
Farida alias Airlangga hanya tersenyum lantas mundur dan beranjak pergi dari tempat itu.
Sedangkan Fadil masih shock dengan apa yang ada di depannya. Menatap kepergian Airlangga dengan mata nanar.
"Yah, kita pulang sekarang," ujar Ira menepuk bahu suaminya dari belakang. Melihat tidak ada tanggapan, Ira lantas berdiri di depan suaminya.
Dia terkesiap melihat suaminya yang melihat ke arah depan dengan wajah pucat. Mengikuti arah pandang mata suaminya, tapi tidak ada apa-apa.
"Ada apa, Yah?" Ira mengguncang lengan Fadil.
"Airlangga... dia ...," ucap Fadil dengan gagap sambil menunjuk ke arah hilangnya Airlangga.
"Anak itu? Kau masih memikirkannya juga? Bukankah enam tahun yang lalu kita melihat jasadnya di rumah sakit ini lalu kita menguburkannya di sebelah ibunya.
"Tidak, tadi dia di sini, menyapaku," ungkap Fadil kekeh.
Ira menggelengkan kepalanya. "Kau terlalu banyak berpikir sehingga berhalusinasi tentangnya. Ayo kita pulang," ujar Ira mendorong kursi roda Fadil. Pria tua itu hanya tertegun, menatap kosong ke depan. Entah apa yang dia pikirkan.
"Kau sudah jangan ingat lagi penipu itu, bertahun-tahun dia telah membohongi kau, ayahnya hanya karena harta. Cih, sungguh tamak," omel Ira.
Sedangkan di sudut lain dari lorong rumah sakit, Farida menatap kepergian ayahnya dengan mata memerah. "Ayah, apakah kau masih tidak menyesali semua yang terjadi?"
Dia menundukkan wajahnya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
***
Kedekatan Farida dan Kaisar bertambah intens. Farida benar-benar telah mencuri hatinya dengan memberi perhatian Kaisar secara penuh. Wanita itu juga kerap dibawa Kaisar menemui relasinya. Namun, Farida selalu menolak jika diajak oleh Kaisar untuk menemani pria itu pergi ke pesta.
Hari ini adalah hari sidang pertama perceraian dari Kaisar. Cantika sudah datang dan duduk bersama dengan Ira menunggu antrian sidang. Fadil sendiri sedang berbicara dengan pengacara Cantika mengenai masalah ini dengan raut wajah terlihat serius.
Sedangkan dari pihak Kaisar belum ada yang datang sama sekali.
"Kau sudah menyerah?" tanya Ira yang tidak rela jika anaknya akan bercerai dengan menantunya yang dari kalangan konglomerat.
"Entahlah, Bu, aku sedang berpikir apa yang harus aku lakukan."
"Berpikir dan diam saja? Kau ini lambat atau bodoh? Kau harus menggunakan otakmu ini untuk tetap bisa menjerat Kaisar," ujar Ira kesal.
"Itu yang sedang aku pikirkan. Pria itu punya selingkuhan dan aku sudah mendapatkan beritanya."
"Kalau begitu potong kaki dan tangan selingkuhannya itu sebelum kepalamu yang jerat dengan masalah ini," bisik Ira dengan gigi yang gemeletuk.
"Ibu tenang saja, sebelum palu diketuk, wanita itu akan hilang dari peredaran bumi ini," ucap Cantika menatap ke depan.
"Itu baru anakku, jangan mau kalah dengan pelakor. Mereka itu statusnya lebih rendah dari kita. Jangan biarkan tahtamu direbut oleh orang lain."
Cantika menganggukkan kepalanya.
Cantika menghela nafasnya. Dia menggelengkan kepala. "Mereka tidak setuju dengan perceraian ini karena mereka berpikir tentang masa depan Alisa."
"Hmm ... satu point kemenanganmu."
"Aku akan membuat isu perselingkuhan ini memberatkan pihak Kaisar, agar gugatan perceraian ini dibatalkan."
Sidang segera akan dimulai. Semua orang masuk ke dalam ruang sidang. Di saat semua sudah bersiap hanya tinggal menunggu hakim masuk. Kaisar terlihat berdiri di pintu masuk. Semua arah mata menatap ke arahnya.
Wajahnya sama seperti biasanya. Dingin. Dia lantas maju ke depan sambil menggandeng tangan seorang wanita yang terlihat menundukkan kepalanya. Rambutnya yang hitam itu menutupi wajah sehingga membuat penasaran semua yang ada di sana. Termasuk Ira dan Cantika, juga Fadil. Fokus mereka pada tangan pasangan itu yang saling bergenggaman.
Kaisar dan Farida mengenakan baju senada. Kemeja putih bagian atasnya dan bawahan berwarna hitam. Hal itu tambah membuat sesak Cantika. Selama ini, Kaisar tidak pernah memberi perhatian lebih untuk urusan pakaian ketika bersamanya. Bahkan pria itu tidak pernah melepaskan jasnya, selalu terlihat resmi. Namun, bersama dengan wanita itu, kebiasaan Kaisar tampak berubah dan terlihat nyata.
Kaisar mengatakan sesuatu pada wanita itu lalu pengacara dari pihak Kaisar datang. Wanita itu duduk di bagian depan kursi pengunjung.
"Itukah pelakornya?" bisik Fadil pada Ira. Ira mengangkat bahunya sambil menatap ke arah Cantika yang masih melihat ke arah Kaisar dan wanita itu.
Mereka berdua tampak tidak perduli dengan tatapan semua orang. Bahkan Kaisar seperti memberitahu semuanya jika dia punya hubungan dengan wanita itu dengan meletakkan kedua tangannya di bahu Farida seperti sedang melindunginya.
"Kalau kau tidak nyaman kau bisa duduk di belakang," ujar Kaisar yang khawatir dengan psikis Farida. Semua orang terlihat menatap tajam ke arah wanita itu.
Farida tersenyum dibalik maskernya. "Aku baik-baik saja. Lagipula anak buahmu ada di dekatku," lanjut Farida menengadah agar bisa menatap ke arah Kaisar.
Kaisar memegang kedua pipinya. "Terimakasih karena memberi kekuatan lebih padaku."
Sidang segera di mulai, Kaisar pergi ke tempat duduknya yang ada di sisi kanan ruang sidang bersama dengan pengacaranya.
Semua mata menatap ke arah Farida, penasaran dengan wajah wanita itu yang masih tertutup oleh masker.
"Apa kau lihat dia?" tunjuk salah seorang wanita ke arah Farida.
"Apakah dia wanita selingkuhan Kaisar?"
"Ish menjijikkan sekali," timpal pengunjung yang lain. Bisik-bisik tentang Farida mulai terdengar. Ira sendiri melayangkan tatapan tajam dan menusuk ke arah Farida.
Sangat berbeda dengan Cantika, wajah wanita itu terlihat lesu dan sedih. Semua merasa bersimpati padanya. Merasa bahwa Cantika adalah korban sesungguhnya. Ya, dia memang korban di sini. Selama ini pernikahannya tidak bahagia karena Kaisar masih terbayang dengan wanita lain. Wanita yang menjadi tembok pemisah hubungan keduanya.
Fadil sendiri seperti mengenal sorot mata itu, pikirannya kembali kepada sosok Airlangga, putrinya. Dulu Kaisar mempunyai kedekatan dengan Airlangga, dia ingat hal itu. Pria tua itu kembali menatap ke arah wanita itu.
Jika Airlangga tidak muncul beberapa waktu yang lalu mungkin pikiran ini tidak muncul. Namun, anaknya telah datang. Jika itu memang Airlangga yang ternyata masih hidup maka akan ada pertanyaan. Kenapa dia datang kembali setelah enam tahun menghilang? Kenapa dia bersama dengan Kaisar? Apakah dia merencanakan kehancuran Cantika. Jika seperti itu, maka sifat buruk dan licik ibunya menurun ke Airlangga. Dia harus memperingatkan Cantika dan Kaisar.
Farida menoleh ke arah Fadil. Tersenyum di balik maskernya. Lalu melihat ke arah Kaisar yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan cemas. Farida menganggukkan kepala sebagai bentuk dukungan dan mengatakan dia baik-baik saja.
Di saat yang sama, Cantika menatap dirinya dengan tatapan benci dan membunuh. Farida melambaikan tangan di dada seperti sedang menyapanya. Cantika lalu membuang wajah ke arah lain.
Sialan!