
Emilio langsung mengangkat tubuh Rose yang kecil.
"Kau!" teriak Rose kesal. Namun, seperti biasanya wajah Emilio dingin tanpa ekspresi. Pria itu melepaskan jaket yang menutupi tubuhnya untuk diberikan pada Rose.
"Tidak usah, aku sudah membawanya, tadi aku titipkan pada penjaga pintu." Rose lalu berjalan lebih dahulu, tapi jaket Emilio keburu sudah tersampir di tubuhnya.
Rose menoleh. Emilio hanya diam saja di belakang Rose. Rose akhirnya berjalan lebih dahulu keluar dari klub malam itu. Percuma saja berbicara dengan robot itu. Tidak akan dibalas. Dia tiba-tiba merasa sangat kasihan dengan nasibnya sendiri sekarang.
Hidup miskin dan dilarang melakukan apapun. Bahkan pergi bekerja. Dia sangat bosan.
Beberapa pria yang pernah mendekati Rose melihat ke arahnya dan Emilio. Dia lalu menundukkan malu.
Tubuhnya tiba-tiba ditarik Emilio dan masuk ke dalam pelukannya. Terasa hangat dan nyaman sebenarnya hanya saja pria itu sangat dingin. Bahkan sudah hampir seminggu pernikahannya tidak terjadi apapun selain ciuman itu. Pria itu lebih tertarik tinggal di kamarnya atau keluar tiba-tiba tanpa Rose ketahui.
"Ada muntahan di depanmu, aku takut kau terpeleset," jelas Emilio. Dia melepaskan tubuh Rose.
Hah, ini terasa mengesalkan. Dia kira pria itu sedang ingin dekatnya nyatanya itu karena satu hal.
Rose menghentakkan kaki kesal. Dia lalu pergi keluar dari klub malam itu meninggalkan Emilio yang berjalan di belakangnya.
Rose mengambil jaket bulu berwarna hitamnya. Lalu melempar jaket milik Emilio ke pada pemiliknya.
"Aku heran mengapa kau selalu bisa menemukan keberadaan ku. Apakah kau memasang chip yang tersembunyi di tubuhku?" omel Rose.
Lagi-lagi pria itu hanya diam sampai ke depan mobilnya. Dia lalu membuka pintu untuk Rose. Setelahnya, dia masuk ke dalam ruang kemudi. Mobil melaju menuju ke rumah mereka.
"Aku seperti berbicara dengan patung jika bersamamu," imbuh wanita itu lagi.
"Kau dengar tidak!" seru Rose kesal. Dia lalu menangis. Emilio hanya diam saja, tidak melakukan apapun hingga akhirnya Rose terdiam sendiri menatap kosong ke depan.
"Kita akhiri saja pernikahan ini," ujar Rose lagi.
Emilio menghentikan kendaraannya tiba-tiba. Memejamkan mata sejenak lalu terus melajukan kendaraannya dengan cepat di atas rata-rata membuat Rose ketakutan hingga tidak bisa berpikir untuk meneruskan perkataannya.
"Kau gila!" bentak Rose ketika mobil sampai di rumah dengan selamat.
Dia membuka pintu dan muntah-muntah. Emilio keluar dan membantu Rose, tapi tangan Rose menyingkirkan tangan Emilio.
"Tinggalkan aku sendiri!" teriaknya marah sambil menangis. Bukannya pergi Emilio malah mengangkat tubuh Rose masuk ke dalam rumah dengan mudah walau wanita itu sempat melawan.
Setelah itu, dengan lembut Emilio meletakkan Rose ke atas tempat tidur dan melepaskan sepatunya. Mengambil tisu dan menyerahkan pada Rose. Lalu duduk di sebelahnya.
"Aku tidak suka bertengkar di depan umum, apalagi sewaktu mengendarai mobil. Oleh karena itu aku diam, bukan karena aku mengabaikanmu."
Rose mengangkat wajahnya terkejut. Dengan pelan Emilio mengusap wajah Rose.
"Katakan bagian mana yang membuatmu kesal?"
"Kau selalu melarangku melakukan sesuatu tetapi kau sendiri melakukan sesuatu tanpa ijin dariku. Boro-boro ijin. Bicara saja tidak."
"Kau tahu aku biasa diam.Tidak banyak bicara." Mungkin hanya pada ponakannya dan Dee saja yang membuat Emilio bisa bebas berbicara apa pun.
"Tapi kita sudah menikah."
"Oh ya," kata Emilio mengambil tangan kiri Rose dan mengangkatnya.
"Itu tadi aku mandi dan aku melepaskannya agar tidak terkena sabun dan rusak."
"Sekarang dimana?" tanya Emilio.
Rose melihat ke arah tasnya. Emilio lalu membuka tas itu dan mencari cincin pernikahan mereka. Setelah menemukannya dia langsung menyematkan cincin itu di jari manis Rose.
"Kalau tidak apa?"
Emilio menelan ucapannya sendiri lalu ajaib. Dia tersenyum dan mengusap helaian rambut Rose.
"Jangan pernah berpikir untuk melepaskannya kecuali jika aku mati. Ketika cincin ini sudah ada di jarimu maka itu artinya aku sudah mencurahkan hidup matiku padamu. Aku tidak pernah bermain-main dengan apapun apalagi dengan janjiku."
Entah mengapa Rose merasa bersalah karena meminta cerai dari Emilio tadi. Dia merasakan ketulusan dari ucapan pria itu. Ketulusan yang tidak pernah dia dapatkan dari pria manapun.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Rose tiba-tiba menatap dalam mata Emilio.
"Apalah cinta jika itu hanya sebatas kata saja. Bukankah wanita lebih suka pada bukti?" Tangan Emilio mengusap pipi Rose yang putih.
"Ungkapan itu perlu," ujar Rose.
"Lalu apakah kau mencintaiku? Jawabannya tidak bukan? Aku tidak akan memaksanya. Biarlah semua berjalan apa adanya. Toh kita bukan lagi anak muda yang butuh pengakuan."
Emilio lalu menarik selimut. "Tidurlah, ini sudah malam. Kau butuh banyak istirahat agar kondisi tubuhmu sehat lagi seperti dulu."
"Aku belum membersihkan tubuhku," ujar Rose.
"Ya, sudah. Aku akan ke atas, kau bisa memanggilku jika butuh apapun."
"Emilio, maukah kau menemaniku tidur di sini. Aku selalu merasa sendiri. Apalagi sekarang aku tidak pernah pergi kemanapun lagi. Tidak punya teman dan aku tidak mungkin bercerita pada ibuku kan tentang kita."
Emilio menghela nafasnya. "Baiklah. Aku akan tidur di sofa." Dia cukup tahu diri. Bagaimana pun Rose tadinya adalah anak majikannya.
"Tidak, tidurlah di tempat tidur ini bersamaku. Ini lebar, kita bisa tidur bersisian dan bercerita banyak."
Emilio tampak berpikir.
"Tapi jika kau keberatan aku tidak akan memaksamu," lanjut Rose.
"Baiklah, tapi ini yang kau mau, bukan aku."
"Apakah kau tidak ingin memperbaiki hubungan kita? Tidak enak hanya diam saja tanpa interaksi apapun itu. Apakah kita akan selamanya seperti itu? Jika seperti itu untuk apa kita menikah?"
"Aku tidak tahu alasanmu mau menikah denganku. Namun, aku tahu jika aku menikah denganmu karena Tuhan yang menginginkannya. Kau adalah wanita yang Tuhan berikan untukku tanpa aku harus mencarinya. Namun, aku tidak terlalu beruntung karena tahu kau tidak bisa mencintaiku."
Rose tidak mengira Emilio yang pendiam ternyata sangat romantis. Kata yang keluar dari mulutnya membuatnya tersentuh dan terharu. Dia merasa menjadi bidadari saat ini. Mungkin ini yang dinamakan jodoh yang tepat. Kita tidak perlu orang yang sempurna untuk kita miliki, tapi membutuhkan orang yang tepat yang bisa menghargai dan mencintai kita. Namun, apakah Emilio mencintainya?
"Jangan menanyakan hal itu lagi!" Rose lalu bangkit hendak ke kamar mandi untuk mengganti bajunya namun kakinya terselip selimut membuatnya hampir jatuh.
Untung saja Emilio selalu sigap menolongnya, apapun keadaannya. Tangannya langsung memeluk leher besar dan keras pria itu.
"Jangan memancingku," kata Emilio.
"Kau takut?"
"Kau menantang mantan perwira?" Emilio lalu membaringkan Rose di atas tempat tidur dan menatapnya.
"Apakah kau sudah selesai?"
"Selesai apa?" tanya Rose tidak faham.
"Tanggal merah," lanjut Emilio.
Oh, jadi inilah yang membuat pria itu menghindarinya selama beberapa hari ini karena Rose mengatakan dirinya sedang Haid kemarin. Rose lalu tersenyum malu.