang masuk lewat pintu balkon.
Dengan gerakan pelan Kaisar mendekat ke arah Farida. Angin sepoi-sepoi malam tanpa sengaja membuat rambut bergerak-gerak sehingga mengenai wajah Kaisar. Dia mengambil ujung rambut itu dan menciumnya.
Wangi parfum bayi khas Farida membuat Kaisar terbuai sejenak.
Farida yang merasakan ada sesuatu yang aneh di belakang tubuhnya menoleh. Dia terkejut ketika melihat Kaisar sedang memegang rambutnya.
"Kenapa berdiri sendiri di luar?" tanya Kaisar.
"Tidak apa-apa," ujar Farida merapatkan jubah baju tidurnya yang tersingkap.
Suasana malam itu terasa syahdu untuk mereka berdua.
"Kenapa? Apakah masalah tadi membuatmu sedih?"
Farida menganggukkan kepalanya.
"Kau bisa menceritakan apapun padaku dan meminta bantuanku, jangan sungkan," tawar Kaisar.
Farida melirik sekilas sambil memasukkan rambutnya ke belakang telinga. Kaisar merasa terpesona yang melihat kecantikan wanita itu malam ini. Natural, tapi tetap menarik dan seksi dengan pakaian malam ini. Walau tertutup jubah transparan, bentuk pakaian itu masih bisa terlihat jelas.
Lingerie pendek dengan dua tali di bagian atas. Betty yang memilihkan. Seleranya memang bagus walau penampilannya jelek.
"Kau selalu tahu apa pikiranku," balas Farida melihat ke arah depan.
"Memang bantuan apa yang kau perlukan? Membantumu menemui ayah mertua?"
Farida menoleh ke arah Kaisar dengan terkejut. Dia lalu menganggukkan kepala sambil menunduk.
Kaisar memegang dagu wanita itu dan mengangkatnya.
"Kau tidak harus menundukkan pandanganmu pada semua orang. Apalagi jika kau bersamaku. Kau tidak perlu takut pada apapun juga karena aku akan selalu berada di sampingmu," ucap Kaisar.
Farida kembali tercengang. Bibirnya yang merah alami terbuka membuat naluri Kaisar sebagai lelaki bangkit. Satu tangannya lalu menyentuh pipi halus Farida. Mengusap dengan ibu jarinya lembut.
"Jika kau ingin menangis, menangislah, tidak perlu sembunyi. Jangan berpura-pura kuat sedangkan kau sendiri terluka parah. Ada aku disini yang dengan rela menukar nyawaku untukmu."
Bukannya terharu, Farida malah tertawa.
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Tidak ada, yang salah. Hanya saja aku lebih suka kau yang angkuh terlihat lebih menantang, bukan yang seperti ini. Ah, sudahlah." Farida lalu berjalan menuju ke tempat tidurnya.
"Menantang," gumam Kaisar sambil mengusap dagunya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis.
"Kau keluarlah, aku mau tidur," usir Farida merapikan tempat tidurnya.
"Bagaimana jika aku tidak mau," goda Kaisar yang tiba-tiba sudah berada di belakang Farida membuat tubuh wanita itu tiba-tiba menegang.