
Farida merasa hari-harinya selalu dipenuhi kebahagiaan. Ada tawa Maulana yang selalu menggema di setiap sudut rumah. Ada perhatian ayahnya, walau lewat isyarat ada, kasih sayang mertuanya yang sering datang ke rumah untuk sekedar menyapa dan ada kehangatan cinta Kaisar untuknya.
Setiap hari ada saja hadiah yang diberikan Kaisar untuknya, walau itu hanya buket bunga, tapi semua itu membuatnya senang. Ya, istri mana yang tidak senang ketika menerima perhatian lebih dari suaminya.
"Bu, aku tidak tahu tentang pelajaran ini," kata Maulana memperlihatkan soal di bukunya.
Farida yang sedang menyiapkan masakan untuk nanti malam, menghentikan kegiatannya dan melihat ke arah soal yang ada di buku Maulana.
"Ibu membeli lima buah apel dan adik memakan dua buah apel itu, tinggal berapa apel yang tersisa?" baca Farida.
Wanita itu lantas membuka lemari pendingin dan meletakkan lima buah apel diatas meja dapur.
"Ini lima apelnya dan dua diambil untuk dimakan, tinggal berapa?" Farida mengambil dua apel tadi.
"Itu aku tahu itu, Bu. Ada tiga, tapi kan aku tidak punya adik, ya jawabannya lima saja. Aku sudah mengatakan ini pada Bu Guru Ismi, tapi Bu guru mengatakan salah."
Para pelayan yang ikut mendengar tertawa.
"Bilang saja sama Tuan Kaisar untuk membuat adik, Den Lana," ucap salah seorang pelayan menahan tawa.
"Ih, Mba Lily, ga lucu deh. Aku tidak mau punya adik," ujar Lana, lalu beranjak pergi dengan cara menghentakkan kaki ke lantai.
"Jangan bahas soal adik padanya," kata Farida sambil menghela nafas menatap Maulana.
"Maaf, Bu, saya tidak tahu." Mbak Lily menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Baik, Bu," jawab para pelayan yang ada di sana.
Malam harinya setelah menidurkan Maulana, Farida pergi ke kamarnya. Di sana ada Kaisar yang terlihat sedang serius menatap layar laptop di pangkuan.
Farida pergi kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan pakaian tidur seksi.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan diam-diam dan malu-malu. Suaminya masih saja asik dengan pekerjaan yang dibawanya dari kantor. Benar-benar menyebalkan, batin Farida.
Wanita itu lantas ke meja rias. Mengoleskan handbody ke seluruh tubuhnya. Aroma harum yang lembut itu rupanya membuat Kaisar terganggu. Pria itu mengangkat wajahnya.
Kedua alis pria itu mulai terangkat dan sebuah senyum terbit di bibirnya. Semua tulisan di laptop lenyap dengan seketika. Dia menutup dan meletakkan di atas nakas, lantas berjalan mendekat ke arah Farida yang sedang menaikkan kakinya ke atas sehingga kulit putih bercahaya yang seperti pualam itu terlihat jelas di depan mata Kaisar.
"Wow, kau terlihat mengagumkan, lingerie merah itu membuatku bersemangat. Sangat cocok dengan warna kulitmu, mempesona. Kau lihat, dia langsung bereaksi," tanggap Kaisar dengan wajah jahilnya.
"Tapi tunggu Sayang, aku mau ke kamar mandi dulu," kata Kaisar bergerak cepat masuk ke kamar mandi meninggalkan Farida yang masih dalam kebingungan.
Farida terlihat kesal ketika Kaisar masuk ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan pria itu di dalam sana dan hal itu dilakukannya setiap kali mereka akan memulai hubungan intim.
Farida yang merasa penasaran lalu mulai berjalan mengendap ke arah kamar mandi dan membuka pintu itu pelan. Matanya membelalak besar ketika melihat apa yang suaminya lakukan.
Hayoo lagi ngapain itu Kaisar?