One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 53



Dara membawa album foto ke kamarnya. Tempat dimana si kecil Maulana berbaring. Dia menutup dan mengunci pintu kamar. Alehandro nampak bingung melihat sikap istrinya yang tidak biasa itu.


Dengan tangan gemetar Dara membuka lembar demi lembar album foto itu sampai menemukan apa yang dia cari. Dia menyerahkannya pada Alehandro.


"U see," katanya.


"Ini ...," kata Alehandro merasa bingung. Dia melihat ke arah Maulana dan foto itu secara bergantian. Tangannya memegang mulut dan dagunya dan mulai berpikir.


"Sangat mirip tapi bukan berarti ini anak Kaisar kan?" ujar Alehandro. Dalam hati dia takut menebak hal ini. Namun, jika dilihat lagi sama persis. "Di dunia ini kita punya tuju kembaran," katanya tidak yakin.


"Tante anak ini kerja bersama Kaisar," lanjut Dara.


"Kau mengenal anak ini?" tanya Alehandro.


Dara mengangguk. "Kami bertemu tadi siang di sekolah Alisa."


"Sekolah Alisa?" ulang Alehandro. Dia teringat anak ini menangis ingin ke rumah ayahnya.


Mereka langsung berpandangan.


"Apakah pikiranmu sama dengan diriku?" tanya Dara.


Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


"Mom, Dad, kalian di dalam? Tamu sudah tidak sabar menunggu kalian keluar."


Dara lalu menarik tangan Alehandro. "Kita bicarakan masalah ini nanti. Yang penting anak ini selamat dan ada di sini. Soal yang lain kita bicarakan nanti."


"Lalu bagaimana dengan dia?" tunjuk Alehandro.


"Mom, Dad, cepat, semua menunggu kalian dibawah."


"Ya, Sayang, kau turun temui mereka. Kami akan segera keluar. Mom sedang mencari baju yang pas untuk Dad mu. Perutnya sudah tidak bisa diatur agar baju yang dia pakai muat."


Alehandro memukul pantat Dara keras.


Dara menajamkan matanya.


"Mom, bukannya kau sudah beli baju khusus buat Dad?"


Dara menepuk dahinya. Dia melupakan bagian ini. Dia langsung pergi ke lemari dan mengambil stelan jas berwarna merah muda untuk suaminya.


"Ya Tuhan apakah tidak ada warna lain? Aku akan mirip seperti gulali manis."


"Karena manis aku akan menjilatmu nanti. Cepat kau pakai ini dan keluar. Aku akan menemui mereka lebih dahulu sambil menunggu kau siap."


Dara lantas keluar dari kamar itu dan menutupnya. Sedangkan Alehandro memakai pakaian berwarna merah muda itu. Dia seperti menjadi Sam Smith, artis yang baru kemarin dia undang ke acara ulang tahun hotelnya yang ada di Bali.


Dia melihat Maulana yang masih pulas di atas ranjang besarnya. Menarik nafas panjang. Lantas mendekat ke arah Maulana dan menyentuhnya rambut anak itu.


"Jika kau memang anak dari anak nakal itu, aku akan merasa senang sekali," ucapnya.


Maulana tersenyum dalam tidurnya, seperti sedang merespon ucapan Alehandro.


"Anak yang manis. Ibunya pasti juga cantik. Tidak mungkin anakku akan menyukai wanita jelek." Dia yakin akan hal itu karena dulu dia juga pecinta wanita cantik. Hanya petualangan cintanya selesai ketika bertemu dengan ibu Kaisar.


Alehandro keluar dari kamarnya. Namun dia menghentikan langkahnya dan kembali lagi ke pintu kamar. Dia memencet tombol untuk mengunci kamar itu.


"Aman."


Alehandro tidak ingin anak kecil itu keluar dari kamarnya dan membuat kehebohan. Selain itu, untuk berjaga-jaga hilangnya anak itu dari rumah ini.


"Kacang lupa pada kulitnya," gumam Alehandro pelan. Dia lalu tersenyum pada semua orang yang ada di sana.


"Maaf membuat kalian menunggu lama," ujar Alehandro ramah.


"Tidak apa-apa, Tuan Cortez. Sedari tadi kami berbincang-bincang ringan yang menyenangkan," kata Kane Yang mengulurkan tangan pada Alehandro.


"Kane Yang, aku tidak menyangka kita akan bertemu dalam suasana seperti ini. Nama besarmu membuat aku kagum. Kau adalah contoh bagi barisan anak muda yang ingin sukses di waktu muda," sapa Alehandro menyambut uluran tangan itu. Dia memeluk Kane Yang dan menepuk lengannya.


"Anda bisa saja, justru saya sangat senang bisa bertemu dengan keluarga ini, khususnya Anda dan Tuan Kris. Tidak menyangka jika nantinya kita akan menjadi sebuah keluarga."


Alehandro melihat ke deretan bingkisan yang ada di depannya. Terlihat bagus, mahal dan cantik. Tidak nampak jika itu diberikan oleh seorang mantan bodyguardnya. Sepertinya itu pemberian dari Kane Yang karena tidak mungkin Emilio akan punya uang sebanyak itu untuk memberi tas berharga ratusan juta itu. Salah satu barang bawaan lamaran.


Setelah acara ramah tamah itu mereka melanjutkan ke acara inti. Di sana Emilio terlihat tertekan. Tidak nampak seperti pria yang bahagia akan menikahi wanita kaya dan cantik seperti Rose.


"Aku tidak akan meminta sepeserpun untuk pernikahan ini," ujar Rose di sela-sela pembicaraan tentang mahar yang akan diberikan.


Emilio menatap tajam ke arah Rose. "Walau kau tidak meminta aku akan memberikan mahar sesuai dengan kemampuanku."


"Ya, baiklah sesuai kemampuanmu," ujar Rose dengan nada menghina.


Dara mencubit keras putrinya itu.


"Aww, sakit Mom," ujar Rose keras mengusap pahanya yang terasa panas.


Mendengar itu malah membuat Dara makin marah. Dia melebarkan mata pada Rose.


Dee tertawa kecil di tengah ketegangan itu. "Kau jangan takut, Kakak sudah menyiapkan semuanya. Semua ini juga Kakak yang beli dengan uangnya sendiri, jika kau ingin tahu. Walau simpanan Kakak tidak banyak tapi cukup untuk memberimu mahar yang pantas."


Semua mata menatap ke arah Emilio dengan tatapan tidak percaya. "Dia dulu adalah orang kepercayaan presiden untuk menyelesaikan misi negara yang penting. Walau tidak banyak tapi tabungannya cukup untuk menikahi seseorang."


Semua menganggukkan kepala serempak. Tidak menyangka jika bodyguard Kaisar ternyata tidak seremeh anggapan mereka.


"Sebelum melangsungkan pernikahan ini, aku ingin mengajukan satu syarat."


"Syarat? Seharusnya aku yang mengajukannya," sindir Rose.


Kaisar yang ada di sana sambil memangku Alisa menatap tidak senang pada Rose. Dia tidak menyangka Rose akan seangkuh itu dan sesombong itu pada orang lain yang dia anggap rendah. Dalam hatinya bersyukur karena memiliki Farida yang lembut dan penyabar.


"Rose kau harus mendengarkan calon suami berbicara."


"Kau diamlah, Kai. Kau senang kan karena telah menjebak kami?"


"Terus terang aku sedih, pengawal kepercayaanku akan mendapatkan istri yang arrogan seperti mu. Aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana harinya ke depan menghadapi tingkahmu yang manja dan konyol!" ujar Kaisar sengaja untuk menyakiti Rose. Dia ingin Rose melupakannya dan mencoba mencintai suaminya nanti.


"Sudah, sudah, kalian malah bertengkar di acara yang baik ini. Sebaiknya kita dengar apa yang akan disampaikan oleh Emilio."


Rose menekuk wajah sambil melipat tangan di dada. Sedangkan Emilio mengusap keringat di dadanya.


Wajahnya nampak tegang.


"Aku tidak tahu pernikahan ini akan benar atau tidak. Yang kutahu, aku harus menyelesaikan tanggungjawab ku pada keluarga ini terutama Rose." Dia menatap semua orang lantas, tertuju ke arah Rose.


"Aku cukup tahu diri. Aku bukanlah siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Mungkin aku tidak akan bisa membuatkan pesta pernikahan yang mewah untuk Rose, tapi aku berjanji akan memberikan mahar yang pantas untuknya. Namun, sebelum itu aku ingin mengajukan satu syarat penting sebelum menikah. Jika Rose tidak menyetujuinya maka maaf, aku tidak akan maju untuk menikahinya walau mati jadi taruhannya."


Kris membuang wajahnya ke samping tersenyum mengejek. Baginya calon menantunya itu terlalu sombong. Baru memberikan barang itu saja sudah banyak menuntut, walau dia tidak tahu apa yang akan Emilio katakan.


Sedangkan Dara menatap kagum pada calon menantunya itu. Baginya Emilio adalah pria sejati yang pantas mendampingi putrinya.


"Katakan syarat apa yang kau inginkan?"