
Kaisar melangkahkan kaki dengan cepat ke ruangan dimana keponakan dari Farida berada. Di tangannya ada berbagai macam makanan yang sengaja di beli sebagai barang bawaan untuk mereka. Tidak lupa, dia juga membawa dua buah balon berwarna hijau dan merah. Hal konyol yang tidak pernah dia lakukan, bahkan pada putrinya sendiri.
Langkahnya terhenti ketika berada di depan pintu ruangan itu. Mengatur degub jantungnya yang tidak seperti biasanya. Setelah itu, dia memutar kenop pintu dan melangkah masuk.
"Selamat pagi," sapa Kaisar ramah dengan senyuman paling menawan di seantero jagad. Namun, senyum itu pudar ketika melihat apa yang terjadi di depannya.
"Pagi," sapa balik seorang wanita paruh baya berseragam biru.
"Di mana pasien kamar ini. Tadi masih ada...." ucap Kaisar bingung.
"Pasien sudah dibawa kembali pulang atas permintaan dari pihak keluarga."
Wajah Kaisar menegang. Sepertinya ini sebuah kesengajaan. Kondisi anak itu belum pulih betul kenapa harus dibawa pulang ke rumah? Apakah untuk menghindarinya? Jika iya untuk apa? Apakah untuk menyembunyikan jatidiri anak itu darinya? Jika memang iya, fix ada kesalahan di sini dan dia akan mencari kebenarannya.
Sedangkan di ruangan lain,
Rose terbangun ketika merasakan panggilan alam. Dia menatap ke sekitar ruangannya. Nampak sepi, tidak ada orang sama sekali. Kaisar pun tidak tampak, padahal semalam dia tidur di sofa itu.
Perut bagian bawahnya mulai menegang, dia langsung turun dan berlari ke arah kamar mandi. Langsung membuka begitu saja pintu itu dan matanya membelalak besar.
"Akh!" Teriak Rose dan Emilio bersamaan.
Rose segera menutup matanya.
"Kau sudah menodai mataku di pagi hari!" teriak Rose.
"Matamu memang sudah ternoda lama, kau bukan wanita polos, Nona," ujar Emilio menarik handuk dari gantungan untuk menutupi bagian penting tubuhnya.
Sebagian tubuhnya masih ada busa sabun. Dengan santainya dia membersihkan bagian atas tubuhnya di depan Rose.
"Beraninya kau tuduh aku seperti itu?" kata Rose sambil melihat lewat jarinya yang direnggangkan.
"Lalu aku harus mengatakan apa? Memang itu kenyataannya. Aku adalah satu-satunya saksi kebrutalanmu pada setiap pria yang kau temui."
Wajah Rose memerah karena marah, tapi apa yang Emilio katakan memang benar.
"Kenapa kau masih berdiri di situ Nona? Apakah kau mau melihat aku mandi atau ingin yang lain seperti kejadian pada malam itu?"
"Bre$ek kau! Aku hanya ingin buang air kecil," ujar Rose menahan dengan kedua paha yang dikempit agar tidak kencing di tempat.
"Tinggal kencing saja di sana. Aku akan berbalik tidak akan mengintip."
Rose sudah semakin geram, pria ini selalu saja seenaknya mengatakan apapun padanya. Seolah batasan majikan dan bawahan tidak ada jika tidak ada orang.
Rose menarik tangan besar Emilio untuk keluar. Namun yang terjadi kakinya kepeleset karena lantai licin oleh bisa sabun. Tangannya berusaha menggapai tembok yang ada malah dia memutar air shower sehingga air keluar mengenai mereka.
Untung saja tangan Emilio dengan cepat menahan tubuh kecil Rose sehingga dia tidak jatuh ke lantai.
"Tuh kan, bilang saja kalau mau ikut mandi."
"Em ... mbep... mbep...." Mulut Rose ditutup oleh tangan Emilio, jangan berteriak lagi atau orang lain mengira kita sedang melakukan apa di kamar mandi.
Pria itu mematikan air yang mengalir dan memberi tanda lewat kedua matanya, ada pergerakan di luar kamar mandi. Seorang perawat sedang memanggil, mencarinya.
"Nona Rose? Apakah kau ada di kamar mandi?"
Emilio langsung menutup pintu kamar mandi rapat. Sehingga mereka terjebak di kamar mandi ukuran kecil itu.
"Ya, aku di sini," ujar Rose yang masih ada di dekapan Emilio.
Bau harum sabun murahan menguar dari tubuh pria itu. Tangannya yang lembut menyentuh, badan Emilio yang keras, berotot dan licin karena basah. Seketika dia menahan nafas. Itu adalah tubuh pria terbaik yang pernah dia lihat selama ini.
Mendadak pikirannya tidak fokus, dadanya berdegup kencang.
"Kau datang lagi nanti, karena aku baru saja mau mandi. Mungkin setengah jam lagi," seru Rose dari dalam kamar mandi.
"Baiklah kalau begitu, kami akan kembali lagi setengah jam lagi."
Lalu terdengar suara langkah kaki menjauh dan pintu ruangan tertutup kembali.
Mereka berdua bisa bernafas dengan lega.
Emilio melepaskan tangannya di pinggang Rose sedangkan tangan Rose masih melingkari lengan Emilio.
"Lepas! Apa kau ingin mandi bersama?" ledek Emilio.
"Ih, jangan bermimpi!" ujar Rose melepaskan tangannya dari tubuh Emilio. Dia lalu membersihkannya dengan air mengalir.
Emilio mengambil tas yang dia cantel di belakang pintu kamar mandi.
"Aku akan berganti pakaian di sana. Kau jangan mengintip!" ujarnya keluar lalu menutup pintu meningggalkan Rose dengan segala kekesalannya.
"Apakah kau sudah selesai?" seru Rose dari dalam kamar mandi setelah sepuluh menit dia menunggu.
"Aman," jawab Emilio.
Rose membuka sedikit pintu kamar mandi dengan wajah cemberut.
"Ambilkan aku handuk," ujar Rose dan ********** juga.
Emilio lantas mencari apa yang Rose mau di dalam tas ransel. Dia mengeluarkan hampir sebagian isinya membuat Rose kesal.
Dia bahkan mengambil penutup dada berwarna merah dan ungu.
"Kau mau yang mana?" tanyanya memperlihatkan keduanya pada Rose yang melihat dari balik pintu.
Wajah Rose seketika berubah menjadi pias. Baru ada pria yang berani mempermainkannya.
"Yang merah saja dengan celana merah ini sekalian. Aku suka warna merah, berani sesuai dengan sifatmu," ujar Emilio lagi tanpa dosa.
Sedangkan Rose yang ada di balik sana ingin sekali memukul wajah itu. Tangannya sudah geregetan sedari tadi.
Emilio mendekat lalu menyerahkan ketiga barang itu ke tangan Rose.
"Ini, aku akan menunggu diluar. Jangan kira aku tertarik padamu. Jika iya, sudah sejak kemarin aku menyentuhmu."
Rose membuka mulutnya lebar sambil melihat Emilio keluar dari ruangan itu.
Di luar ruangan itu sudah ada Kaisar yang sedang duduk sembari memegang gadgetnya. Pria itu mengangkat wajahnya ketika melihat Emilio.
"Tidak kukira kau bergerak begitu cepat," sindir Kaisar.
"Pak, Anda salah faham, kami tadi...." Emilio nampak gagap menanggapi ucapan Kaisar.
"Tidak apa-apa, Bro, jika memang kalian berdua melakukannya dengan hati aku akan mendukung," lanjut Kaisar.
"Pak, ini tidak seperti apa yang Anda pikirkan."
Kaisar menatap jahil pada Emilio. "Berdua dikamar mandi dalam keadaan basah? Ish, anak kecil pun tahu apa yang kalian lakukan di dalam."
Emilio menggaruk kepalanya.
"Sebenarnya sejak kapan? Pasti ini bukan hal pertama kan?"
Emilio bersimpuh di depan kaki Kaisar. "Demi Tuhan Pak, saya tidak berani melakukan apapun pada Nona Rose. Tadi hanya kecelakaan kecil di kamar mandi dan tanpa sengaja tubuh kami pun ikut basah," jelasnya dengan penuh ketakutan.