One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 10 Kepergianmu membawa luka bagiku



Seorang dokter memeriksa keadaan Airlangga yang terbaring lemah di rumah sakit. Dahinya berkerut, lalu menyentuh perut bawahnya.


Dia menghela nafas panjang.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Kaisar.


"Hanya perlu istirahat, dia juga sepertinya kurang asupan gizi. Namun ada hal penting yang harus saya katakan pada keluarganya."


"Keluarganya baru saya hubungi, mungkin sebentar lagi mereka akan datang."


Dokter itu hanya mengangguk sambil menarik nafas dalam. Menggelengkan kepala sambil memegang dahinya yang lebar.


Baru pernah dalam hidupnya menangani kasus langka seperti ini. Data pasien ini lelaki, tapi kenapa menunjukkan tanda kehamilan. Dia akan memastikannya setelah melihat tes darah.


Dokter itu melangkah keluar kamar, tapi berbalik ketika sampai di pintu.


"Kalau keluarganya datang, suruh mereka temui saya di ruang kerja," ucap Dokter itu pada perawat yang berjaga.


"Baik, Dokter," jawab perawat. Dokter itu lantas keluar ruangan.


Kaisar yang penasaran lantas berlari mendekati dokter itu ketika berada di lorong.


"Dokter, apakah Anda mengenal Putri Sarah, pengidap sakit jantung. Saya dengar dia di rawat di rumah sakit ini juga dan kabarnya baru saja meninggal dunia."


" Saya turut berduka cita. Hanya saja saya tidak menangani orang yang Anda maksud itu jadi saya tidak tahu berita ini. Saya sering melihat anak muda itu di sekitar rumah sakit ini berjalan di sekitar taman bersama dengan ibunya. Anda bisa menanyakan perihal berita ini pada petugas rumah sakit."


Kaisar semakin bingung dibuatnya. Dia tahunya ibunya Airlangga adalah Ira. "Ibunya Dokter?"


"Ya, Ibunya. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, Dokter," jawab Kaisar. Dia menarik nafas panjang. Banyak hal misterius yang disembunyikan oleh Airlangga yang membuat Kaisar penasaran. Nanti dia akan mencari tahu sendiri.


Setelahnya, Kaisar kembali masuk ke dalam kamar rawat. Airlangga masih berbaring tidak sadarkan diri.


Tadi di rumah sebelum acara siraman terjadi, Airlangga pingsan di kamarnya. Kaisar langsung membawanya keluar setelah mencoba untuk membuatnya sadar, tapi tidak kunjung berhasil.


Hingga acara siraman itu gagal pada akhirnya dan dia bisa mencari alasan yang tepat untuk tidak melakukan prosesi itu. Mungkin inilah rasanya menikah bukan karena cinta. Hanya keterpaksaan semata.


Kaisar menatap ke arah Airlangga. Merasa kasihan pada anak muda ini. Berpikir apakah anak ini sebenarnya punya penyakit bawaan yang membuatnya terlihat lemah.


Airlangga tidak seperti pria pada umumnya. Bahkan cara berjalannya pun aneh. Lebih cocok jadi wanita dari gayanya, sayangnya dia itu pria, pikir Kaisar. Dia juga cantik.


Kaisar bisa gila jika terus menatapnya. Dia mulai tertarik pada pria.


Seseorang mengetuk pintu, mengagetkan lamunan Kaisar dan masuk ke dalam ruangan.


"Tuan saya membawa baju ganti untuk Anda kenakan, Nona Rose yang tadi memerintahkan," kata Emilio.


Rose, masih saja penuh perhatian padanya walau telah dia lukai. Andai saja semuanya mudah untuk mereka lalui, maka dia akan memilih wanita itu menjadi istrinya. Rose itu paket lengkap, cantik, berkelas, berpendidikan serta penuh perhatian hanya saja sifat keras kepalanya membuat sifat minus tersendiri baginya. Semoga nanti ada pria baik yang bisa mengimbangi sifatnya yang keras itu.


Kaisar lantas pergi masuk ke kamar mandi, sebelum menutup pintu dia memberi perintah pada Emilio.


"Kau cepat cari informasi ibu Airlangga yang baru meninggal di rumah sakit ini."


"Nyonya Ira meninggal dunia, Tuan Muda?'' tanya Emilio terkejut. Dia tadi melihat wanita itu sehat bugar kenapa sekarang sudah tiada.


"Bukan dia, entah siapa namanya. Aku tadi menelfon balik orang yang tadi menelfon Airlangga yang membuat anak ini pingsan. Katanya, ibunya Airlangga meninggal dunia di rumah sakit ini. Namanya Sarah kalau tidak salah."


"Siap, Tuan. Akan saya laksanakan perintah, Tuan, sekarang." Emilio lantas berbalik.


Kaisar kembali memanggilnya. "Eh, tunggu, aku juga minta kau cari tahu tentang kehidupan asli Airlangga serta, hmm penyakit apa yang dia idap hingga pingsan lama seperti ini dan butuh perawatan pula. Sepertinya keluarganya tidak perduli dengannya. Mungkin karena dia anak angkat jadi tidak diperhatikan atau dia anak gelap Tuan Fadil? Entahlah. Hanya saja Dokter yang memeriksanya seperti menyembunyikan sesuatu."


"Baik, Tuan akan saya selidiki juga masalah itu." Emilio lantas keluar dari kamar.


Kaisar menatap ke arah Airlangga dan mulai menutup pintu kamar mandi.


Mulai terjadi pergerakan di kelopak mata Airlangga. Tidak lama kemudian, bola mata kecoklatan yang indah itu mulai terlihat. Nampak bingung dengan suasana asing di sekitarnya. Dia melihat selang infus di sebelahnya.


"Dimana aku?" katanya.


Mulai mencoba mengingat apa yang terjadi terakhir kalinya. Dia berada di kamar Kaisar, diintrogasi dan... . Netranya membelalak seketika. Dengan gerakan cepat Airlangga langsung menarik selang infus sehingga darah yang keluar memercik seprai putih rumah sakit. Dia tidak perdulikan rasa sakit itu.


Dengan gerakan cepat, dia turun. Sejenak dia terdiam memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Lalu berjalan ke arah pintu keluar. Dia bergegas pergi. Sesampainya di luar ruangan, dia melewati lorong rumah sakit. Mulai faham jika dia berada di rumah sakit yang sama dengan tempat dimana ibunya dirawat.


Dadanya terasa sesak dan bulir air mata membasahi pipinya yang putih dan lembut. Dia berlari cepat pergi ke ruangan terakhir kali tempat ibunya berada.


Hanya ibunya, satu-satunya keluarga yang mencintai dan menyayanginya. Kini orang itu telah tiada. Hancur sudah harapannya kini. Selama ini, dia hanya berharap ibunya bisa sembuh dan dia akan melakukan apapun untuk itu.


Pandangannya kabur karena airmata yang menutupi kelopak matanya. Selain itu dua berlari dengan cepat, sehingga beberapa kali dia menabrak orang yang berjalan di depannya.


Dia tidak peduli, terus berjalan mengabaikan orang yang menggerutu dan marah karena ditabrak dan diabaikan olehnya. Ingin segera sampai ke kamar ibunya dan berharap ada keajaiban di sana.


Sesampainya di ruangan ibunya, dia langsung membuka pintu dengan keras. Tertegun karena melihat tempat tidur milik ibunya kosong dan seprai yang menutupi sedang ditarik oleh petugas rumah sakit.


"I-ibu-ku... dimana ibuku?" tanya Airlangga panik dan kebingungan.


Seorang perawat senior yang ada di sana dan mengenal Airlangga mendekat. "Maafkan kami, Nona. Kami tidak bisa menjaga ibu Anda dengan baik sehingga lolos dari pengawasan. Dia pergi dari kamar dan kami mendapati nya terjatuh dari lantai dua rumah sakit ketika hendak turun. Lalu setelah kami periksa, dia sudah pergi untuk selamanya."


"Tidak... tidak...." teriak Airlangga histeris.


Semua hanya bisa terdiam menatapnya miris. Mereka semua sangat tahu bagaimana Airlangga merawat ibunya dengan sabar dan penuh kasih sayang selama ini.