
Farida masuk ke kantor milik keluarganya dimana Cantika yang menduduki posisi sebagai CEO dari perusahaan garmen itu.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk sembarangan," ujar satpam penjaga di depan pintu. Dia memencet tombol finger print yang menempel di tembok dan tertera nama serta wajahnya di sana
"Ternyata masih berfungsi," ujarnya tersenyum sinis pada satpam yang bertugas.
Dia satpam baru jadi tidak mengerti siapa Airlangga itu. Dia masih menghalangi Airlangga alias Farida itu.
Farida lalu mengeluarkan kartu namanya dulu sewaktu masuk ke kantor ini.
"Aku anak dari pemilik gedung ini. Jika kau menghalangiku, aku pastikan beberapa jam lagi kau akan mendapatkan surat pemecatanmu!"
Satpam itu terdiam. Farida lalu langsung menuju ke ruangan Cantika melewati sekretaris yang terlihat terkejut.
"Nona, Anda tidak boleh masuk ke dalam," ujar sekretaris itu keluar dari meja untuk menghalangi Farida. Namun, terlambat. Farida sudah membuka pintu ruangan itu.
"Bu, maaf," ujar sekretaris Cantika dengan panik.
"Nona, sudah kuperingatkan Anda dilarang masuk ke dalam begitu saja!"
Cantika yang sedang berbicara dengan para kliennya menatap ke arah Farida dengan wajah pucat.
"Hallo Kakak, sudah enam tahun lebih kita tidak bertemu, apakah kau tidak ingin memelukku?"
Mata Cantika menyorot tajam ke arah Farida. Dia ingin mengeluarkan berbagai umpatan tapi teringat jika ada orang lain diantara mereka.
"Maaf, Tuan-tuan atas ketidaknyamanan ini. Bisakah kita menghentikan pertemuan ini sebentar atau kita menjadwal ulang."
"Okeyz tidak apa-apa Nyonya Cortez, kita bisa melakukan pertemuan lagi kapan pun dilain waktu, Namun alangkah sangat bijaksananya jika kau tidak melakukan hal ini seperti ini lagi di lain waktu," ujar relasi bisnis Cantika membuat wajahnya yang tadi pucat memerah. Dia masih tetap profesional dan membalas dengan senyuman yang manis.
"Itu lebih baik." Relasi bisnis Cantika itu langsung pergi sambil melihat ke arah Farida.
"Aku seperti pernah melihatmu? Oh ya, aku ingat, bukankah kau yang kemarin ada di peluncuran perusahaan jasa milik keluarga Cortez?"
"Iya."
"Jadi kau adalah adik dari Nyonya Cantika. Aku kira kau itu... well kau dan Tuan Cortez terlihat dekat, ternyata hanya kedekatan kakak dan adik ipar saja. Tuan Cortez benar-benar pria hebat yang bisa sukses di bisnis juga keluarganya. Terbukti dekat dengan keluarga istrinya."
"Anda benar, Kaisar memang orang yang sangat profesional. Aku beruntung ditarik untuk menemani usahanya," imbuh Farida.
Hal itu membuat wajah Cantika semakin merah padam. Dia memang sudah tahu di pengadilan jika Farida dekat dengan Kaisar, tapi tidak tahu jika mereka sedang dalam proyek bersama. Itu pasti membuat pertemuan mereka semakin intens.
Setelah tiga orang pria di ruangan Cantika pergi bersama diantar sekretaris Cantika, kini Farida bisa leluasa berada di sana. Dia lalu menjatuhkan diri di sofa nyaman di ruangan itu.
"Nikmatnya, seharusnya ini jadi milikku tapi kau ambil," ujar Farida santai.
"Pergi kau dari sini atau aku usir!"
.Farida tersenyum penuh misteri.
"Aku yang akan membuatmu angkat kaki dari sini," ujar Farida santai.
"Jangan mimpi kau!" seru Cantika.
"Aku bermimpi? Aku hany mengambil sesuatu yang dulu pernah ayah berikan."
"Ayah tidak akan mengakui wanita berbisa seperti mu! Aku masih memegang semua kartu hidupmu!"