One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 79 Tangan Jahil



"Kau keluarlah, aku mau tidur," usir Farida merapikan tempat tidurnya.


"Bagaimana jika aku tidak mau," goda Kaisar yang tiba-tiba sudah berada di belakang Farida membuat tubuh wanita itu tiba-tiba menegang.


Farida membalikkan tubuhnya dan melihat Kaisar berada di depannya tanpa jarak.


"Ini tidak baik bagi kita," ujar Farida masih waras. Mereka terdiam untuk sesaat saling menatap.


Mendadak, Kaisar meraih tubuh kecilnya dan mencium bibir Farida. Kali ini tidak memaksa, dan terasa lembut serta menggairahkan.


Selanjutnya hanya suara nafas mereka yang terdengar.


Farida terengah-engah ketika Kaisar bergerak di atas tubuhnya membuatnya melayang sehingga tanpa sadar tubuhnya sudah tidak memakai apapun. Hanya dalaman bagian saja yang masih melekat. Ketika Kaisar ingin menyentuhnya. Matanya langsung terbuka karena terngiang ucapan Uda Hanafi tadi.


Tangan Farida mencegahnya. "Jangan-jangan lakukan dosa untuk kedua kalinya. Aku tidak bisa menanggung kesalahan ini jika kita sampai melakukannya."


Farida sendiri lalu menarik selimut menutupi tubuhnya sendiri.


"Aku takut Tuhan akan murka padaku karena telah melewati batas. Jangan..." ujar Farida menangis.


"Dulu setelah kita melakukan kesalahan itu, begitu banyak peristiwa memilukan terjadi. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Aku tidak akan bisa menanggungnya," Isak Farida membuat Kaisar turun dari tempat tidur itu dan memakai pakaiannya lagi.


Dia mengambil baju milik Farida yang telah dilemparnya ke bawah ranjang. Lalu membantu memakaikan pakaian pada wanita itu.


"Maaf karena aku kehilangan pertahanan jika bersama denganmu. Selama ini aku tidak pernah punya hasrat pada wanita, bahkan pada Cantika. Percaya atau tidak, aku bahkan belum pernah melakukannya dengannya sekali saja. Aku kira masalah reproduksiku yang terganggu. Namun, dokter mengatakan jika itu karena alam bawah sadarku yang melarangnya. Kini aku tahu sebabnya, hanya kau yang aku pikirkan selama ini dan selalu membayangi hidupku. Jadi hanya kau yang bisa membuat penawar untuk penyakitku ini."


Kaisar menarik tangan Farida untuk memegang punyanya. "Kau lihat dia selalu bereaksi jika bersamamu, aku bersumpah hanya denganmu. Entah kutukan atau sumpah apa yang pernah kau keluarkan hingga aku menjadi seperti ini. Mau tidak mau jika aku ingin jadi pria normal aku harus bersamamu, menikah denganmu."


Farida tercengang mendengar pengakuan Kaisar, antara percaya atau tidak.


"Akh, aku tahu, kau tidak akan percaya dengan kata-kataku ini," ujar Kaisar kesal sendiri karena malu membuka aibnya selama ini.


"Aku percaya," celetuk Farida sambil tersenyum manis. "Ini sudah malam, aku mau tidur. Kau pergi saja ke kamarmu!"


"Bolehkah, aku tidur di sini, aku janji tidak akan melakukan apapun," pinta Kaisar.


"Pak Kaisar," gemes Farida.


"Panggil aku sayang atau nama saja. Hilangkan kata Pak. Jika kau menyebut namaku seperti itu lagi maka aku akan menghukum dengan cara menciummu," ujar Kaisar.


"Enak di kamu tidak enak di aku."


"Yakin kau tidak menikmatinya. Kalau perlu kita ulang lagi, lihat apakah ...."


Tangan Farida menutup bibir Kaisar. Kaisar lalu mengusap pipi Farida.


"Terimakasih telah datang dan memberi kebahagiaan untukku. Jangan pernah pergi lagi karena aku tidak akan sanggup jika kau melakukan itu lagi."


Farida lalu berbaring karena bingung mau melakukan apa.


"Kita menikah besok yuk, hanya sebatas untuk menghalalkanmu menjadi milikku, resepsinya akan dilakukan setelahnya."


"Aku tidak mau...." Farida lalu memunggungi Kaisar.


"Kenapa?" Kaisar mencoba membalikkan tubuh Farida tapi wanita itu malah memukul tangannya dengan keras.


"Aww sakit!"


"Makanya kondisikan tanganmu!"


"Apa karena dendammu pada keluargamu belum selesai? Atau karena kau tidak mencintaiku?" tanya Kaisar penasaran. Membuat Farida menghentikan gerakannya.


Farida lalu menoleh ke belakang dengan tatapan kesal. Pria ini malah memikirkan hal negatif saja dari dirinya.


"Menikah hanya sekali dan harus dilakukan dengan baik dengan semua prosesi yang ada. Itu sebagai bentuk penghormatan pihak pria pada mempelai wanitanya. Jika kau ingin menikahi dengan cara yang kau katakan itu, itu bukan cara yang baik untuk mengambil seorang wanita dari rumahnya sendiri dengan hanya modal akad saja sepertinya wanita itu tidak berharga."


"Kau harus meminta seorang perempuan dari keluarganya dengan cara yang baik, melamar dengan di saksikan semua keluarga, menikah di depan semua orang. Bukan menikah dengan cara sembunyi-sembunyi. Memang menikah denganku itu adalah sebuah kesalahan sehingga takut terlihat orang? Tidak, aku tidak mau yang seperti itu."


"Kalau seperti itu lama waktunya, harus menunggu ketuk palu hakim, menunggu masa Iddah Cantika baru semua itu aku lakukan. Memang kita kuat menunggu selama itu?"


"Bertahun-tahun hidup sendiri saja aku kuat, Pak."


Kali ini Kaisar tidak sabar. Dia lalu membalikan tubuh Farida dan memajukan wajahnya ke wajah Farida.


"Sudah kubilang, aku bukan bapakmu!"


"Ehm, jangan," ujar Farida terlambat, karena bibir Kaisar sudah menguasai bibirnya.


"Ingat ! Jangan ulangi lagi!" ujar Kaisar puas telah ******* habis bibir wanita itu hingga bengkak.


Wajah Farida tampak cemberut. Tangannya mengusap bibirnya sendiri dengan kasar. Lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


"Sudah, pergi sana."


"Kita belum selesai bicara."


"Akh, kau di sini malah mengganggu tidurku saja," teriak Farida kesal.


Mereka lalu berdebat hal tidak perlu. Hingga akhirnya mereka tertidur karena lelah di satu ranjang yang sama dan saling memeluk. Lebih tepatnya Kaisar memeluk Farida dari belakang.


Kaisar terbangun ketika mendengar suara adzan berkumandang. Dia lalu menatap ke arah wanita yang ada dalam pelukannya.


Tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Farida, lalu mengecup pipinya pelan, takut membuat wanita itu bangun. Sebenarnya, bibir merah itu juga menggodanya. Hanya saja, dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak wanita itu. Oleh karena dia, wanita itu jadi tidur malam.


Kaisar lalu mandi dan melakukan sholat subuh baru setelah melihat kedua anaknya.


Hal lain yang membuatnya takjub adalah Maulana sedang sholat ketika Kaisar menengoknya. Anak umur segitu tahu akan jadwal sholat, kalau bukan orang rumahnya yang mendidiknya sedari kecil, mereka pasti tidak akan tahu ini.


Maulana melakukan salam, dia melihat ayahnya duduk di pinggir tempat tidur menatapnya.


"Kau bangun kapan?" tanya Kaisar.


"Sebelum adzan. Aku pergi ke kamar ayah dan ibu tapi kalian masih tertidur lelap jadi aku keluar lagi." Maulana lalu mengambil permainan rubik kesukaannya.


"Kapan Ayah akan menikahi Ibu?" tanya Maulana seperti orang tua.


"Ibumu masih belum ingin menikah."


"Tapi bersama tanpa menikah tidak boleh. Bapak Tua Hanafi pernah mengatakannya padaku. Bu guru juga. Katanya tidak boleh tidur bersama orang yang bukan keluarga, apalagi jika beda apa itu, yang perempuan dan laki-laki."


"Gender."


Maulana mengangguk.


"Kalau begitu, Ayah akan mendesak ibumu untuk segera menikah dengan Ayah. Bagaimana menurutmu? Tapi kau harus membantu Ayah."


"Okey. Tapi dengan syarat, jika Ibu Mau Ayah harus menaktrirku es krim."


"Hanya es krim?"


"Hanya Es krim tapi banyak."


"Berapapun yang kau mau, ayah akan memberikannya bahkan sampai pabriknya sekalian jika kau mau."


Maulana tertawa setelahnya. Selanjutnya mereka berbicara seperti pria dewasa hingga waktu makan pagi tiba. Mereka lalu ke kamar Alisa, membangunkannya dan membawa ke ruang makan.


Maulana mencari ibunya yang masih belum terlihat juga. Tidak seperti biasanya seperti itu.


Farida bangun kesiangan karena tidur malam. Dia lalu langsung melihat tubuhnya sendiri. Aman. Pakaian masih melekat walau sudah naik keatas. Berarti tadi malam dia masih selamat. Dia senyum sendiri mengingat apa yang terjadi semalam.


Dia melihat ke samping. Kosong. Kaisar telah pergi, sejak kapan. Netranya menatap ke sekitar lalu ke arah jarum jam pukul enam pagi.


Farida lalu bergegas ke kamar mandi membersihkan diri dan melakukan ibadah walau terlambat sekalian melakukan sholat sunah.


Kaisar sendiri sedang berada di bawah bersama dengan dua anaknya. Keduanya masih melakukan perang dingin. Tidak saling menyapa dan bicara satu sama lainnya.


Sangat tenang dan hening, hanya suara suara sendok yang beradu dengan piring saja. Kaisar melihat ke atas. Sosok Farida belum juga turun. Dia ingin melihat apakah wanita itu sudah bangun atau belum? Tapi dia takut jika meninggalkan keduanya maka akan ada perang saudara.


Kaisar menghela nafas panjang.


"Sayangku ayah semuanya. Perut ayah mulas, ayah mau ke belakang dulu," ujar Kaisar langsung berlari ke arah lift dan naik ke lantai tiga.


Sesampainya di kamar dia melihat pemandangan yang menyejukkan. Saat seorang wanita terlihat memakai mukenanya untuk melakukan ibadah. Kaisar tidak ingin mengganggu jadi berdiri, bersandar di pintu.


Setelah berdoa, Farida melepas dan melipat mukenanya. Dia melihat Kaisar ada di gawangan pintu menatapnya.


"Ada apa?" tanyanya.


Kaisar hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Anak-anak menunggumu di bawah untuk sarapan pagi."


"Siapa yang menyiapkan sarapannya? Akh, maaf, aku bangun kesiangan. Kau juga tidak membangunkan ku tadi," kata Farida.


"Kan ada pelayan, Bu.Jangan khawatir," celetuk Maulana.


Farida lalu duduk di antara Maulana dan Alisa.


"Kenapa Sayang, apa makannya tidak enak?" tanya Farida melihat anak itu hanya membolak-balikkan sandwich di piringnya.


"Kau mau makan apa? Biar nanti Tante yang buatkan."


"Jangan tanya dia, Bu. Dia tidak bisa bicara." sambung Maulana. Kaisar melihat keadaan mulai memanas.


"Maulana!" seru Farida tertahan.


"Aku ingin cococrunch dengan susu," jelas Alisa.


"Kalau begitu kita akan membuatnya. Kau harus membantu karena Tante tidak bisa membuatnya sendiri."


"Aku juga belum pernah membuatnya. Aku tidak tahu caranya."


"Kalau begitu kita ke dapur dan buat bersama-sama makanan kesukaanmu itu."


Alisa lalu digendong oleh Farida, dibawanya ke dapur dan di dudukkan di meja dapur.


"Coba tuang coco crunchnya, lalu susu hangat ini terakhir diaduk. Dan Taram... siap."


"Sangat mudah kan. Kau hebat bisa membuatnya."


Alisa mengangguk senang. Farida kembali menggendong Alisa dengan satu tangannya dan tangan yang lain membawa Coco crunch itu.


"Lihat Ayah, Puteri mu ini sudah besar. Dia sudah bisa membuat makanannya sendiri hebat kan?" ujar Farida.


"Wah hebat anak Ayah. Coba, ayah cicipi masakannya." Kaisar mencoba makanan itu.


"Memang enak. Kau hebat."


Alisa tersenyum bangga. Maulana mencibir.


"Kalau hanya membuat itu, aku sudah bisa lama. Aku bahkan sudah bisa memasak mie dan goreng telor. Tidak, aku takut goreng telur, percikan minyaknya itu panas dan membuat luka."


Setelah itu, hubungan Alisa dan Farida mulai mencair. Anak itu mulai mau diajak bicara, tidak semuram kemarin ketika datang bersama dengan ibunya. Tatapan matanya terlihat penuh dengan luka batin.


Kini walau belum tersenyum tapi tatapan matanya tidak sesedih kemarin.


Sabar ya... authornya juga banyak kegiatan jadi g bisa update terus. Tungguin ya, kelanjutan romansa cerita Kaisar lagi.