
Farida berjalan kembali pulang, namun ketika dia melewati koridor yang bersebelahan dengan ruang dimana ayahnya berada dia tertegun. Nampak kesibukan di depan ruangan itu. Dokter dan perawat terlihat hilir mudik di sana. Ira dan Cantika berdiri ketika salah seorang dokter berbicara dengan mereka. Raut tegang terlihat dari keduanya. Terutama Ira.
Mendadak rasa takut hinggap dihati Farida. Walau Fadil itu sangat jahat padanya dan sang ibu, tapi dia tetap ayahnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ayahnya? Itu artinya dia yang membunuh ayahnya karena apa yang mereka bicarakan tadi. Tidak, dia tidak sejahat itu.
Farida lalu bergegas mendekat ke arah itu. Samar-samar dia mendengar sang dokter berbicara.
"Ini adalah kemajuan baik, Tuan Fadil bisa kembali sadar hanya saja kita menunggu kondisi tubuhnya setelah menderita koma selama beberapa hari ini. Apakah itu akan memperparah struk yang di deritanya atau apa? Hanya saja...." Dokter itu terlihat ragu mengatakannya.
"Hanya saja apa, Dokter!" tanya Ira tidak sabar. Dia takut Fadil membongkar semua kebenarannya dan lalu mengusirnya.
"Hanya saja beliau tadi tidak bisa menggerakkan separuh tubuhnya yang lain. Wajahnya terlihat sudah tidak simetris lagi. Kemungkinan besar dia menderita stroke total atau Gangguan ujaran disebut afasia atau dysarthria. Disartria adalah kesulitan saat melakukan ujaran karena wajah, mulut, dan lidah atau rahang lemah. Jadi beliau akan mengalami sulit berbicara dan menelan makanan."
Ira menangis keras walau dalam hatinya merasa lega. Setidaknya, setelah ini tidak akan ada yang tahu dengan apa yang telah diperbuatnya selama ini. Sakitnya Fadil sebagian juga karena ulahnya dengan memberikan obat yang salah sehingga kesehatannya tidak berkembang secara semestinya.
"Namun, jangan khawatir beliau akan bisa bicara dan mengunyah jika kita melakukan terapi. Keluarga harus banyak memberikan dukungan untuk kesembuhannya. Saat ini mungkin dia masih shock dengan apa yang terjadi jadi tenangkan dia dan katakan bahwa ada kita yang akan mendampinginya."
"Baik, Dokter kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan suami saya." Terdengar Isak tangis Ira.
"Kalau begitu saya pergi dahulu untuk memberikan pertolongan pada yang lain, ada Dokter Septian yang sedang melihat efek dari stroke yang diderita oleh Pasien. Setelah ini, kalian bisa berkonsultasi dengan beliau."
"Terima kasih Dokter Arham," ujar Cantika pada Dokter Spesialis penyakit dalam. Dokter itu lantas pergi meninggalkan mereka.
Cantika lalu memeluk ibunya yang terlihat terpukul dengan masalah ini . "Ya, Tuhan. Cantika mengapa ujian bertubi-tubi datang kepada kita."
Terdengar bunyi tepuk tangan dari sebelah kiri keduanya.
"Ini bukan ujian tapi karma yang harus kalian jalani atas semua kejahatan yang kalian lakukan. Terutama kau, Ira!" ujar Farida.
Cantika melepaskan pelukannya pada Ira dan tersenyum sinis menatap ke arah Farida.
"Kau memang terlihat polos dari luar, tapi sangat jahat."
"Aku belajar dari kalian."
"Yang sakit di sana adalah ayah kita dan kau tidak punya simpati sama sekali!" ujar Cantika.
"Ayah ku bukan dirimu!" ujar Farida.
"Apa maksudmu?" tanya Cantika gagap. Ira nampak ikut terkejut mendengarnya.
"Kau tanya saja pada wanita busuk ini. Apa yang terjadi pada ayah adalah hasil dari perbuatan jahatnya selama ini. Hmm ... aku hanya membuka sedikit kebenaran itu, tapi ayah terlalu mencintainya sehingga tidak kuat menahan kesedihannya lalu seperti inilah."
"Ibu ... apa maksud Farida, coba katakan!" desak Cantika shock. Matanya merah dan nanar menatap ke arah ibunya.
"Aku pembohong?" Farida tertawa. "Cantika kau tahu sendiri seperti apa ibumu karena kalian ibu dan anak yang punya sifat sama. Suka berbohong!"
Wajah Cantika memucat seketika. Namun, dia tetap butuh kebenaran itu."
"Bu!" seru Cantika tidak sabar mengoyak lengan Ira.
"Hmm ... sebaiknya aku melihat keadaan ayah. Setelah ini, semua yang berhubungan dengan ayah akan kuurus sendiri, aku tidak butuh bantuan kalian lagi untuk mengurusnya."
Farida lalu masuk ke dalam ruangan ayahnya melewati dua wanita yang diam terpaku menatapnya. Setelah masuk ke dalam, Farida mendengar pertengkaran keduanya. Dia tidak perduli lagi.
Fadil yang sudah sadar menatap ke arah Farida dengan mata yang merah. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Hanya suara dari tenggorokan yang tidak jelas, keluar dari tenggorokannya.
"Apakah Anda keluarga pasien?" tanya Dokter Septian.
"Ya, dokter saya adalah anak dari ayah saya ini," jawab Farida mendekat.
"Ayah Anda menderita stroke dan mungkin tadi sudah dijelaskan oleh Dokter Arham. Dia akan sulit menggerakkan semua anggota tubuhnya serta kesulitan berbicara dan mengunyah. Butuh banyak kesabaran untuk merawat pasien."
"Saya akan melakukan apapun untuk kesembuhannya."
"Baiklah, proses pemulihan butuh waktu yang tidak sedikit dan kemungkinan besar untuk pulih kembali seperti sedia kala pun itu sangat kecil."
Farida mengangguk mendengar penjelasan dari Dokter yang menyarankannya untuk melakukan terapi untuk sang ayah. Setelahnya, dokter itu pergi.
Setelah kepergian dokter itu Farida mendekat ke arah sang ayah. "Aku memang tidak bisa memaafkan apa yang telah kau buat selama ini. Hanya saja aku bukan dirimu. Ibuku pasti akan marah padaku jika aku mengabaikanmu ayah. Untuk itu, aku akan merawatmu sepenuh hati. Ke depannya aku akan mengusir Ira dan Cantika dari rumah. Bukan karena aku tega pada mereka, tapi lebih kepada melindungi ayah."
Fadil meneteskan air matanya. Farida dengan tenang mengambil tisu dan menyekanya. Walau hatinya sesak, dia berusaha untuk tetap tenang.
"Cantika sudah tahu semuanya. Walau begitu, aku akan tetap mengijinkannya bertemu dengan ayah karena aku tahu dia sangat sayang pada ayah. Mungkin Cantika lebih menyayangimu dari pada aku. Seharusnya memang seperti itu kan? Karena dia yang selalu kau prioritaskan."
"Hari ini mungkin aku belum bisa menjagamu karena anakku membutuhkanku dan aku belum berpamitan pada mereka. Namun, aku akan menyuruh perawat untuk menjagamu dengan baik di sini."
Fadil mengedipkan mata tanda setuju dengan apa yang Farida lakukan.
"Satu hal yang perlu ayah tahu, jika aku melarang Ira untuk mendekati ayah. Bukan karena aku membencinya, tapi karena selama ini obat yang diberikan Ira bukan obat yang semestinya ayah konsumsi. Itu membuat keadaan ayah tidak cepat membaik."
Fadil menoleh ke samping. Semua kenyataan ini sangat memukul hatinya. Kali ini, dia hanya bisa pasrah menerima keadaan. Andaikan diperbolehkan, dia memilih mati saja daripada harus menerima kenyataan yang begitu pahit ini.
"Tidak Ayah, kau jangan berpikir macam-macam sebelum aku menyelesaikan semua urusan ini. Kau harus hidup untuk menyaksikan kebahagianku. Selain itu, kau masih punya hutang maaf pada ibuku. Kau harus bisa pulih untuk bisa pergi ke makamnya suatu saat nanti dan mencium makamnya."
Fadil menatap sedih putrinya itu. Putri yang selama ini dia sia-siakan malah dia adalah darah kandungnya sendiri dan yang selama ini dia cintai malah anak dari selingkuhan istrinya. Adakah yang lebih miris dari cerita hidupnya ini?