One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 106



"Apa yang kau lakukan?" tanya Farida pada Kaisar.


Wajah Kaisar memerah. Dia menarik lagi celananya keatas.


Farida mendekat untuk melihat bungkus obat di atas wastafel. "Minyak Kuda?" Dia tertawa geli.


Kaisar sendiri menekuk wajahnya karena ketahuan. Ini rahasianya dan ketahuan oleh Farida. Dia pergi ke kamar dengan lesu. Semangatnya hilang untuk seketika.


Berbaring miring dengan posisi membelakangi pintu kamar mandi. Dia bahkan mengabaikan Farida yang mendekat dan memeluknya.


"Apakah harus dengan itu agar kau terlihat jantan?"


"Aku hanya berusaha memuaskan mu!"


"Kukira diriku adalah obat untukmu jadi kau tidak perlu memakai apapun lagi."


Kaisar berpikir, lalu membalikkan tubuhnya.


"Iya, hanya saja itu biar lama, Sayang," ujarnya gregetan sambil duduk.


"Lama apanya?" goda Farida sambil mencubit perut Kaisar.


Kaisar memalingkan wajah ke samping. Farida naik ke atas pangkuan Kaisar dan mengalungkan tangannya ke leher pria itu.


"Namun, apapun kau, bagaimana pun kau aku akan tetap ada di sampingmu karena bukan ini yang kulihat. Cintamu yang membuatku bertekuk lutut di depanmu."


Kaisar menyunggingkan sebuah senyuman.


"Katakan kau mencintaiku, aku ingin mendengarnya," pinta Kaisar.


Farida menggeleng malu. Membuat Kaisar semakin gemas.


"Apa perlu kubuat kau menjerit dan menyatakan cinta?"


Farida membelalakkan mata dengan manja sambil mencebikkan bibirnya dengan senyuman. (Yuk praktek, gimana ekspresinya)


"Sepertinya aku harus melihat Lana, mung...kini di...a"


Tidak ada lagi suara orang bicara hanya ada lenguhan dan suara aneh yang terdengar dari keduanya.


Kaisar terbangun ketika ada sentuhan di kakinya. Rasanya geli basah menggelitik.


"Farida, kau sedang apa?" gumamnya menutup mata.


"Akh, aku ngantuk, kita baru tidur dan kau sudah rewel? Apa belum cukup, besok kesiangan jika terus main," ucap Farida memeluk gulingnya dengan posisi membelakangi Kaisar.


Kaisar mengerjakan mata, dia tidak salah dengar? Lalu siapa yang ada di kakinya?


Dia melongok ke bawah dan melihat Lana yang sedang memeluk kakinya sambil menjilat.


Kaisar melepaskan pelukan Lana di kakinya.


"Oh tidak... gulaliku ...," racaunya.


"Permen? Dia pikir kakiku itu permen? Anak nakal!" Kaisar memperbaiki posisi tidur Lana sehingga berada di tengah. Dia lalu memeluk keduanya.


"Ya Tuhan, nikmat mana yang Engkau dustakan. Semua begitu indah dan nyata."


***


Tiga bulan kemudian, Lana diajak oleh Farida ke rumah sakit.


"Memang siapa yang sakit, Bu?" tanya Lana.


"Tidak ada!"


"Memang Kakek seperti orang sakit?"


"Kan sudah tua, Bu."


"Kita berdoa semoga Kakekmu itu masih kuat dan sehat, agar bisa ajak kau main ke Monas setiap akhir pekan."


"Lho, itu Ayah, Bu," tunjuk Lana pada Kaisar yang sedang berbicara dengan seorang perawat. Begitu melihat keduanya, Kaisar langsung datang mendekat.


"Kalian sudah datang, kalau begitu kita masuk saja," ujar Kaisar.


"Bukankah kita harus mengantri?" tanya Farida yang melihat deretan ibu-ibu hamil yang sedang duduk mengunggu panggilan untuk menemui dokter spesialis kandungan kesukaan mereka.


"Kita pakai jalur VIP," ujar Kaisar.


"Mana boleh, curang namanya!"


"Sebenarnya nama mu sudah dipanggil tadi, tapi karena kau belum datang jadi ditangguhkan."


"Oh, Okey."


Mereka lalu masuk ke ruangan dokter itu. Farida langsung diarahkan ke tempat pembaringan untuk melalui proses USG.


"Ibu yang sakit ayah? Kenapa di beri itu?" tanya Lana khawatir.


"Kau lihat saja dulu," ujar Kaisar menunjuk ke arah layar monitor.


"Itu apa?"


"Itu gambar adik kecilmu," terang Kaisar. Hanya cara ini yang bisa dia dan Farida lakukan berharap agar Maulana mau menerima adiknya. Soalnya, sampai detik ini jika disinggung mengenai adik, dia akan marah.


"Adik?" Maulana terlihat termangu. Apalagi ketika mendengar detak jantung suara janin Farida.


Farida dan Kaisar saling menatap cemas.


Mendadak Maulana mendekat ke arah monitor dan menyentuhnya.


"Adikmu sepertinya berkelamin lelaki," jelas Dokter itu memberi tanda dia titik di bawah panggul gambar janin di monitor.


"Kenapa wajahnya seperti itu?"


"Itu belum terlihat jelas, nanti jika berumur lima tahun kau sudah bisa melihat bentuk wajah adikmu," terang dokter itu lagi.


"Oh ya? Lalu kapan lahirnya?"


"Enam bulan lagi."


"Itu masih sangat lama," gumam Maulana.


Kaisar dan Farida tersenyum lega. Akhirnya setelah lama mereka merahasiakan ini, Lana merasa tidak keberatan dengan keberadaan adiknya setelah tahu ini.


"Kau bisa bermain, menemani, dan mengajaknya bicara ketika masih ada di perut ibumu."


Maulana melirik ke arah perut besar ibunya.


"Dia nanti akan merespon dengan gerakan, biasanya diumur lima bulan gerakan itu akan terasa jelas dipermukaan kulit ibu."


"Kalau begitu aku akan menjaga adikku dan menemaninya terus agar dia tidak merasa kesepian seperti aku dulu."


"Anak baik," puji sang Dokter.


"Bu, aku akan tidur di kamar Ibu buat jaga adikku. Soalnya ayah suka nakal. Suka peluk2 keras-keras nanti adikku kejempet."


Kaisar memegang kepalanya. Kalau setiap malam Maulana tidur dengan mereka, bagaimana dengan dirinya? Akankah menganggur selama enam bulan?