One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 98 Tidak Sabar



Hingga siang hari, Farida masih diam. Tidak memberikan jawaban apapun pada Kaisar. Padahal tujuh jam lagi acara lamaran itu akan digelar.


Kaisar melihat jam di tangannya untuk kesekian kali. Dia mengangkat kepalanya ketika mendengar nama mantan dan calon mertuanya dipanggil oleh perawat.


"Ayo, Ayah," kata Farida mendorong kursi roda Fadil masuk ke dalam ruangan. Kaisar tetap duduk di ruang tunggu bersama dengan Maulana.


Setengah jam kemudian, mereka semua berada di sebuah ruangan. Tempat dimana Fadil mulai menstimulasi kembali tubuhnya yang sudah mati rasa.


Dokter dan perawat melakukan tugasnya, memberikan terapi pada Fadil. Farida berada di sebelah Fadil, terus menyemangati ayahnya. Maulana sedang asik dengan gadgetnya. Lupa dengan sekitarnya.


Sedangkan, Kaisar melihat semua itu dalam diam. Teringat kejadian enam tahun lalu yang menimpanya. Dia juga sempat mendapatkan perawatan ini sampai dia sembuh dan bisa sehat kembali seperti sedia kala.


Farida yang sedari tadi berdiri di dekat Fadil menoleh ke arah Kaisar yang sedang melamun.


"Ayah, aku akan ke sana dulu," ucap Farida menunjuk ke arah anak dan suaminya yang duduk bersisian.


Fadil mengangguk.


Farida berjalan ke arah Kaisar dan duduk di sebelahnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Farida.


Kaisar menoleh. Tersenyum tipis menatap Farida. Tangannya menyentuh pipi Farida, mengusap lembut.


"Aku membayangkan jika saat aku sedang melakukan itu dulu, kau ada di sampingku, pasti semua akan terasa berbeda."


"Tapi kini pun aku bersyukur kau kembali padaku dengan selamat dan sehat. Serta membawa seorang putra yang hebat."


"Terimakasih tetap bertahan hidup hingga saat ini. Aku tahu, kehidupanmu setelah kematian ibumu tidak lebih baik dariku. Kau melewati setiap kesulitan itu sendirian sehingga membuatmu menjadi wanita yang kuat seperti ini."


"Darimana kau tahu semua itu?" tanya Farida.


"Uda Hanafi yang menceritakannya. Dia juga mengatakan jika kau menjalani operasi pengambilan peluru tanpa menggunakan obat bius agar putra kita selamat."


Netra Farida berkaca-kaca, dia membuang mukanya ke samping dan menyeka sedikit air mata yang sempat keluar. Tidak ingin Kaisar melihatnya.


Kaisar meraih dagu Farida dengan kedua jarinya untuk bisa menatap wajahnya. Tangan yang lain menghapus titik air yang masih tertinggal di sudut mata Farida.


"Walau aku tidak bisa menghilangkan semua lukamu, tapi ijinkan aku untuk membahagiakanmu ke depannya. Ijinkan pula aku untuk menjagamu walau aku tahu, kau adalah wanita yang kuat dan mandiri dan ijinkan aku menghujani mu dengan cinta yang kupunya walau kau mungkin tidak membutuhkannya. Aku akan menjadi apapun yang kau inginkan," bujuk Kaisar.


Farida menundukkan kepalanya, tangannya menarik ujung baju dengan gelisah. "Aku tak mau untuk menikah karena takut diduakan. Aku takut kecewa setelah mencintai seseorang. Aku takut kau tidak bisa memenuhi janjimu ini dan pergi bersama wanita lain seperti yang kau lakukan pada Cantika. Semua pria sama saja," ungkap Farida.


Kaisar terkejut mendengar jawaban ini. Tidak mengira kalau penolakan Farida dilandasi oleh trauma yang dia alami. Dia selalu menilai buruk tentang pernikahan. Bahkan Farida tahu jika Kaisar meninggalkan dirinya untuk Cantika. Dia tidak tahu jika pikiran Farida akan seburuk ini mengenai dirinya.


"Berliana Farida Purba, aku bukan pria seperti itu. Kau tahu jika pernikahanku dengan Cantika tidak berjalan baik sebelum kau datang. Aku pun tidak membela diriku benar karena mengkhianatinya, tapi sesuatu yang diawali dengan sebuah kebohongan akan berakhir buruk. Semua adalah korban di sini."


"Dulu, aku jatuh cinta padamu, setelah aku hilang ingatan jiwaku pun masih terikat denganmu, dan setelah aku bertemu denganmu, aku yakin jika kau memang tercipta hanya untuk diriku dan aku pun hanya untukmu," tegas Kaisar.


"Aku tidak akan membela diriku sendiri tapi aku punya alasan khusus. Alasan patah hatinya seorang ayah mengetahui anak yang dia sayangi selama ini ternyata anak orang lain. Aku tidak akan memaksamu untuk memahaminya, tapi aku meminta pengertianmu untuk bisa memaafkan kesalahanku itu. Aku hanya manusia biasa yang masih melakukan salah dan aku butuh kau untuk berada di dekatku, memberikan aku jalan yang benar, yang harus kulalui. Aku tersesat tanpamu."


Farida tersentuh dengan kata-kata manis Kaisar.


"Ibu itu lambat sekali berpikir, tinggal katakan 'ya' saja sulit. Ibu aku tidak mau punya ayah lain dan aku juga tidak ingin punya adik tiri lagi yang menyebalkan seperti Alisa."


Farida dan Kaisar menatap ke arah Maulana yang sedang duduk bersama dengan Fadil. Di dekat mereka ternyata ada dokter dan perawat yang juga sedang melihat ke arah mereka sambil tersenyum geli.


"Terima saja, Bu, kasihan budak awak," celetuk seorang dokter wanita dengan logat Melayunya yang kental.


Kaisar mengeluarkan sebuah kotak dari balik bajunya. Kotak kecil itu dibuka, sebuah cincin berlian yang memancar sinar indah terlihat berada di sana.


"Seharusnya ini kulakukan malam nanti, tapi aku ingin segera memasangkannya ke jari indahmu sekarang."


Kaisar turun dari tempat duduknya dengan satu kaki di tekuk ke belakang. Tangan kanannya mengangkat kotak kecil itu ke hadapan Farida.


"Berliana Farida binti Fadil, aku bertanya sekali lagi padamu sebelum aku pulang, mau kah kau menikah denganku besok?"


"Terima ... terima ...," seru semua orang.


Farida melihat semua orang. Fadil menganggukkan kepalanya. Maulana nampak tidak sabar mendengar jawaban ibunya. Andai dia katakan tidak, mungkin kebahagiaan di wajah anaknya akan hilang dalam sekejap. Dia tidak ingin itu terjadi.


"Kau tidak akan meninggalkan aku lagi kan?" tanya Farida pada Kaisar.


Kaisar menggelengkan kepalanya.


"Tidak akan menduakan aku?"


"Hanya kau satu-satunya wanita yang akan menemaniku hingga akhir hayat."


"Tidak akan memberikan cincin itu dijari manisku?'' ujar Farida menyodorkan jarinya.


Kaisar terlihat bingung dengan pertanyaan Farida untuk sejenak, lalu dia menggeleng sambil tersenyum. Tangannya mengambil cincin itu dari kotaknya dan memasangkannya di jari Farida.


"Sayangnya, aku sudah memasangkannya ke jari manismu. Mulai sekarang dan sampai kapan pun cincin ini akan ada di jarimu dan kau tidak akan pernah melepaskannya," ujar Kaisar. Dia lalu memeluk Farida.


"Terimakasih karena masih mau menerimaku lagi. Aku akan berusaha selalu membuat kau dan anak kita tersenyum bahagia."


Semua orang yang menyaksikan ini bertepuk tangan dengan keras. Maulana berjalan mendekat ke arah orang tuanya.


Kaisar mengangkat tubuh Maulana dan memeluk Farida. Mulai sekarang dia tidak akan menyiakan keluarganya lagi karena mereka adalah hal terpenting bagi hidupnya.


Fadil menitikkan air mata bahagia. Akhirnya, dia melihat tawa lepas di wajah Farida. Sedikit banyak ini membuat rasa sesak di dadanya berkurang. Rasa sesak karena penyesalan.


Sara, aku harap kau ikut bahagia di sana melihat senyum di wajah putri kita.