
Makan siang kali terasa hangat. Dara dan Alehandro tidak berusaha mengorek tentang masa lalu Farida yang sedikit banyak membuatnya tenang. Mereka lebih fokus pada Maulana yang nampak bisa menyesuaikan diri dengan keluarga ayahnya.
Farida merasa tenang dengan hal itu. Momen sedihnya adalah ketika Alehandro dan Dara pamit untuk pulang karena sudah sore.
"Pikirkan yang tadi kita bicarakan di dapur, okey," bisik Dara.
Farida menganggukkan kepalanya.
"Nak Ida atau Airlangga aku harus memanggilmu," goda Alehandro.
"Ida, Dad," jawab Kaisar malas.
"Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada calon menantuku," ujar Alehandro.
"Calon menantu," ujar sebuah suara. Mereka lalu melihat ke arah sumber suara. Di sana nampak Alisa yang melihat nanar ayahnya bersama dengan keluarga barunya dan juga Cantika.
"Bagus sekali... di rumah Alisa menangis karena hari ini jadwal kau menemuinya. Namun, kau lupa karena sudah mempunyai keluarga baru." Cantika melihat ke arah Kaisar.
Lalu berganti menatap kedua mertuanya. "Dan Anda, Tuan dan Nyonya Cortez, bagaimana pun aku masih menantu kalian dan bagaimana bisa kalian menusukku dengan cara seperti ini. Aku sendiri sedang terluka oleh hubungan Kaisar dan jelong itu, tapi kalian malah merestuinya."
"Kai, bawa Alisa masuk!"
Kaisar ingin mendekat ke arah Alisa tapi anak itu seperti sedang terluka. Dia mundur ke belakang memeluk kaki ibunya erat.
"Jangan maju Kai, kau sudah membuat anak kita takut," seru Cantika.
"Dia juga anakku, aku berhak berbicara padanya," bentak Kaisar.
"Kalau kau merasa bahwa dia anakmu seharusnya kau tidak membuatnya terluka, kau tidak akan membiarkan dia menunggumu datang sedari tadi. Kau tidak akan mengabaikannya demi anak harammu!" teriak Cantika tidak mau kalah.
Maulana yang mendengar itu langsung menutup kedua telinganya dan berlari masuk ke dalam.
"Lana!" panggil Farida khawatir.
"Biar aku yang menemaninya," ujar Dara tidak ingin terlalu dalam masuk ke konflik rumah tangga Kaisar. Bukan karena tidak perduli namun lebih pada tahu diri. Bagaimana pun dia ibu sambung Kaisar, tidak kapasitas berbicara di sana.
Dara lalu masuk ke dalam rumah mengejar Maulana.
Di saat itu Farida maju ke depan. Menggeser posisi Kaisar yang berdiri di depan Cantika.
Dia selama ini masih menahan diri, tapi tidak ketika anaknya dibuat terluka.
"Kau selalu mendapatkan yang kau mau Kak. Semua hal. Aku selalu diam. Kau selalu menghinaku sebagai anak haram, tapi kali ini aku tidak akan diam ketika anakku kau panggil sebagai anak haram."
"Hah! Memang itu kenyataannya, dia adalah hasil perselingkuhanmu dengan Kaisar."
"Lalu kau apa? Kau lupa tentang masa lalu kita?"
Mata Cantika melebar. Wajahnya memucat seketika.
"Perlukah aku membukanya sekarang? Namun aku rasa tidak perlu, tidak seru jika tidak membuatmu gila dengan semua kenyataan yang ada." Farida lalu menoleh ke belakang, memiringkan kepalanya, menatap Alisa yang bersembunyi sambil mengintip.
"Lagipula, aku tidak tega melihat keponakan tersayangku terluka gara-gara perbuatan ibunya. Bedaku darimu adalah kau dinikahi oleh Kaisar jadi anakmu tidak jadi haram dan aku harus bertarung nyawa berkali-kali untuk bisa mempertahankan hidupku dan anakku."
Kaisar dan Alehandro saling melihat, tidak mengerti arah pembicaraan kakak dan adik itu. Terlalu ambigu untuk mengambil kesimpulan.
"Kau memang selalu licik dari dulu, sangat pandai memutar balikkan keadaan!" ujar Cantika membela diri sambil memegang tubuh anaknya, menjadikannya perisai.
"Kau selalu iri dengan apa yang kudapatkan hingga kau melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Berawal dari sandiwaramu menjadi seorang pria agar bisa memperdaya ayahku. Kau ingin menguasai semua kekayaannya."
Farida tersenyum kecut. "Kau juga dulu mendekati kekasihku, lalu terakhir calon suamiku kau jebak agar bisa tidur dengannya. Kau ingin memiliki Kaisar. Hanya saja, orang tuaku terlebih dahulu tahu semua itu."
Tangan Farida mulai terkepal.
"Ibumu melemparkan dirinya ke pelukan ayahku yang sudah beristri dan kau juga diajari hal yang sama untuk melemparkan dirimu ke pelukan Kaisar. Kau pikir kau bisa memilikinya, tapi tidak. Tuhan selalu berada di pihak yang benar dan untungnya dia menjauhkanmu dari suamiku."
"Sekarang kau kembali dengan rencana sama, ish sangat menjijikkan. Ibu dan anak sama jelongnya."
"Plak!" Farida menampar pipi Cantika hingga memerah. "Itu untukmu!" seru Farida.
Alisa yang melihat pertengkaran orang dewasa itu menangis keras. Suasana bertambah panas. Kaisar berusaha menenangkan Alisa dengan menggendongnya.
"Kau berani menamparku lagi, hah!" Cantika lalu hendak menampar balik Farida tapi tangannya di cegah oleh Kaisar.
"Jangan buat keributan lagi, apalagi di depan anak kita," ujar Kaisar pada Cantika.
Rasanya Farida ingin tertawa keras mendengar kata anak kita.
"Kau yang membuat masalah dan aku yang dipersalahkan disini?" seru Cantika marah.
Tiba-tiba handphone Cantika berbunyi.
"Biarkan Alisa bersamaku, kau hanya membuat takut dirinya."
Handphone Cantika masih berbunyi, hingga akhirnya dia mengambil dan mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"Cantika... ayahmu ... dia tiba-tiba terkena serangan jantung dan kini dibawa ke rumah sakit. Keadaannya kritis."
"Ayah...," ucap Cantika dengan wajah pucat. "Aku akan kesana secepatnya." Dia terlihat cemas dan panik.
"Ayah... ayah... terkena serangan jantung, aku harus pergi."
Cantika lalu melihat ke arah Alisa. "Sayang, kau di sini dulu, kakek sakit, ibu harus pergi melihat keadaan Kakekmu."
"Aku tidak mau di sini, Bu," rengek Alisa.
Cantika menyentuh pipi Alisa. Sebenarnya berat meninggalkan Alisa di rumah musuhnya, tapi di sana ada Kaisar. Pria itu pasti akan menjaga Alisa dengan baik.
"Maaf, Sayang, nanti malam ibu akan mengambilmu, tapi tidak sekarang. Maafkan ibu...." Cantika lalu bergegas masuk ke mobilnya. Pergi meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Sedangkan Farida langsung menjatuhkan diri ke lantai. Tubuhnya terasa lemas setelah kepergian Cantika.
"Farida kau harus kuat," kata Kaisar. Pria itu mengerti jika Farida tidak mungkin bisa melihat keadaan ayahnya karena keluarga Farida sangat membencinya.
Farida menundukkan kepalanya dalam. Tersenyum sedih.
Flashback.
Tadi pagi, Hanafi mengirimkan kabar padanya berupa foto-foto Ira yang pergi ke rumah seorang pria.
Sebetulnya Farida sudah tahu perselingkuhan ini. Hanya saja dia tidak punya banyak bukti.
Untung saja dia punya Uda Hanafi dan kedua saudaranya yang lain yang mau membantunya membalas dendam.
Uda Hanafi memasukkan anak buahnya untuk mengawasi rumah Samson. Anak buahnya ini mengirimkan foto kebersamaan Ira dengan Samson. Walau tidak terlihat fulgar, tapi ada satu bagian apik disalah satu foto itu. Saat dimana Ira mencium pipi Samson. Ada juga foto ketika Ira dan Samson masuk ke dalam bersama-sama.
Sepuluh dari foto yang ada lalu dikirimkan langsung kepada ayahnya lewat paket. Mungkin paket itu telah sampai sehingga ayahnya bisa melihat lalu terkena serangan jantung.
Ayahnya kini merasakan apa yang ibunya rasakan. Wanita yang dia bela ternyata berselingkuh darinya. Bukankah itu sangat menggelikan.
Kedatangannya ke rumah ini pun sudah menjadi bagian rencananya. Nyawanya dan Maulana sedang dalam bahaya karena masalah ini. Hanya Kaisar yang bisa menjaga anaknya dengan baik.
Selain itu, dia ingin memberikan pukulan telak pada Cantika dengan memberikan video kebersamaan Maulana dengan Kaisar di sungai tadi secara diam-diam. Itu ternyata berguna karena Cantika langsung datang ke tempat ini bersama dengan Alisa.
Anak kecil itu sungguh tega menyakiti putranya. Dia tidak akan melukainya tapi Alisa pun harus mengerti betapa jahat ibunya. Merasakan rasa sakit yang sama dengan apa yang Maulana alami. Walau belum balas dendam ini baru permulaan dan belum sepenuhnya berhasil, tapi dia puas.
Kaisar lalu menyerahkan Alisa pada Alehandro setelah menenangkannya. Dia mendekati Farida.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kaisar cemas melihat keadaan Farida seperti itu. Farida lalu memeluk Kaisar dan menangis di dadanya. Menangisi nasibnya seperti ini karena telah menyakiti ayahnya sendiri, tapi dia juga senang karena ibunya pasti puas melihat hal ini.
Dia tidak yakin apakah ayahnya akan selamat atau tidak. "Aku harus melihat ayahku," kata Farida.
Ya, dia harus menjadi putri yang baik di saat keadaan ayahnya buruk. Dia yakin jika ayahnya masih hidup, pasti dia akan menyesal karena telah menyia-nyiakan dirinya. Jika ayahnya tiada, semoga arwahnya bisa tenang dan tidak merasakan sakit lagi bersama dengan ibunya selamanya. Kekal dan abadi di alam sana.
Kaisar merenggangkan pelukannya lalu memegang kedua pipi Farida.
"Kita akan menjenguknya, tapi tidak disaat kacau seperti ini. Kau harus tenang dulu. Lagipula kita juga harus menenangkan kedua anak itu. Bagaimanapun Alisa masih kecil, dia juga korban di sini. Kau jangan marah padanya."
"Aku tidak mungkin membencinya karena darah kami sama," ujar Farida.
"Sekarang kita masuk dan memikirkan bagaimana baiknya ke depan."
Farida mengangguk dengan lemah. Kaisar menuntun Farida masuk ke dalam.
"Mba, ambilkan segelas air untuk Nyonya kalian," seru Kaisar.
Mereka lalu berkumpul bersama di ruang keluarga di lantai dua. Ruangan besar dengan kursi berbentuk lingkaran. Tembok kaca mengililingi ruangan itu sehingga ruangan itu terlihat sangat terang.
Maulana duduk bersama dengan Dara sedangkan Alisa bersama dengan Alehandro. Lalu Kaisar membantu Farida menenangkan diri.
"Sangat buruk," ujar Alehandro menghela nafas.
Dara memberitahu agar Alehandro tidak mengucapakan hal tidak baik lewat bahasa isyarat.
Kaisar melihat ke arah Alisa yang sudah tenang.
"Lana, Alisa, ayah harap kalian tidak bertengkar lagi. Kalian sama-sama anak ayah jadi harus rukun."
"Aku tidak mau!" Alisa memalingkan wajah ke arah lain.
"Aku juga tidak mau berteman dengan orang yang mulutnya jahat," ungkap Maulana.
Semua menghela nafas dalam.
"Maulana, kau ingat apa yang Ibu katakan!"
"Tapi ibu...."
"Minta maaf pada Alisa."
"Aku tidak mau, dia yang salah," ujar Maulana.
"Ingat jika meminta maaf bukan menunjukkan siapa yang salah atau benar. Meminta maaf untuk menunjukkan tentang kerendahan hati orang yang meminta maaf. Memaafkan menunjukkan kebesaran hatinya."
Maulana lalu turun dari kursi dan berjalan mendekat ke arah Alisa. Mengulurkan tangannya. "Maafkan aku."
Alisa menatap ke tangan di depannya.