One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 81 Bukan Malaikat



Farida dengan tenang berdiri di depan Cantika dan Ira. Tersenyum pada mereka seperti tidak pernah ada masalah apapun sebelumnya.


"Hallo, semua apa kabarnya?" sapa Farida mengulurkan tangan. Namun, kedua orang di depannya malah membuang muka.


"Tidak usah sok jadi malaikat pada kami, tapi sejatinya kau itu iblis!" umpat Ira. Dia lalu melihat ke arah Kaisar dengan sinis.


"Dan kau, aku kira kau adalah pria terhormat yang tahu dengan bandrol wanita berkelas. Sayangnya, kau malah lebih suka pada barang yang dijual bebas di jalanan. Anakku dan dia tidak ada bandingannya."


"Mereka sama-sama anak dari Ayah Fadil jadi status mereka sama."


"Tidak bisa, dia lahir dari wanita ****** dan selamanya pun kutukan itu tetap ada sampai turunan ke tujuh pun akan menjadi ****** juga!"


"Ayah dan ibuku menikah secara sah dan aku pun anak sah dari Ayah Fadil! Terserah kau mau mengatakan apapun. Namun, aku yakin kini Ayah tahu siapa yang ******!" balas Farida santai.


Ira membuka mulutnya lebar tidak bisa berkata-kata.


Farida lalu melangkah maju sengaja menabrak lengan Ira dan melewatinya.


Kaisar hanya berdiri menggaruk ujung alisnya. Menahan tawa. Dia sendiri tidak tahu foto apa yang Farida maksud, tapi dia yakin foto itu membuat pukulan telak bagi mertua wanitanya. Jika tidak, wanita itu pasti akan membalas dengan kata-kata pedas lainnya.


"Apa maksud perempuan itu, Bu?" tanya Cantika.


Ira tidak menjawab, lebih memilih menghentakkan kaki dan duduk di kursi tunggu depan ruang rawat.


Melihat ibunya yang tidak ingin mengatakan apapun kini membuat Cantika merasa takut. Takut jika kebenaran tentang Alisa terbongkar sehingga Farida mengatakan hal itu. Apakah ayahnya juga sudah tahu kebohongan apa yang dia lakukan dulu.


Cantika melihat ke arah Kaisar yang nampak acuh tak acuh padanya. Dia mendekatinya. "Bagaimana keadaan Alisa?" tanya Cantika berhati-hati.


"Dia sangat baik tinggal bersamaku. Aku kira hak asuh itu memang lebih cocok dimenangkan aku."


"Tidak, selamanya Alisa harus bersamaku. Kau sudah punya wanita lain dan anak pula, bukan?''


"Farida menyayanginya. Aku bisa melihat itu. Dia tidak membenci Alisa karena dia adalah keponakannya. Dia juga tidak akan kehilangan ibunya karena kau bisa menemuinya kapan pun. Mungkin jika Jum'at sampai Minggu malam dia bisa tinggal bersamamu. Itu adik bukan? Kita hanya perlu menjadi partner yang baik."


"Tidak ada yang baik jika orang tuanya bercerai, Kai!" ujar Cantika dengan sorot mata tajam. Kedua tangannya dia lipat di dada. Mengambil nafas panjang untuk meredakan sesak yang kini mulai terasa.


Pernyataan Kaisar lebih menjurus menyindir ketidak mampuannya mengurus anak. Padahal beberapa bulan ini dia sudah berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Namun, di depan Kaisar semua masih salah. Hingga dia akhirnya pada titik nadir kekalahan. Tidak ada yang perlu disesalkan karena semua adalah pilihannya.


"Kita bersama pun tidak akan baik karena tidak pernah ada keharmonisan. Kau berhak bahagia dengan pria lain yang bisa mencintaimu dan memperjuangkan selama hidupnya. Namun, bukan aku orangnya."


"Hah!" Cantika menghembuskan nafas mengejek. "Kalimat bagus untuk menutupi kesalahanmu dan keegoisanmu agar semua orang maklum dengan hal itu. Pria memang selalu seperti itu. Selalu mau menang sendiri!"


Kaisar menoleh. "Terserah apa yang kau katakan. Aku terima. Lagipula, tiga hari lagi palu hakim akan diketuk dan aku harap kau hadir di persidangan itu."


Dia memang terkesan menerima, tapi tidak semudah itu Ferguso. Kaisar harus membayar rasa sakit yang dia terima selama enam tahun ini. Dia tidak akan tinggal diam karena Farida dan anak haramnya akan merebut apa yang seharusnya menjadi milik Alisha. Dia harus memastikan semua itu akan jatuh ke tangan anaknya. Sehingga masa depan hidupnya cerah.


Kaisar memilih untuk terdiam. Masalah ini bukan ranah yang bisa dia putuskan sendiri. Dia harus berunding dengan pengacaranya yang lebih tahu dan berpengalaman dalam soal ini.


Sedangkan di dalam ruangan Fadil. Farida berjalan dengan tenang mendekati tempat di mana ayah kandungnya berada.


Ayahnya terlihat masih tidak sadarkan diri, dan ada beberapa mesin yang menopang kehidupannya. Ya, semua ini memang ulahnya. Entah dosa atau tidak, Farida enggan untuk memikirkannya.


Rasa pilu dan sakit yang dia tahan seumur hidup, terasa belum hilang walau ayahnya sudah seperti ini. Dia juga bukan malaikat yang bisa memaafkan orang dengan mudah.


"Hallo, Ayah. Akhirnya kita bertemu lagi."


Farida menarik satu kursi, mendekat ke arah ayahnya.


"Bagaimana kirimanku Ayah? Apakah kau terkejut? Aku yakin iya, ini buktinya kan?"


"Wanita yang kau puja itu ternyata telah mengkhianatimu. Sejak kapan? Pasti itu yang terlintas di pikiran Ayah. Sejak lama Ayah ... semenjak kalian baru menikah. Ira kerap mendatangi pria itu di penjara. Kau dibohongi ayah selama ini. Kasihan ... tapi ini cocok kau dapatkan karena kau juga menghina cinta ibuku. Kau menyakitinya, kau membuangnya dan bahkan karena kau pemicu ibuku meninggal."


"Dia adalah satu-satunya wanita yang mencintaimu hingga akhir nafasnya. Namun, yang dia dapatkan apa? Penghinaan darimu secara terus menerus. Kau itu bukan ayahku, kau lebih cocok menjadi iblis yang menyiksa batin ibuku setiap harinya. Membunuhnya pelan-pelan dengan rasa sakit yang kau berikan."


Sudut mata Fadil mulai basah mendengar ini. Ujung jarinya mulai bergerak. Farida melihatnya, tapi dia tidak memperdulikan itu.


"Kini kau baru tahu rasanya sakit dikhianati kan? Ini belum seberapa dari apa yang ibu rasakan karena pengkhianatan yang kau lakukan. Kau kejam Ayah, kau kejam, bukan hanya padaku, anakmu sendiri, tapi juga pada ibuku." Farida mengusap pipinya yang basah oleh Air mata.


"Sampai mati pun, aku tidak akan memaafkan apa yang telah kau perbuat pada ibuku!" ujarnya dengan penuh emosi dan bibir gemetar.


Farida hendak pergi, tapi dia urungkan. "Satu lagi Ayah, kau pasti akan bertambah menderita mendengar ini. Aku sudah mengecek DNA mu dan Cantika.''


Farida lalu mendekatkan wajahnya di sisi Fadil.


"Aku bahagia dengan hasil DNA yang keluar. Ternyata anak yang kau banggakan dan kau cintai itu adalah anak selingkuhan istrimu itu.... Selamat .... Aku sampai terharu mendapat berita ini." Farida bertepuk tangan. Sedangkan, air mata mulai mengalir deras dari sudut mata Fadil hingga membasahi kain seprai.


"Kini sesali apa yang kau perbuat pada putri semata wayangmu ini. Semoga Tuhan memaafkan dosamu ini. Amin."


"Aku harap setelah ini kau bisa meninggal dengan tenang di alam sana." Farida membenarkan letak selimut ayahnya.


"Bye Ayah, selamat menuju jalan keabadian."


Farida lalu pergi dari ruangan itu dengan hati yang lega. Setidaknya, sekarang ibunya sedikit tenang karena kebenaran itu akhirnya muncul. Bahwa hanya ibunya yang selalu mencintai ayahnya dengan sepenuh hati.