One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 42 Harus Sopan



Farida sangat terkejut ketika melihat mobil Kaisar masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Dia langsung berdiri di pintu.


Kaisar keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Alisa. Alisa melihat rumah itu.


"Ini rumah, Ayah?" tanya Alisa polos.


"Lalu kau kira apa?"


"Kenapa sangat kecil? Ternyata Maulana tidak sehebat pikiranku," Cara bicara Alisa mirip sekali dengan cara bicara Cantika yang selalu merendahkan orang yang ada di bawahnya.


"Hush, kau tidak boleh mengatakan itu pada seseorang."


"Maaf, Ayah."


Padahal rumah yang Farida tempati adalah rumah dengan dua lantai. Walau tidak terlalu luas seperti rumah mewah lainnya tapi rumah itu cukup bagus untuk golongan orang menengah ke bawah.


Farida yang mendengar perbincangan itu tersenyum kecut. Dia menghampiri keduanya.


"Hai Cantik, senang sekali Tante melihatmu lagi," sapa Farida. Dia lantas melihat ke arah Kaisar.


"Kau untuk apa kemari?" ujarnya dengan raut wajah tidak senang.


"Alisa memaksaku untuk berkunjung kemari, katanya dia ingin melihat keadaan temannya dan aku baru tahu jika temannya itu adalah keponakanmu. Sebuah kebetulan yang aneh, bukan?"


Farida tersenyum dengan menarik bibirnya satu sudut saja.


"Terimakasih karena telah mengkhawatirkan keadaan Maulana, Sayang. Hanya saja, Maulana ada di rumahnya," ujar Farida.


"Katamu kemarin Maulana tinggal satu rumah denganmu?"


"Terkadang iya kalau Ayah dan Ibunya sibuk bekerja. Maka dia akan dititipkan di sini. Namun, mereka punya rumah sendiri," kilah Farida berusaha untuk terlihat normal. Padahal hatinya berdegub kencang karena takut Kaisar akan menemukan Maulana.


"Aku harap kau tidak sengaja menyembunyikannya dariku kan?" ujar Kaisar.


"Untuk apa?" balas Farida dengan raut wajah tegang. Tangannya memasukkan untaian rambutnya sendiri ke belakang telinga.


"Mungkin saja kau sedang bermain rahasia denganku?"


"Anda ada-ada saja, Tuan Cortez."


Kaisar menatap tajam Farida sejenak.


"Padahal Ayah sudah beli banyak makanan untuk Maulana dan juga mainan. Malah Maulana nggak ada."


Farida membungkukkan tubuhnya.


"Maaf sekali, Cantik. Tapi kau jangan khawatir, Tante akan memberikannya untuk Maulana."


"Ayah, berikan tasnya pada Tante Cantik," ucap Alisa. Kaisar lantas memberikan tas bawaannya pada Farida.


"Ini banyak sekali," ujar Farida menenteng tiga tas. Dua tas berisi mainan dan satu tas berisi makanan.


"Mungkin aku akan membawakan lebih banyak lagi jika aku bisa melihatnya," ujar Kaisar.


Farida memutar bola matanya malas. "Tidak perlu repot-repot karena Maulana selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia tidak kekurangan apapun.''


Alisa mengangkat wajahnya ke atas, melihat Ayahnya dan Farida saling bersitegang. Mereka lebih terlihat seperti musuh.


"Hadiahnya sudah saya terima, Anda bisa pulang kembali," usir Farida.


"Apakah di rumah ini seorang tamu tidak di beri ijin masuk dan disuguhi segelas kopi panas?"


"Aku rasa tidak, takut tamu itu akan berlama-lama di rumah ini," lanjut Farida.


Kaisar meletakkan tangannya ke pundak Alisa. "Sayang sekali, Sayang. Tante Cantik ini tidak secantik namanya. Dia pelit sekali karena tidak mau memberikan kita segelas air."


"Padahal aku juga haus dan lapar Ayah. Tadi Ayah bilang kita bawa makanan ke rumah Maulana dan akan makan bersama-sama."


Kaisar tersenyum tipis ketika melihat raut wajah tidak enak dari Farida.


"Sayang sekali, Maulana tidak ada di rumah jadi kita harus pulang. Kita cari makan di tempat lain saja," bisik Kaisar di telinga Alisa dengan volume suara yang masih bisa di dengar Farida.


Farida memutar bola matanya malas, dia melirik ke arah jendela, di mana ada Uyun yang sedang mengintip. Memberinya tanda aman.


Farida menghela nafasnya lega.


"Karena kalian adalah tamu, silahkan masuk. Alisa kau mau minum apa?" tanya Farida.


"Jus jeruk. Aku haus mau yang dingin," seru Alisa.


"Tidak perlu! Cukup air putih saja untuk menjernihkan pikiran kotormu itu," ujar Farida kesal. "Tidak tahu malu!" gerutunya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Dia teringat bagaimana Kaisar menyerangnya terakhir mereka bertemu di kantor.


Alisa duduk di salah satu kursi dalam ruang tamu. Sedangkan Kaisar memilih melihat beberapa foto yang terpajang di dinding. Tidak ada foto anak kecil di sana.


Fokus Kaisar tertuju pada satu foto, dimana di sana ada seorang bayi dan empat orang pria yang mengelilinginya. Tidak, itu bukan empat. Kaisar melihat dengan seksama. Bukankah itu Farida dengan potongan rambut pendek?


"Ehem." Farida berdehem mengalihkan perhatian Kaisar.


"Itu kau?" tanya Kaisar. Farida meletakkan minuman itu di atas meja beserta dengan dua toples makanan berisi kue.


"Kau lebih terlihat seperti pria," imbuh Kaisar lagi yang mendapat sorotan mata tajam Farida.


"Makan kue nya, Sayang," ucap Farida lembut pada Alisa.


"Kuenya lucu sekali." Alisa mengambil satu kue berbentuk ducky. "Ini dari cokelat?"


"Kau benar, coklat putih yang dibentuk dan di warnai. Lana sangat suka menghias kue jika aku sedang membuatnya."


"Iya, Lana suka menggambar dan mewarnai," imbuh Alisa. Dia lalu menggigit kue lapis coklat itu.


"Bagaimana?"


"Rasanya lembut, enak sekali. Kapan-kapan aku juga mau buat roti seperti ini. Pasti menyenangkan. Ibu tidak pernah mengajariku membuat kue," ungkap Alisa.


Kaisar memilih duduk di kursi single sebelah Farida, mengangkat gelasnya. "Kau benar-benar memberiku air putih? Pada atasanmu sendiri?"


Farida menahan senyum dan terlihat tidak peduli.


"Itu pantas untukmu! Lagipula kau bukan atasanku lagi karena aku akan mengundurkan diri," balasnya.


Kaisar menghela nafasnya. "Air putih juga tidak apa-apa, asal aku bisa diterima olehmu."


Farida membelalakkan matanya kesal. Hal itu malah membuat Kaisar senang.


"Ini kue yang kau buat sendiri? Kau pandai juga, cocok untuk dijadikan istri," lanjut Kaisar.


"Bagaimana keadaan Ibumu, Alisa?"


"Ibu, baik saja, hanya saja ibu masih suka bertengkar dengan Ayah," ujar Alisa polos.


Kaisar nampak santai saja menanggapinya.


"Mungkin karena Ayahmu itu nakal!"


"Ayah," Alisa melirik ke arah Kaisar. "Itu baik, hanya saja Ibu dan Ayah itu tidak cocok, seperti Tom dan Jerry, bertengkar terus kalau bertemu."


"Kau bertengkar di depan anakmu? Itu sangat tidak mendidik dan buruk!" ujar Farida.


"Alisa kau tidak boleh bercerita pada siapapun tentang keadaan rumah kita, apalagi pada orang asing."


"Orang asing, dia itu ...." Farida menghentikan kata-katanya.


"Dia apa? Coba teruskan? Kata Alisa kau mengenal Cantika? Apakah kau sahabatnya atau apa? Apa yang coba kau rencanakan?" bisik Kaisar mendekat ke arah Farida.


Farida mendorong tubuh Kaisar menjauh darinya.


"Dia itu anak kecil jadi boleh bercerita tentang perasaannya pada siapapun agar dia tidak tertekan karena tinggal bersama orang yang salah."


"Kau sangat pandai bersilat lidah."


"Untuk berada dekat dengan orang licik sepertimu seharusnya memakai akal jika tidak ingin terperdaya."


"Oh, licik? Siapa yang licik, pura-pura tidak kenal padahal hubungan kita sudah lebih dari itu? Kau memanfaatkan penyakit amnesiaku untuk mendekatiku lagi? Sebenarnya apa yang kau inginkan?" ujar Kaisar tidak mau kalah.


Alisa yang berada di situ terlihat bingung oleh ulah dua orang dewasa di depannya.


"Ayah, selalu saja mengajak bertengkar. Tidak Ibu, tidak Tante Cantik!" seru Alisa kesal.


Farida tersenyum lalu memeluk Alisa dan mencium pucuk kepalanya. "Ayahmu memang seperti itu. Sekarang kau tahu kan, mengapa aku tidak ingin membawanya masuk ke rumah. Kita sama-sama seorang wanita, faham dengan masalah ini," ujarnya mencoba berkata dewasa pada Alisa.


"Kalau bertamu, Ayah harus sopan!" lanjut Alisa yang mendapatkan senyuman penuh kemenangan dari Farida.


Kaisar menyugar rambutnya ke belakang dengan jari tangannya.


.