One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 67 Dilarang!!!



Farida sedang melakukan pekerjaan dengan laptopnya ketika mendengar suara benda jatuh dan pecah. Dia langsung bangkit untuk memeriksa apa itu.


Nampak Maulana sedang berdiri di antara pecahan gelas. Anak itu menatap Farida dengan takut.


"Apalagi Lana?"


"Aku mau minum jus jeruk," kata Lana sambil melihat ke arah botol besar berisi jus jeruk di atas meja.


Farida lalu mendekat. Menaikkan anak itu ke atas meja.


"Kenapa tidak bilang, Tan, Ibu...." Semenjak kejadian itu, kini Maulana dan Farida tinggal di rumah kost-kostan untuk menghindari Kaisar dan anak buahnya. Jika dia akan pergi, dia menitipkan Maulana ke rumah Uda Ryan karena tidak mungkin menitipkan kepada Uyun dan Uda Hanafi. Mereka pasti juga turut diintai oleh Kaisar.


Dia juga sudah jujur jika dia adalah ibu dari Maulana hanya saja hal yang mengejutkan Farida adalah Maulana sudah bertemu dengan Kaisar. Namun, anak itu sudah tidak mau bertemu dengannya lagi. Entah apa yang terjadi di sana. Pasti terjadi hal yang sangat buruk membuat anak itu enggan untuk mengenal ayahnya.


Farida menuang isi dalam botol ke gelas yang lain, baru membersihkan pecahan kaca yang tersebar di lantai.


"Bu, aku bosan tinggal di dalam kamar terus."


Farida menghentikan pekerjaannya. "Lalu kau apa?"


"Aku ingin sekolah lagi."


Farida menghela nafasnya. "Nanti akan ibu cari tempat sekolah yang baik untukmu."


"Benar, Bu?"


Farida menganggukkan kepala. Maulana lalu melompat-lompat di kursi. "Yeay...."


Setelah membersihkan lantai, Farida mendekat Maulana yang sudah menghabiskan jus. Dia duduk di sebelahnya.


"Kau bosan?"


"Iya."


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall."


"Asik. Sudah lama Lana tidak bermain di sana. Lana ingin main dance," ujar Lana sambil memperagakan gayanya ketika sedang dance.


Beberapa jam kemudian mereka akhirnya sampai ke sebuah mall di pinggir kota. Mereka langsung menuju ke tempat bermain anak.


Farida menemani Lana saat mencoba semua permainan. Hingga mereka lelah dan lapar.


"Lana mau makan apa?" tanya Farida.


Lana melihat ada banyak makanan yang di tawarkan di mall itu. Mereka lalu membeli berbagai macam makanan dan satu es cream ukuran jumbo. Makanan itu diletakkan di atas meja.


"Banyak sekali, Bu." Maulana menatap ke arah makanan yang ada di meja.


Ada Siomay, Ayam Krispi, Bakso bakar, Sempol kekinian juga tidak ketinggalan serta burger.


"Siapa yang akan menghabiskannya, kita hanya berdua," imbuhnya lagi.


"Kita ber ...." Perkataan Farida terpotong ketika mendengar suara dari belakangnya.


"Bertiga," ujar Kaisar tersenyum menatap ke arah Farida. Dengan santai Kaisar duduk di sebelah Farida.


"Ayah!"


Farida sendiri masih termangu melihat pria itu. "Kau kenapa ada di sini?"


Kaisar mengabaikan pertanyaan Farida. Dia tersenyum pada Maulana. "Hai, apa kabarmu Nak?"


"Baik, sangat baik."


"Apa kau tidak merindukan aku?" tanya Kaisar pada Maulana. Pria itu dengan santai nya mencicipi makanan di piring Farida.


Maulana melihat ke arah ibunya yang terlihat tegang.


"Mana bisa rindu, kan baru satu kali ketemu," jujur Maulana sambil menikmati Sempol kesukaannya.


"Kau benar, Nak." Kaisar lalu menoleh ke arah Farida.


"Kalau kau, apa kau rindu aku?"


"Tidak!" jawab tegas Farida.


"Tidak apa-apa karena mulai sekarang kita akan bersama agar lebih saling mengenal."


"Pak, aku rasa ini tidak lucu."


Farida mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Maulana menahan tawa melihatnya. Entah mengapa melihat kebersamaan mereka membuat hatinya merasa tenang. Seperti sebuah keluarga yang diimpikannya.


"Ayo makan jangan sungkan-sungkan," ujar Kaisar. Farida menatapnya tajam. Kaisar malah tambah meledek dengan mencubit gemas pipi Farida.


"Kau tambah cantik kalau marah," ujarnya.


Farida menghela nafasnya.


"Kau suka makanan pedas?" tanya Kaisar pada Maulana, dia berusaha untuk akrab dengan anaknya.


"Suka tapi sedikit."


"Aku tidak suka makanan pedas, tapi ibumu ini suka memberiku makanan pedas. Tetap kumakan walau setelahnya perutku terasa panas."


"Kau tidak pernah mengatakan apapun."


"Aku suka dengan apa yang kau sajikan," jelas Kaisar. "Aku merindukannya."


Farida langsung terdiam mendengarnya.


"Ayah, bagaimana ayah tahu kami ada di sini?"


"Ayah akan tahu kemanapun kalian pergi," ujar Kaisar menatap ke arah Farida, lalu ke arah Maulana.


"Wah hebat, padahal kami sedang sembunyi. Apa ayah tahu juga rumah kost Ibu?"


"Hmmm," jawab Kaisar ambigu.


"Ibumu memang suka main petak umpet selama ini."


Mereka lalu berbicara tentang hal ringan. Lebih banyak bercanda. Sepertinya Kaisar memang ingin dekat dengan putranya karena sebenarnya pria itu punya kepribadian yang dingin.


Dalam hati Farida ada rasa hangat. Hanya saja dia tidak bisa membuka hatinya untuk Kaisar karena satu hal. Janji yang tidak bisa dia ingkari.


Tidak terasa makanan di depan mereka habis. Kaisar yang beberapa hari ini sulit untuk makan kini makan dengan banyak. Bahkan dia memesan bakso jumbo dimakan bersama dengan Maulana.


"Kalian mau kemana lagi?"


"Pulang," jawab Maulana. "Tadi kami sudah lelah bermain."


"Tanpa membeli apapun?" tanya Kaisar.


"Aku lelah dan ingin kembali," ujar Farida sambil berpikir bagaimana caranya agar Kaisar tidak mengikuti mereka.


Kaisar lalu menekuk satu kakinya ke belakang dan memegang tangan Maulana.


"Lana, Ayah tidak pernah membelikan apapun untukmu. Maukah Lana ikut ayah, Lana bebas memilih apapun yang Lana mau karena ayah akan membelikannya untuk Lana," ujar Kaisar dengan raut muka penuh harap.


Lana menengadahkan wajahnya menatap ke arah ibunya. Merasa tidak enak pada keduanya.


"Ibu, bagaimana ini?''


"Please," mohon Kaisar.


Farida merasa tidak tega. Akhirnya dia menganggukkan kepala.


Kaisar lalu berdiri, menggenggam satu tangan Maulana dan mereka mulai berjalan seperti sebuah keluarga yang bahagia.


Pertama kali mereka pergi ke toko mainan. Lana ingin membeli banyak mainan, tapi Farida melarang.


"Kamar kita akan penuh nanti."


"Kalau begitu kau bawa yang paling kau sukai. Selebihnya akan ayah taruh di rumah ayah."


"Itu ide yang bagus. Tuh kan Bu, aku boleh membeli mainan apapun." Lana lalu berlari ke depan lagi hendak memilih mainan lainnya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Bagaimana dengan Alisa, dia tentu tidak suka jika ayah membawa mainanku. Dia membenciku," ujar Maulana.


Farida menatap ke arah Kaisar, meminta penjelasan lebih.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, karena ayah akan meletakkan ini di rumah lain karena Alisa tinggal dengan ibunya. Sebetulnya ayah punya apartemen dan rumah di tengah kota, kau bisa memilih tempat tinggal mana yang kau mau."


"Berarti Ayah akan mengajakku tinggal bersama?" seru Maulana. "Tapi aku tidak mau kalau tidak dengan ibu?"


"Tentu saja dengan ibumu." Kaisar menatap ke arah Farida. "Bukankah kita satu keluarga."


"Tidak boleh kalau kalian belum menikah. Kata guru ngajiku itu dilarang."