One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 70 Bandel



Sedangkan di tempat lain.


"Jadi, Farida itu mempunyai anak yang mirip dengan Kaisar?'' ujar Ira ketika mendapatkan berita dari anak buahnya yang mengikuti kegiatan Kaisar setiap hari. Dia meyakini pasti pria itu tahu keberadaan wanita itu.


"Benar, Madam," jawab Wowo, anak buah dari Samson.


Samson sendiri adalah ketua mafia yang selama ini menjadi teman dan relasi dari Ira.


"Lebih tepatnya itu adalah anak dari Kaisar sendiri, Bu. Kau ingatkan kejadian enam tahun lalu," timpal Cantika enggan untuk melihat foto itu.


"Apa yang harus kita lakukan.Posisi kita terjepit saat ini. Mungkin saja anak jelong itu sudah memberitahu mantan suamimu kalah Alisha bukan anaknya."


Cantika memegang kepalanya yang terasa pening. "Entahlah Bu. Aku lelah dengan semua ini dan ingin cepat mengakhirinya."


"Tidak bisa begitu, Alisa itu aset. Dia harus tetap menjadi penerus keluarga Cortez dan mewarisi apa yang menjadi milik Kaisar."


"Bu, kalau pria itu tahu?"


Ira lalu bangkit. Berjalan mengitari meja sambil berpikir. "Aku kira jika dia tahu sesuatu, dia pasti akan mengkonfirmasi hal ini padamu. Menyelidikinya. Nyatanya, dia tidak mengatakan apapun."


"Tapi ini seperti bom waktu untuk kita," ungkap Cantika sepertinya dia butuh obat penenang agar bisa tidur malam ini. Dia sangat depresi.


"Makanya kita harus lenyapkan Airlangga dan anaknya secepat mungkin, kalau perlu malam ini juga."


"Bu, aku tidak setuju jika harus membunuh orang," kata Cantika bangkit dan meninggalkan Ira.


"Cantik, Sayang kau mau kemana? Kita belum menyelesaikan masalah ini."


"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin hidup tenang, aku lelah, Bu," teriak Cantika.


"Bagaimana sekarang Madam?" tanya Wowo.


"Kau cepat temui bosmu dan katakan aku ingin melihat mayat Farida dan anaknya secepat mungkin. Satu lagi, kau harus tetap mengawasi Kaisar. Jangan sampai dia terlihat menemui dokter untuk mencari tahu kebenaran dari cucuku."


"Baik, Madam," ucap Wowo meninggalkan tempat itu.


Ira lalu meminum minuman keras dari gelasnya dengan sekali teguk. "Kau pikir bisa menang dariku, anak jelong. Tidak akan pernah karena kau dan ibumu sama-sama pecundang yang menyedihkan. Di sini yang kuat dan pintar yang akan menang."


Sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya. Ternyata dari suaminya.


"Ada apa, Sayang. Ya, aku akan segera pulang ke rumah. Aku disini sedang menenangkan anak dan cucuku. Mereka masih terpukul karena tahu Kaisar mengabaikan mereka. Ini semua karena anak itu. Dia sangat jahat ingin merebut semua yang menjadi milik Cantika." Ira berakting menangis.


''Aku juga tidak mengira jika Airlangga kembali dan membuat kekacauan di hidup Cantika. Sekarang bagaimana kabar anak dan cucuku."


"Iya, mereka sekarang sudah pergi tidur setelah kupaksa. Alisa sendiri tidak berhenti menangis. Aku sangat tidak tega melihatnya."


"Ya sudah, kalau kau masih ingin bersama mereka aku tidak akan melarang. Cantika sangat butuh kau saat ini. Mungkin besok aku akan kesana kalau kau tidak kembali."


"Terimakasih atas pengertiannya Sayang. Kau memang suami terbaik di dunia ini. I Love You."


Setelah mematikan handphonenya Ira melemparnya ke atas meja. Dia sebenarnya sudah muak dengan suaminya. Hanya saja harta milik suaminya belum dialihkan pada Cantika atau dirinya. Jadi dia harus lebih banyak bersabar.


Ira lalu mengambil tasnya dan tersenyum.


"Mumpung mereka tahunya aku di sini," ujarnya pergi meninggalkan rumah Cantika menuju ke satu tempat yang sudah menjadi rumah kedua miliknya.


Rose nampak ketakutan ketika petir mulai menyambar rumah itu. Membuat semua kaca di kamarnya bergetar. Sudah hampir pukul sembilan malam, tapi Emilio belum juga pulang.


Rasa cemas melandanya. Bukan karena takut Emilio kenapa-kenapa tapi cemas karena dia sendiri di rumah itu. Dia merutuki dirinya sendiri yang menurut saja dengan apa yang Emilio ucapkan. Seharusnya dia bisa pergi bersama dengan temannya.


Dia lalu langsung mengganti pakaian miliknya dengan pakaian seksi, menutup dengan jaket Bulu yang tingginya diatas lutut. Setelah di rasa siap dan taxi online sudah menunggunya di luar rumah. Rose melangkahkan kaki keluar rumah dan masuk ke dalam taxi itu. Mengabaikan hujan yang mulai turun deras.


"Kau bebas pergi kemanapun tanpa mengatakan apapun, aku juga bisa," gumam Rose ketika Taxi membawanya ke salah satu klub malam paling elit milik keluarganya.


Dia juga melepaskan cincin yang ada di jari manisnya dan memasukkan ke tas yang dia pegang.


Setelah sampai di klub malam itu, dia langsung melepaskan jaket miliknya dan memberikan pada penjaga tempat itu. Dia lalu melangkah masuk ke dalam.


Beberapa kawan yang biasa nongkrong dengannya mulai memanggil.


"Rose, kami di sini," teriak mereka.


Rose lalu mendekat ke arah mereka. Menyalami mereka satu persatu.


"Lama sekali kau tidak terlihat, aku kira kau sudah berhijrah menjadi wanita muslimah yang baik," sindir sahabatnya.


"Ish, apa sih? Aku sedang banyak pekerjaan yang mengharuskan aku selalu pergi."


"Aku pesankan minum dulu untukmu," kata Mika, sahabat karib Rose. Rose lalu duduk di kursi sofa berbentuk setengah lingkaran bersama dengan enam orang lainnya. Empat pria dan dua wanita.


"Biasanya kalau libur kau selalu posting tapi kali ini kau benar-benar seperti tertelan bumi tidak ada kabar," timpal sahabat Rose yang lain.


"Jangan-jangan dia sudah menikah," imbuh pria yang ada di sana bernama Bryan.


"Mana mungkin dia menikah, punya pacar tidak," kata Leo. "Ish ... bodyguardnya itu galak sekali. Mukaku sampai Jontor karena mengajakmu kencan waktu di Bali."


Justin yang baru naik setelah turun untuk berdansa sangat senang dengan kedatangan Rose. Dia duduk di sebelah Rose dan meletakkan tangannya di bahu telanjang wanita itu.


"Rose, lama sekali tidak melihatmu. Kau tidak bersama dengan malaikat yang mengawasi kan?"


"Hentikan jokes kalian. Kalau tidak, aku akan pergi saja."


Rose menutup mulutnya rapat. Dia kira dia akan senang berkumpul dengan sahabatnya. Nyatanya mereka hanya mengoloknya. Rose hendak meneguk minuman yang dipesankan oleh sahabatnya, Mika.


Sebuah tangan memegang gelas Rose. Rose menoleh dan mendapati Emilio ada di belakangnya.


"Pulang!" ujar Emilio tenang.


"Kau turunkan tanganmu dari tubuhnya atau tanganmu mau kupatahkan!"


Justin yang pernah merasakan bogem mentah Emilio lalu tersenyum kecut dan dengan cepat menarik tangannya dengan wajah pucat pasi.


"Tenang Bro, kami hanya sedang berbicara tidak melakukan apapun," ujar Leo menengahi pembicaraan yang mulai terasa panas.


Rose menghela nafas. Sikap protektif Emilio ini yang buat dia tersingkir dari pergaulannya. Namun, kenapa pria ini cepat sekali menemukan keberadaannya?


"Pulang saja, Rose. Kami tidak ingin babak belur olehnya," bisik Justin dekat dengan Rose yang masih bisa di dengar oleh Emilio.