One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 46 Berkata Jujur



Farida berjalan dengan percaya diri melewati deretan pegawai yang terlihat menatapnya dengan sinis. Mungkin mereka berusaha menebak apa yang terjadi padanya terakhir kali berada di kantor ini.


"Selamat pagi, Betty," sapa Farida pada wanita di depannya.


Betty membetulkan letak kacamatanya dan menatap ke arah Farida.


"Nona, Anda kemari lagi?" tanyanya dengan nada tidak percaya.


"Sebetulnya malas, tapi ...." Farida mencondongkan tubuhnya ke arah Betty. "Bosmu itu selalu menggangguku agar aku segera berangkat."


"Nona yang kemarin?"


"Kau tahu?" balik Farida.


"Ehm ... saya tidak tahu." Betty memilih jawaban yang aman untuknya.


"Baguslah, berpura-puralah tidak terjadi apa-apa jika ingin masih berada di sini." Farida menghela nafasnya.


"Apakah dia ada di sana?"


Betty menganggukkan kepalanya. Farida menyeka dahi dengan punggung tangan. Lalu memegang dada.


"Semoga aman kali ini," ujarnya.


Betty meringis menatap ke arah Farida. Dia juga takut kejadian kemarin terulang lagi. Walau sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi hanya saja instingnya mengatakan itu hal buruk.


Farida menganggukkan kepalanya. "Nanti kita makan siang bersama ya di kantin?" ajak Farida.


Betty terlihat canggung.


"Kau tidak mau?"


"Apa tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah menyedihkan.


"Memang kenapa?"


"Tidak, tidak." Betty melihat ke arah pintu ruangan. "Cepat masuk sebelum ada perang dunia ke empat belas," ujarnya.


Mereka berdua lalu cekikikan sendiri. Farida lalu berjalan ke arah pintu ruangan Kaisar.


"Semangat!" ujar Betty dengan suara berbisik takut ada yang melihat.


Farida mengetuk pintu ruangan Kaisar. Tidak ada jawaban. Di ulanginya lagi.


"Masuk," jawab Kaisar dari dalam. Farida dengan langkah pelan masuk ke dalam ruangan.


Kaisar tampak sedang sibuk dengan tumpukan map di depannya. Hanya kepalanya saja yang terlihat, namun pekerjaan itu tidak kunjung usai. Padahal semalam dia sengaja datang lagi ke kantor dan lembur sampai menjelang pagi untuk melupakan masalah yang tengah dia hadapi.


"Betty, kau cari laporan pembelian mesin yang berkaitan dengan proyek kita di Morowali, aku rasa ada yang miss dengan laporan ini," kata Kaisar yang tidak melihat ke arah Farida.


Farida lantas maju dan mencari map yang dimaksud. Setelah menemukannya dia menyerahkan pada Kaisar.


Pria itu memegang lehernya yang pegal. "Secangkir kopi hitam tanpa gula," ujarnya lagi. Farida langsung bergegas pergi membuatkan kopi yang Kaisar inginkan.


"Taruh di sini. Kau ambil catatan keuangan pembelian mesin itu. Berapa yang kita bayarkan. Aku seperti menemukan kejanggalan di sini. Sepertinya ada yang ingin bermain denganku."


Suara handphone Kaisar berbunyi. "Ambilkan."


Farida menyerahkan handphone Kaisar ke arahnya. Kaisar langsung menjawab panggilan itu sambil tetap melihat ke arah map yang ada di depannya.


Dia mematikan handphonenya sambil memejamkan mata sejenak dan mengusap lehernya yang kaku.


"Kopiku," kata Kaisar.


Farida tidak memberikannya setelah melihat ada tiga cangkir kopi lain di sana. Ini baru jam 9 pagi tapi dia sudah minum kopi sebanyak itu.


"Kau ingin kupecat atau apa?" bentak Kaisar kesal sambil mengangkat kepalanya menatap ke arah Farida.


Wajah Kaisar yang biasa tampan kini terlihat kacau. Ada garis hitam di bawah matanya yang tajam. Rambutnya pun tampak seperti tidak di sisir rapi seperti biasanya. Mungkin dia belum mandi sedari tadi atau mungkin juga dia tidak pulang ke rumah, berada di kantor sejak semalam. Ya, itu pasti karena pakaian yang dikenakan masih sama seperti kemarin.


Pria itu masih tertegun melihat Farida ada di depannya. "Kau kemari?"


"Aku akan pulang saja kalau begitu."


"Eh jangan, kau ... kau ...." Kaisar bingung harus mengatakan apa. Hatinya mulai membaik setelah melihat Farida.


"Terlalu banyak kopi bisa membuat asam lambung naik," kata Farida sambil melihat ke arah tiga cangkir lainnya di meja itu.


"Oh, itu, aku membutuhkannya." Kaisar menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya. Menggerakkannya ke kanan dan kiri.


"Kau belum sarapan?"


"Jam berapa ini?"


"Sembilan lebih tujuh belas menit," ucap Farida.


"Sepertinya aku melewatkannya." Pria itu melihat ke arah jam tangannya. "Beberapa menit lagi aku ada pertemuan dengan klien penting."


Farida menatap Kaisar dengan tajam. "Oh, dengan penampilan seperti itu?"


"Tidak akan ada yang menanyakannya."


"Oh, ayolah, ini bukan Kaisar Alexander King yang aku ketahui. Kau orang yang perfeksionis dan mementingkan kebersihan serta kerapihan."


"Kau ternyata tahu banyak tentangku," ujar Kaisar menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Aku sangat tahu tentang dirimu bahkan semuanya...," ujar Farida keceplosan.


"Ternyata hubungan kita memang telah sejauh itu sebelumnya."


"Bukan begitu, aku membacanya di artikel." Farida menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak yakin dengan apa yang dia katakan.


"Humm, mungkin lain kali kau bisa mengatakan apa yang kau ketahui lagi tentang diriku." Kaisar bangkit dari kursinya berjalan mendekat ke arah Farida.


"Aku rasa kau pun tahu jika aku tidak akan sembarangan menyentuh wanita," ujarnya mencondongkan kepala ke arah Farida sehingga hembusan nafas pria itu mengenai sebelah pipinya. Setelah mengatakan itu, Kaisar menghirup aroma rambut Farida.


"Wangi buah, seperti bayi, aku merasa akrab dengan wangi ini karena ini wangi tubuhmu."


"Jika Anda menyuruh saya kembali hanya untuk mengatakan ini lebih baik saya kembali lagi. Kita akan banding di pengadilan jika Anda ingin menuntut perusahaan kami," tegas Farida.


"Kita ke KUA saja," ujar Kaisar.


"Anda gila!" kata Farida kesal.


"Jangan sok alim di depanku," kata Kaisar gemas memegang pinggang Farida lalu mendekatkan tubuhnya dengan tubuh wanita itu.


"Pak, lepaskan, ini pelecehan." Tangan Farida menahan tubuh Kaisar, memberi jarak pada mereka.


"Kalau begitu kita menikah agar tidak terjadi pelecehan."


"Tidak bisa, Anda itu suami orang."


Seketika bagian bawah tubuhnya bereaksi. Dia merasa senang. Ternyata memang benar apa yang Dokter katakan kalau dia memang mengalami masalah psikologis yang menyebabkan dia tidak bisa ereksi.


"Baiklah setelah aku berpisah dengan istriku apa kau mau menikah denganku?"


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Pokoknya tidak," ujar Farida.


"Apa yang kurang dariku hingga kau menolakku?"


"Aku hanya akan menikah dengan orang yang mencintaiku dan aku mencintainya, kau bukan orang itu."


Kaisar melepaskan pelukannya dan tertawa. "Hanya karena itu?"


Farida menghela nafas lega sambil mengangguk.


"Kita hanya perlu menyiram kembali bunga cinta yang layu karena termakan waktu," ujar Kaisar.


"Asal kau tahu, kita tidak pernah punya hubungan sebelumnya."


"Aku tidak percaya, aku yakin hubungan kita lebih dari itu. Kita pernah melakukan $3x," ungkap Kaisar.


Farida mengerjapkan mata. "Itu hanya sebuah kesalahan," ujarnya lemah.


"Akhirnya kau berkata jujur juga kalau kau memang wanita itu," ujar Kaisar lega. "Walau begitu aku tidak yakin hanya seperti itu. Pasti ada banyak hal yang masih kau sembunyikan dariku."