One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 58 Cemburu



Kaisar duduk di antara Alisa dan Lana. Alisa melirik Lana sedari tadi dengan sorot mata tidak suka. Ya, dia tidak suka berbagi kebahagiaan dengan orang luar. Ini adalah keluarganya mengapa mereka sangat menyukai Lana. Apakah Lana akan mengambil perhatian mereka seperti Lana mengambil perhatian temannya di sekolah.


Tidak bisa dipungkiri, selain punya wajah menarik, Lana juga pribadi menyenangkan, murah senyum dan perhatian pada sahabat-sahabatnya. Sedangkan Alisa tipe anak introvet. Dia sangat sulit bergaul dengan orang. Lebih suka menyendiri.


Kaisar menarik nafas terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu. Hal yang tidak dia rancang sebelumnya datang sebagai kejutan. Itu seperti menemukan sebuah keajaiban. Bertemu dengan seorang anak yang dia impikan selama ini.


Sedangkan di sisi lain, Alehandro dan yang lainnya menanti Kaisar bicara dengan cemas. Takut jika ada perang kedua antara anak dan ayahnya.


Kaisar berdehem sambil melihat ke arah Cantika.


"Cantik, kau tahu kan, ayah paling sayang padamu...."


Cantika mengangguk dengan anggun menatap ayahnya dengan dua matanya yang polos dan murni.


"Kasih sayang Ayah tidak akan luntur walaupun apa yang terjadi."


Cantika lalu memeluk Kaisar. "Aku juga sayang Ayah."


"Begitu juga jika kau punya saudara, kau tetap akan menjadi putri yang paling ayah sayang."


"Memang aku akan punya adik?" tanya Alisa. "Ibu hamil?" Pelukannya merenggang. Menatap bingung pada ayahnya.


Kaisar menggelengkan kepala.


"Lalu?" ujarnya dengan membuka kedua tangan ke samping.


Kaisar menatap ke arah orang tuanya mencari dukungan. Yang ada malah orang tuanya pura-pura melihat ke arah lain. Membuat Kaisar kesal.


"Kau lihat Tante Jasmine itu. Dia saudara satu Ayah dengan Ayah."


"Saudara satu Ayah dengan Ayah," Alisa mengulang ucapan Kaisar dengan bingung.


"Ayah adalah anak kakek dengan Nenek yang dahulu namanya Maria sedangkan Tante Jasmine anak Kakek dengan Nenek Dara.


"Bukannya ibu ayah itu Nenek, memang ada Nenek lain lagi?"


Kaisar bingung untuk menjelaskan pada anak umur 5 tahun dengan bahasa yang bisa dimengerti dan tidak membuat bingung.


Lana mulai tidak sabar. "Maksudnya Ayah kita sama, tapi ibu kita beda."


Wajah semuanya terlihat tegang mendengar ucapan Lana. Walau benar tapi harus diterangkan hati-hati.


"Tidak ini ayahku, kau jangan ngaku-ngaku," ujar Alisa dengan nada penuh emosi dan memegang posesif ayahnya.


"Tadi kau bilang aku anak ayah kan?" tanya Kaisar memegang tangan Kaisar satu lagi sehingga timbul pertengkaran yang memperebutkan keduanya.


Kaisar menatap ketiga orang di depannya mengharapkan bantuan.


Alehandro bangkit.


"Sepertinya Kakek lelah, mau istirahat dulu. Ayo Nek, kita ke kamar. Sepertinya aku butuh dipijit. Alisa, Kakek tinggal ya...." Alehandro tersenyum pada Alisa.


"Dan kau.... Kita bicara lagi besok." Tunjuk Alehandro pada Lana.


"Kakek, kenapa menyapa anak menyebalkan itu," ujar Alisa bertambah kesal.


Daripada masalah semakin runyam, pria itu memilih kabur dengan cepat bersama anak bungsu dan istrinya.


Kini tinggal Kaisar yang harus menghadapi kedua anaknya.


"Alisa tadi ayah bilang apa? Ayah akan tetap mencintaimu apapun yang terjadi."


"Tapi aku tidak ingin punya saudara sepertinya. Dia itu buruk, pasti ajaran dari ibunya. Jika ibunya baik kenapa punya anak dari ayah? Aku akan mengatakan hal ini pada ibu kalau ayah punya anak lain. Anak haram."


Alisa lantas pergi berlari ke kamarnya.


"Alisa!" panggil Kaisar, ingin mengejar anaknya itu, hanya saja lengannya masih dipegang oleh Lana.


Lana terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Pegangannya di lengan Kaisar dilepaskan. Sedih.


Kaisar lalu memeluk Lana. "Jangan dengarkan ucapan Alisa. Dia hanya sedang marah saja. Dia pasti akan kembali baik padamu."


"Apa itu anak haram, Ayah?" tanya Maulana menatap Ayahnya. Ya dia memang sering mendengar istilah itu. Istilah buruk yang sering disematkan pada anak yang keberadaan ayah atau ibunya tidak diketahui.


"Kau itu anak Ayah jangan dengarkan orang bicara buruk padamu."


"Ayah akan mengantar mu ke kamar tadi, setelah itu ayah akan melihat keadaan Alisa. Kau tidak akan marah kan ayah tinggal sendiri?"


"Sekarang Lana tahu kenapa Tante tidak mau menceritakan kalau dia adalah ibunya Lana. Dia tidak ingin ada orang memanggilku dengan sebutan anak haram seperti yang Alisa lakukan tadi," ujar parau.


Hatinya yang masih kecil terguncang ketika mendengar ibu Uyun mengatakan dia bukan ibu kandungnya. Ibunya adalah yang selama ini dia sebut Tante.


Namun, setelah tanpa sengaja bertemu ayah kandungnya juga tidak membuat dia senang. Dia malah tambah bingung. Semuanya di rasa tidak nyaman untuknya.


"Ayah lihat Alisa saja, Lana mau bersama dengan Kakek."


"Kau ingin bersama Kakek?" tanya Kaisar merasa tenang. Ternyata tingkah anaknya lebih dewasa dari umurnya. Dia nampak tenang dalam menghadapi masalah.


"Baiklah, jagoan Ayah. Kita akan temui Kakek Ale."


"Namanya Kakek Ale, seperti minuman gelas." Lana tertawa. Hal itu membuat Kaisar tenang. Mereka lantas ke kamar Alehandro dan dia menitipkan anak itu pada Kakeknya.


Sekarang dia bisa menenangkan Alisa yang sedang mengambek. Cerita tentang Airlangga alias Farida saja belum bisa dia cerna dengan baik. Kini dia harus menghadapi Cantika dan keluarganya tentang masalah ini.


Kepalanya semakin terasa pening. Sayangnya, Emilio yang biasa tahu apa yang dia butuhkan sudah tidak ada. Dia akan merasa kehilangan sosok seperti pria itu yang siap siaga menemaninya setiap saat.


Sedangkan di kamar Alehandro.


"Sayang, kita lupa tidak membelikan baju untuk Lana, itu pasti sudah tidak nyaman dia kenakan karena kotor," ujar Dara.


"Kita bisa lupa tentang hal ini karena semua permasalahan yang ada."


"Tidak usah Kakek."


"Oh, tidak apa-apa, Kakek hanya perlu menghubungi seseorang dan semua beres."


"Tidak perlu, karena aku kemari ingin minta sesuatu pada Kakek."


"Oh, Sayang kau boleh minta apapun pada kakekmu ini. Aku akan memberikannya. Mainan, mobil bahkan pesawat jika kau minta aku akan memberikannya. Karena kau adalah pewaris kekayaan milik Kakek yang nantinya akan menjadi penerus setelah ayahmu."


"Aku tidak mau, aku hanya mau satu hal."


"Satu hal, katakan, pasti akan Kakek berikan."


"Janji." Lana mengulurkan jari kelingkingnya di sambut oleh Alehandro. Dara yang melihat merasa senang dan bahagia.


"Janji."


"Aku ingin pulang. Aku ingin bersama dengan ibu."


"Kenapa? Apakah ada yang kurang di sini?"


"Ya, ibu. Aku hanya ingin dia."


"Kalau begitu akan bawa dia kemari."


"Jangan, Kakek. Aku hanya ingin tinggal bersama ibu. Sepertinya rumah ini tidak cocok untukku. Terlalu besar," ujar Lana merendah. Dia tersenyum kecut.


"Aku suka di rumah kecilku. Di sana ada dua ibu yang akan berebut menemaniku. Mereka memelukku dengan sayang. Di sana aku jadi raja. Apa yang aku mau, pasti akan diberikan oleh orang rumah. Terutama Bapak Tua, dia juga sangat menyayangiku."


"Kamu juga sangat menyayangimu."


"Kalian masih punya Alisa di sini. Namun, ibuku hanya punya aku. Dia pasti sedang menangis mencariku. Dia sangat menyayangiku."


Maulana merenung sejenak. "Ternyata bertemu ayah tidak sesenang seperti yang aku impikan."