
Suara tawa Farida terdengar ke setiap sudut ruangan itu. Tawa hambar hingga sudut matanya mulai basah. Antara menertawakan ucapan Cantika yang lucu karena yang sebenarnya punya muka dua itu Cantika, dan menertawakan kisah hidupnya yang tragis.
"Kalau aku ular lalu kau dan ibumu itu adalah singa berbulu domba di depan semua orang. Kau dan dia selalu mengatakan kalian adalah korban, nyatanya kalian itu adalah penjahatnya. Kau dan ibumu yang menyebabkan ibumu meninggal."
"Ha! Lalu kau mau apa? Mau balas dendam dengan cara merebut Kaisar? Jangan harap. Aku akan menjadikanmu seorang badut yang akan menari ketika ku perintah. Seharusnya itulah pekerjaan yang selama ini kau lakukan. Berpura-pura membahagiakan orang lain dengan topengmu, nyatanya di dalamnya kau itu hanya orang lemah yang butuh uang."
Cantika lalu bangkit berjalan mengambil sesuatu dari laci mejanya. "Aku ingat, kau datang pasti karena butuh uang seperti dulu kau datang juga karena uang. Berapa yang kau butuhkan? Satu milyar, dua, tiga atau lima? Tinggal katakan saja jangan sungkan. Akan kuberikan padamu secara cuma-cuma."
Cantika menandatangi kertas cek. Lalu melemparkan ke arah Farida.
"Tulis saja yang kau mau," ujarnya sambil melihat hiasan kutek kukunya yang cantik.
Farida tertawa. "Dulu dan sekarang berbeda kakakku tersayang. Jika dulu aku menerima semua penghinaanmu, sekarang tidak lagi. Kalau perlu kita mati bersama-sama dan hancur bersama-sama," ujarnya dengan suara horor.
Cantika tertegun untuk sesaat lalu tertawa mengejek walau wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Kau saja yang ikut mati bersama ibumu. Oh aku lupa jika aku pernah menguburmu, aku tidak akan keberatan untuk melakukan yang kedua kalinya."
Farida bangkit dari kursi yang dia duduki. Tersenyum tipis penuh misteri.
"Kau yakin, bukan kau atau ibumu yang terkubur hidup-hidup? Akan sangat menyenangkan jika aku bisa melakukannya. Alisa, dia gadis yang cantik, aku menyukainya dan sepertinya dia juga sangat menyukaiku. Aku tidak akan keberatan jika bermain dengannya."
Mata Cantika melotot, bibirnya terkatup keras dan rapat. "Jangan kau sentuh putriku, jika kau masih sayang dengan nyawamu."
"Oh, aku takut, sayangnya tidak. Alehandro berencana untuk mengambil hak asuh anak itu lalu menikah denganku, aku akan memperlakukan anak itu seperti kau dan ibumu memperlakukan aku dulu. Kau siap-siap saja, Kakakku tersayang, hidup dalam kesepian dan penuh derita."
Farida lalu menutup pintu ruangan itu, tapi dia masih mendengar teriakan Cantika.
"Awas kau Air comberan, aku akan membuat hidupmu hancur....," teriak Cantika murka.
Cantika lalu keluar ruangan. "Aku perintahkan pada semua yang ada di gedung ini, jangan sekali-kali memperbolehkannya masuk ke gedung ini. Jika ada diantara kalian yang membantunya maka akan aku pecat kalian semua. Ha...h!" Cantika masuk kembali ke dalam ruangannya dan membuang semua yang ada di atas mejanya dengan geram.
"Awas kau Comberan, aku akan membuat kau tidak bisa bernafas seperti seekor ikan yang keluar dari air."
Cantika lalu menghubungi ibunya dan mengatakan semua yang terjadi.
"Aku akan selidiki dia secara menyeluruh lalu kita pikirkan titik lemahnya dan kita serang titik itu."
"Kenapa tidak langsung ditabrak saja dan mati." Cantika nampak tidak sabar dengan rencana ibunya. Dia ingin cara praktis saja.
"Sesuatu yang terburu-buru hasilnya akan tidak bagus. Kau harus tenang menghadapi ular betina itu."
"