One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 56 Kacau



Kaisar menatap Dara dan Maulana secara bergantian. Entah mengapa dadanya tiba-tiba berdetak dengan kencang.


"Kau kenal dengan putriku?" tanya Kaisar. Maulana menganggukkan kepalanya.


"Dimana? Jangan bilang di sekolah?"


"Mereka satu sekolah."


Pikiran Kaisar mulai terasa buntu, dia takut apa yang dia pikirkan itu akan terjadi. Dia menggigit tangannya sendiri.


"Tunggu ... tunggu apakah kau ada hubungannya dengan Berliana Farida Purba," ujar Kaisar.


Dara langsung menatap ke arah Kaisar. Apakah pikirannya memang benar. Maulana sendiri bingung menjawabnya. Apakah dia harus menjawab Farida itu Tantenya atau Ibunya. Ibu yang tidak mengakuinya.


Maulana lantas menangis lagi.


Dara langsung memeluk anak itu. "Kau membuatnya takut."


"Mom, kau tidak tahu jika....," ungkap Kaisar kesal sendiri.


"Dia tadi hampir tertabrak mobilku. Lalu aku membawanya kemari karena tidak tahu dimana rumahnya. Kau tahu yang dia katakan tadi? Dia memintaku mengantarnya pada ayahnya. Lucu bukan?" ujar Alehandro tertawa miris.


Kaisar mengusap wajahnya kasar. Matanya telah berubah menjadi merah dan berkabut. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.


Dia berjongkok di depan Maulana. Memegang tangan anak itu. Sesuatu yang asing terasa mendesir di dadanya saat menatapnya. Tangannya dengan gemetar menyentuh wajah itu. Wajah yang mirip dengannya.


"Apa namamu Maulana?" tanyanya dengan suara serak dan tertahan. Maulana menganggukkan kepalanya.


Kaisar tidak bisa mengatakan apapun lagi. Jawaban itu sudah cukup untuknya. Dia langsung memeluk Maulana dan meletakkan kepala anak itu di dadanya.


Air mata yang tidak pernah keluar dari kedua pelupuknya kini mengalir begitu saja tanpa bisa dia tahan. Dia mencium kepala anak lama.


Sedangkan Dara merasa ikut terharu dan bahagia. Dia bangkit dan mendekati suaminya. Mereka sudah mengerti tanpa harus bertanya lagi.


Maulana sendiri bingung untuk menerima situasi ini. Mengapa semua orang menangis melihat dirinya? Om galak ini juga mengapa memeluknya, padahal dia tadi marah-marah.


Kaisar mengusap wajahnya lalu bangkit. Dia berjalan keluar kamar dengan wajah merah padam.


"Emilio!" panggilnya keras. Membuat semua yang ada di bawah terkejut. Emilio langsung berlari naik ke atas. Rose dan Jasmine mengikutinya di belakang.


"Ada apa, Pak!" tanya Emilio. Ketika sampai di kamar mantan majikannya yang sebentar lagi akan menjadi besan.


"Kau pernah melihat Farida kan?" tanya Kaisar. Emilio menganggukkan kepalanya.


"Kau juga pernah menyelidikinya."


"Ya, Nona Farida adik dari Hanafi Purba kan, maksud Anda. Ada apa, Pak?" tanya Emilio lagi.


"Dan kau bilang aku belum pernah berhubungan dengannya selama kau bekerja bersamaku."


Emilio mengangguk.


"Apakah kau tahu, aku punya berhubungan dengan wanita lain enam tahun lalu selain dengan Cantika? Maksudku, kau tahu kan?"


Emilio menelan salivanya berat. Melihat ke arah Alehandro dan Dara yang menatapnya dengan tegang.


Rose sendiri nampak terguncang, dia bahkan limbung ke belakang. Untung saja Jasmine memegang tubuhnya.


"Kau baik-baik saja, Kak?"


Rose mengangguk.


Emilio menatap seorang anak yang duduk dipeluk Dara. Anak dengan wajah sama seperti Tuannya.


"Airlangga dulu hamil anak, Anda, hanya saja dulu ada kabar jika jasadnya ditemukan membusuk di laut. Dia dimakamkan di sebelah makam ibunya."


"Airlangga,'' ulang Kaisar.


Kaisar mengulang nama itu berkali-kali. Bayangan seorang pria muda yang menangis di makam lalu mulai muncul. Wajahnya mirip dengan Farida.


Kepalanya seketika terasa sangat sakit. Dia memegangnya erat. Mengerang keras antara sakit dan marah. " Sial! Kenapa kau tidak mengatakannya?"


Melihat pria di depannya marah-marah membuat Maulana menjadi takut sendiri, dia menengadah menatap ke arah Dara.


"Aku takut, mau pulang saja," lirihnya.


Dara tersenyum kaku. Sedangkan Kaisar yang mendengar menoleh menatap ke arah anaknya.


"Tahan emosimu, Nak. Dad, tahu kau kecewa tapi ini bukan saat yang tepat."


Entah mengapa ada perasaan lega setelah mendengar anak itu adalah anak Kaisar. Walau belum dipastikan dengan tes, hanya saja mendengar sedikit cerita Emilio dan Kaisar bisa disimpulkan kalau Maulana itu cucunya.


"Tadi kau ingin bertemu dengan ayahmu kan? Itu ayahmu," tunjuk Alehandro pada Kaisar.


Bukannya senang Maulana malah menggelengkan kepalanya. "Ayahku bukan dia."


Kaisar maju ke arah Maulana, menekuk kakinya agar setara dengan anak itu. "Aku adalah ayahmu, Nak. Sebentar."


Kaisar lalu pergi keluar ruangan mengabaikan kepalanya yang terasa sakit. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi membawa bingkai lumayan besar, sebesar tubuh Maulana.


"Kau lihat siapa yang ada di sini," kata Kaisar menunjuk ke arah fotonya yang menggunakan jas. Berdiri angkuh menatap ke depan.


Maulana terdiam menatap ke arah foto itu. Seperti menatap fotonya sendiri tapi dia ingat betul jika tidak pernah berfoto dalam pose seperti itu.


"Ini fotoku dulu. Mirip sekali bukan," ujar Kaisar dengan mata berkaca-kaca.


Maulana melihat ke arah pria dewasa di depannya. Lalu ke arah orang lain yang ada di tempat itu.


"Lalu siapa ibuku?" tanya Maulana tiba-tiba ingin meyakinkan diri karena otak kecilnya juga belum bisa menerima apa yang tadi di dengarnya di rumah.


Kaisar menyerahkan fotonya kepada Emilio untuk diletakkan lagi di tempatnya.


Kaisar menyatukan kedua alisnya.


"Ibu Uyun atau Tante Ida," lanjut Maulana dengan suara bergetar.


Dara dan Alehandro diam-diam meninggalkan keduanya bersama dengan yang lain. Memberi waktu ayah dan anak itu untuk berbicara. Selain itu, acara lamaran Rose jadi berantakan karena beberapa hal yang tidak terduga.


Setelah mereka hanya berdua dikamar itu, Kaisar lalu duduk di sebelah Maulana.


"Memang Tante Ida tidak pernah mengatakan padamu kalau dia ibumu?" tanya Kaisar penasaran. Dia tidak tahu kehidupan macam apa yang Maulana alami di sana.


Maulana menggelengkan kepalanya. "Ibu tadi bertengkar dengan Tante, bicara aku bukan anaknya .... lalu marah kepada Tante karena tidak mau jujur padaku atau ...." Maulana melihat ke arah Kaisar.


Kaisar memeluk Maulana erat. "Aku adalah ayahmu, kau jangan takut lagi karena aku akan selalu ada untukmu," janjinya.


"Kenapa kau pergi sehingga Tante tidak mau mengakui ku?" tanya Maulana membuat Kaisar merasa sakit.


"Ada beberapa hal yang belum bisa kau pahami. Namun, aku janji, aku akan mengatasinya dan meletakkan semuanya pada posisi yang benar."


"Jadi kau benar ayahku?" tanya Maulana lagi.


"Kau tidak percaya?" balik Kaisar.


Maulana tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Lalu terdengar bunyi perut Maulana.


"Kau lapar?" tanya Kaisar.


"Hmm ...," Maulana mengangguk malu. Kaisar tersenyum sambil mengusap lembut kepala anaknya yang tampan.


Dia senang karena mendadak mempunyai seorang putra yang tampan dan sehat. Namun, marah karena Farida berusaha untuk menyembunyikannya.


Kau salah jika ingin bermain-main denganku. Aku bukan pionmu! Kau lihat saja, aku yang akan mengendalikan permainan yang sedang kau buat dan aku akan memberimu pelajaran keras atas apa yang kau lakukan!