
"Siapa wanita itu? Apakah aku mengenalnya?"
Bukannya menjawab Kaisar malah meninggalkannya.
"Kai, kau harus jelaskan padaku, siapa wanita itu? Kenapa kau sampai peduli sekali pada anaknya?"
"Jika kau mau mematik keributan, aku akan pergi sekarang!"
Wajah Kaisar merah padam karena marah. Sebenarnya dia enggan untuk pulang ke rumah. Namun, hanya ini satu-satunya cara agar Rose tidak mencarinya.
"Aku sudah muak dengan pertengkaran kita. Dari awal kita memang sudah cocok, dipaksakan pun tetap tidak akan berhasil. Kita bagai air dan minyak, tidak akan pernah bisa menyatu," ujar Kaisar.
"Kalau begitu katakan apa salahku, mengapa kau selalu menolakku?" seru Cantika.
"Karena aku sendiri tidak tahu kenapa aku mau menikahimu." Pernyataan Kaisar membuat Cantika terdiam.
"Dulu kau sangat mencintaiku, kau juga yang datang melamarku," ujar Cantika. Impiannya saat itu akan bahagia hidup bersama dengan Kaisar yang sempurna.
"Mungkin seperti itu. Namun yang aku ingat, Alisa alasan mengapa kita menikah. Saat itu kau mengatakan hamil anakku dan rencana pernikahan sudah disiapkan sebelum kecelakaan itu. Pikirku aku memang benar-benar ingin menikahimu. Beberapa waktu berselang yang membuatku tidak faham adalah aku tidak bisa mencintaimu atau belajar mencintaimu bahkan tidak bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang pria. Sungguh tidak ada hasrat di sana, hingga itu juga membuatku down. Tanpa kau ketahui aku berobat untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun, Dokter mengatakan jika ini masalah psikis."
"Kalau begitu mari kita berobat, bukannya lari dari kenyataan," ajak Cantika berjalan mendekat ke arah Kaisar.
Kaisar merenggangkan tangannya. Dia mengatur nafas sejenak.
"Maaf jika ini menyakitkanmu, hanya saja ada hal yang mesti kau tahu."
"Apa itu?"
"Aku tidak mencintaimu."
Cantika memejamkan matanya. "Aku tahu itu, hanya saja beri kesempatan padaku sekali lagi untuk membuat kau mencintaiku."
"Enam tahun aku belajar mencintai mu. Nyatanya, alam bawah sadarku mencari wanita lain, wanita yang pernah bersamaku."
"Kai, kumohon jangan katakan itu," ujar Cantika.
"Ini kenyataannya. Semua bukan salahmu, ini semua salahku. Kesalahanmu hanya alasan untuk membenarkan tindakanku. Kau wanita baik, berhak mendapatkan pria yang baik dan pastinya bukan aku."
Dada Cantika semakin sesak. Dia tidak kuat berdiri dan memilih duduk. Bahkan air matanya telah habis untuk menangisi keadaan.
"Siapa dia? Apakah aku mengenalnya?"
"Entahlah, tapi dia mengatakan telah mengenalmu." Kaisar mengatakannya tanpa ekspresi. Terlalu datar dan tanpa rasa bersalah.
"Kau masih berhubungan dengannya?" ucap Cantika, serak dan tercekat.
"Selama kita menikah aku selalu menjaga diriku untuk menjadi pria setia. Tapi pertemuan dengannya lagi beberapa waktu yang lalu membuatku sadar bahwa aku harus mengakhiri hubungan kita karena aku tidak mau melukaimu lebih jauh lagi."
Cantika menatap ke atas sambil mengusap ujung matanya yang mulai basah. Ternyata apa yang ibunya katakan benar adanya. Selama ini Kaisar tidak mengajukan cerai karena masih merasa aman dengan keluarganya dan kini meminta cerai karena menemukan pujaan hatinya lagi.
"Jadi kau sudah menemukan dirinya dan ingin kembali padanya?" tanya Cantika parau. Lelah.
"Benar."
Cantika lalu bangkit, berjalan lemas, kepala menunduk sambil memegangi dadanya. Tidak ada lagi yang perlu dia tanyakan. Dia sudah faham jika neraka pernikahannya di sebabkan oleh satu wanita. Sedangkan Kaisar memilih meninggalkan rumah.
Dia pasti akan menemukannya dan menghilangkan jejak wanita itu dari muka bumi ini. Dia adalah Cantika, tidak pernah kalah dalam hal apapun.
Ketika sampai di kamarnya, Cantika menghadap dirinya di depan cermin. Melihat sosok menyedihkan di sana. Tersenyum miris.
"Menyedihkan. Hanya karena cinta kau sampai seperti ini," ujarnya sendiri.
"Ini bukan kau yang dulu, ini adalah wanita lemah yang hanya bisa diam dan duduk menangis. Bangunlah Cantika dan sadar bahwa tidak ada yang boleh menyakitimu. Kau terlalu berharga untuk menangisi seorang lelaki yang bahkan tidak tahu berterimakasih karena dicintai olehmu. Sudah cukup penderitaanmu. Mari buat pembalasan atas apa yang terjadi. Kau adalah Cantika, tidak ada yang bisa menyaingimu atau menghinamu seperti ini."
"Kau mengatakan hal yang salah Kai, seharusnya kau tidak mengungkapkan alasanmu meninggalkanku karena wanita itu."
Cantika mengusap air matanya.
"Jadi kau akan kembali bekerja?" tanya Hanafi ketika mereka sedang menikmati makan pagi.
"Humm, dia memberikan ultimatum padaku."
"Bukankah itu yang kau mau? Artinya dia memang sudah terjerat padamu tanpa kau harus bersusah payah merayunya," lanjut Hanafi.
"Uda!" Farida memberitahu melalui bahasa isyarat bahwa ada Maulana di sana. Hanafi terdiam seketika.
Uyun hanya bisa menghela nafas. Sedangkan Maulana terlihat asik dengan roti serta selainya, terlihat tidak memperhatikan, tapi aslinya dia mendengarkan dengan seksama.
"Ibu, kapan aku pergi ke sekolah?" tanya Maulana.
Uyun melihat ke arah Farida.
"Tante akan carikan sekolah baru yang dekat dengan rumah kita."
"Kenapa harus pindah, aku suka sekolah di sana. Banyak mainannya dan gurunya baik semua. Sekolahnya juga bagus," ujar Maulana.
"Hmm harganya juga bagus, menguras kantong," sambung Hanafi.
"Tiga puluh juta masuk ke sekolah itu, belum ada sebulan dan sudah mau kau pindahkan?"
Farida menghentikan mengunyah makanan.
"Apakah tidak ada yang mendukungku?" Semua memilih melihat ke arah lain.
"Yang benar saja? Lagipula itu uang tabunganku selama ini, tidak ada yang dirugikan."
"Kau benar, tidak ada yang dirugikan hanya saja jiwa miskinku meronta, uang sebanyak itu bisa untuk DP rumah impianku."
"Kau benar, kita mati-matian mencari uang sebanyak itu. Uang segitu juga bisa buat bayar kontrakan pangkalan armada kita selama setahun," lanjut Hanafi.
"Lalu aku harus apa? Aku tidak mau mempertaruhkan hal yang paling berharga untukku," ucap Farida seraya menatap Maulana.
"Bapa tua, kalau kita memancing ikan besar harus dengan umpan besar juga kan?" celetuk Maulana sambil mengangkat roti dengan sendok. Roti itu menggantung di sendok.
"Maulana, makan dengan benar," ujar Farida. Maulana mengerucutkan bibirnya yang merah.
"Kau benar, jika ingin memancing ikan besar maka kau harus punya umpan yang besar juga," jawab Hanafi. "Apa kau ingin pergi memancing? Kalau iya, nanti Bapa tua ajak kau pergi ke menyeberang pulau, kita bisa memancing di kapal sepuasnya."
"Aku ingin pergi memancing bersama 'Ayah'." Maulana sengaja menekankan kata Ayah.
"Oh, Ibu tidak tahu kapan ayahmu akan kembali, Sayang, mungkin bulan besok," ujar Uyun.
"Mungkin aku harus ganti ayah?"
Hanafi yang sedang minum kopi menyemburkan kopinya ke depan. Uyun tersedak oleh makanannya dan Farida tertegun hingga sendok di tangannya jatuh.
"Ganti ayah?" ulang Uyun menahan tawa.
"Kau dengar apa yang Maulana katakan," tunjuk Hanafi pada Maulana sambil menatap ke arah Farida.
Maulana sendiri berlagak tidak peduli. Dia turun dari kursi makannya. "Bu, aku sudah kenyang."
Uyun menganggukkan kepalanya. Maulana lantas pergi naik ke lantai atas di kamarnya berada.
Semua menatap kepergiannya. "Besok dia akan protes padaku untuk berhenti jadi ibunya," ujar Uyun melihat ke arah Farida.
"Walau kita bohongi, tapi hatinya tetap condong pada orang tua kandungnya, bukan aku atau Uda Erick. Dia lebih dekat denganmu, Ida. Entah jika dia bertemu dengan ayahnya yang tampan, rupawan dan menarik, mungkin dia akan menempel terus padanya dan sakit hati padamu karena telah menipunya."
Wajah Farida seketika memucat. "Itu tidak akan terjadi, aku akan memastikannya."
"Terserah." Uyun lalu meninggalkan ruang makan itu.