
Kaisar mulai berjalan ke arah tangga rumah yang ada di sudut ruang tengah. Di saat yang sama Farida mulai panik.
"Kau mau apa?" tanya Farida.
"Melihat siapa yang bersin, bukannya katamu hanya ada kamu di sini," ujar Kaisar.
"Ini rumahku, kau tidak bisa seenaknya saja masuk dan...." Kaisar mengabaikan ucapan Farida, dia naik keatas melewati tangga. Matanya yang tajam menyusuri setiap sudut rumah.
"Pak, kenapa kau ingin sekali mengacak hidupku!"
"Karena kau coba menyembunyikan sesuatu dariku dan aku coba mencari tahu apa yang kau sembunyikan."
Kaisar mulai membuka satu persatu ruangan yang ada di ruangan itu. Sedangkan, Farida mengikuti di belakangnya.
"Sudah kukatakan jika kau dan aku tidak punya hubungan apapun sebelumnya!" geram Farida memegang tangan Kaisar.
Kaisar membalikkan tubuhnya dan mengacungkan jari telunjuk ke arah Farida dengan tatapan berapi-api.
"Tidak ada sesuatu yang serba kebetulan Ida. Jika kau coba mempermainkan aku, maka kau salah!" ujar Kaisar tegas.
Ida mundur selangkah ke belakang karena terkejut.
Kaisar kembali menyisir lantai dua.
Dada Farida berdegub kencang ketika mereka pada akhirnya sampai ke balkon atas yang dipakai sebagai tempat menjemur pakaian. Berpikir apakah yang terjadi nanti?
Dia bahkan tidak sanggup membuka matanya.
Kaisar membuka pintu di sana. Langkahnya terhenti ketika tidak melihat apapun di sana. Dia hendak memeriksa tempat itu, tapi handphone di saku bajunya berbunyi.
Kaisar mengambil handphonenya dan menjawab panggilan dari Cantika.
"Hallo."
"Kai, kau bawa Alisa kemana? Aku tadi menjemputnya, tapi sudah tidak ada. Bu guru bilang sudah ikut bersamamu. Aku menunggu di rumah dan kalian tidak sampai juga ke rumah. Aku menghubungi Mommy, tapi katanya kalian tidak ada di sana."
"Aku akan segera pulang," jawab Kaisar.
"Okey, aku tunggu."
Kaisar langsung mematikan panggilan itu begitu saja. Dia lalu menatap tajam ke arah Farida. Tangannya memegang dagu wanita itu.
"Kali ini kau bisa selamat, tapi tidak akan ada lain kali." Dengan nakalnya ibu jari Kaisar menyentuh bibir Farida.
Farida yang kesal menggigit jari besar itu. Kaisar langsung menariknya. Dia mengibaskan tangannya ke udara. Farida sendiri tertawa.
"Kau berkata, jangan bermain-main denganku dan sayangnya, aku melakukan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh. Jadi ketika aku diganggu, maka aku akan ...." Farida menggerakkan tangannya seperti ular ingin mematuk.
Kaisar tertawa dan melangkah pergi dari lantai itu.
"Aku akan menunggu kau membelitkan tubuhmu lagi ke tubuhku," serunya. "Aku pergi dulu, Tante Cantik. Nanti aku akan menghubungi lagi."
Farida menganga sambil meletakkan kedua tangan di pinggang.
"Kenapa aku selalu kalah darinya?"
"Karena dia suhunya," bisik Uyun yang sudah ada di belakang Farida.
"Kalian bersembunyi dimana?"
Uyun menunjuk ke arah tower air yang ada di atas lantai dua. Mereka naik lewat tangga lipat.
"Maulana?"
Dia ada di dalam lemari kamar mu," jawab Uyun.
Farida terkejut, dia langsung berlari ke kamar dan membuka lemari besar miliknya. Dia melihat Maulana tertidur di sana sedangkan handphone di sebelahnya masih menyala.
Farida memindahkan dan membaringkan Maulana ke tempat tidur.
"Hampir saja," ujar Farida. Kakinya terasa lemas, lalu menjatuhkan diri di tempat tidur.
"Ku rasa sudah tidak aman menyekolahkan dia di sekolah itu," ujar Uyun. "Kecuali kau ingin keberadaan Maulana di ketahui oleh Kaisar."
"Tidak, aku tidak akan memberitahukan keberadaan Maulana. Lagipula, dari awal Kaisar juga tidak tahu tentangnya dan mengharapkan dia ada."
"Lalu bagaimana caramu membalas dendam?"
Farida tersenyum jahat.
"Pria mesum?" ujar Uyun tertawa melihat nama yang tertera di sana. "Memang kemesuman apa saja yang dia lakukan padamu?"
Farida menatap malas sahabatnya itu. Dia lalu membuka pesan yang ada.
*Berangkat besok kalau tidak mau perusahaan milikku digugat oleh perusahaan milikku karena telah menyalahi kontrak.
Seperti yang tertera di surat kontrak, yang gugatan itu sebanyak 10 kali dari uang yang sudah perusahaan lakukan untuk membangun bisnis bersama ini. Kau bisa menghitungnya sendiri*.
Farida melempar handphone itu keras ke arah tempat tidur.
"Dia itu memang penindas," ujarnya kesal.
"Dia itu sangat pintar pantas saja Maulana menuruni kepandaiannya."
"Kau membelanya?"
"Aku hanya mengatakan kenyataannya. Aku lebih takut kau yang akan terjebak di dalamnya."
"Itu tidak mungkin, kau tahu kan maksudku?"
"Hanya memperingatkan saja. Dia itu tampan, kaya, berbakat, tidak ada yang kurang. Semua kesempurnaan yang pria inginkan ada padanya."
"Kau itu ada di pihakku atau dirinya?"
"Aku ada di pihak Maulana, dia butuh ayahnya."
"Dia tahunya Uda Erick ayahnya."
"Nyatanya, Erick bukan sosok ayah baik yang dia bisa harapkan. Dia juga bukan suami yang sempurna karena dia seringnya berada di luar, daripada bersamaku. Aku kerap merindukan dia, tapi dia asik dengan pekerjaannya. Terkadang aku berpikir apakah dia punya wanita simpanan lainnya, kau tahu kan seperti apa watak kebanyakan sopir jalanan?"
"Uda Erick tidak mungkin seperti itu, dia hanya sedang bekerja keras agar kehidupan Kakak lebih baik. Dia ingin Kakak bisa hidup mapan dan tercukupi."
"Uang bukan segalanya. Aku juga butuh perhatian darinya seperti istri lainnya."
Uyun lalu menangis di pelukan Farida.
Di satu sisi, Maulana membuka sedikit matanya. Dia sengaja berpura-pura tidur. Namun, apa yang dia dengar membuat dia enggan untuk membuka mata dan ingin mendengar lebih banyak lagi.
Ayahnya bukan Ayah Erick, lalu siapa? Apakah tamu tadi yang datang bersama dengan Alisa? Jika iya, mengapa dia malah disuruh bersembunyi? Mereka mengatakan jika ada orang menagih hutang yang datang dan akan mengambil anak kecil sebagai jaminannya. Makanya dia disuruh sembunyi jika tidak ingin diambil untuk bayar hutang. Ternyata itu tipuan Tante Ida.
Namun, semua ini membuat Maulana bingung. Ayahnya itu sebenarnya Ayah Erick atau pria tadi? Ini terlalu rumit untuknya.
Beberapa saat kemudian, Kaisar sampai di rumah. Mereka langsung disambut oleh Cantika yang sudah menunggu keduanya sedari tadi.
"Kau darimana, Sayang?" tanya Cantika. Dia bahagia karena sepertinya angin bagus masuk kembali ke rumah ini. Kaisar bertingkah normal dengan memberi perhatian pada Alisa. Hal itu seperti memberi cahaya terang pada kehidupan rumah tangganya. Dia tidak akan melepaskan lagi kesempatan kedua ini, jika memang ada.
"Aku dari rumah temanku yang sakit," jawab Alisa polos.
"Mengunjungi teman yang sakit? Apakah bersama dengan orang tua murid lainnya?" Hal yang tidak wajar Kaisar lakukan. Pria itu tidak akan perhatian pada hal sepele seperti ini kecuali ada sebabnya.
"Tidak, kami pergi sendiri kesana. Namun, temanku itu tidak ada di rumah itu. Dia tinggal bersama dengan orangtuanya."
Cantika makin mengerutkan dahinya. "Lalu apa yang kalian lakukan di sana?"
"Kami datang ke sana dan makan di sana. Ibu tahu, makanan di sana sama seperti masakan Nenek Dara."
"Memang kau kenal dengan orang tua wali murid itu?" tanya Cantika pada Kaisar.
"Hanya relasi bisnis. Tadinya aku bertemu mereka di rumah sakit dan kebetulan anaknya itu teman Alisa jadi sekalian aku mengunjungi nya."
"Tapi kata Alisa anak itu tidak tinggal di rumah itu," ujar Cantika bingung.
"Ya, di sana hanya ada Tante Cantik, Tantenya Maulana. Teman Ayah juga, dia juga kenal Ibu," jelas Alisa bersemangat.
"Tante Cantik, teman Ayah dan kenal dengan Ibu?" ulang Cantika menatap ke arah Kaisar.
Instingnya mulai berkata buruk. Ucapan ibunya tentang wanita lain dalam rumah tangganya mulai menghantui pikirannya kini.
"Siapa wanita itu? Apakah aku mengenalnya?"
Bukannya menjawab Kaisar malah meninggalkannya.
"Kai, kau harus jelaskan padaku, siapa wanita itu? Kenapa kau sampai peduli sekali pada anaknya?"
"Jika kau mau mematik keributan, aku akan pergi sekarang!"
Alisa mulai berjalan mundur ke belakang, dia lalu berlari pergi ke kamarnya enggan untuk mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya.