One Night Stand With Brother In Law

One Night Stand With Brother In Law
Bab. 38 Keyakinan



Kaisar tertawa hambar mendengar perkataan Emilio. Dia lalu berdiri menghadap Emilio dan merapikan kerah bajunya. Hal itu membuat Emilio merinding seketika.


"Aku tidak pernah bermain dengan kata-kataku. Sudah banyak pria yang mendekati Rose dan tidak sedikit pria yang dijodohkan oleh Mom serta Om Kris untuk menikah dengannya. Namun, semua menemui kegagalan. Zonk."


"Karena Anda dan Ibu Dara selalu mengekang kebebasan wanita itu. Kalian tidak pernah membiarkan dia dekat dengan pria manapun."


"Ish, kau tahu sendiri pria seperti apa yang Rose dekati," ujar Kaisar.


Emilio teringat terakhir kali dia menyelamatkan Rose dari buaya berkulit putih asal Kanada. Sedikit terlambat saja Rose sudah dimakan Bule itu.


"Anda benar. Namun, apapun itu, mereka adalah pilihannya sendiri."


"Coba kau bayangkan jika menjadi Rose. Dia sudah terluka karena ku tolak dan akan terluka lagi jika menemukan pria yang salah."


Emilio mengangguk.


"Kau setuju kan?"


"Ya. Eh tunggu, setuju apanya?"


"Dekati Rose dan sembuhkan lukanya, setelah itu terserah apa yang akan kalian lakukan. Kalian bisa menentukan jalan sendiri. Yang penting saat ini Rose butuh seseorang yang mengerti dirinya. Anggap ini sebagai pekerjaan dan misi penting dariku."


"Maaf, Pak, saya tidak akan melakukan itu. Tuan Besar bisa saja membunuhku jika tahu masalah ini dan juga saya tidak mungkin mempermainkan wanita."


"Kalau begitu jangan permainkan buat serius."


"Pak, saya bukan orang yang tepat, saya hanya pegawai rendahan."


"Rose punya segalanya, yang belum dia miliki adalah orang yang mencintainya dan rela berkorban untuknya. Aku hanya ingin kau membuat dia sadar bahwa ada hal lain di dunia yang bisa membuat dia hidup dengan sebuah senyuman. Jika pun kalian memutuskan untuk saling mencintai, maka aku orang pertama yang akan mendukung hubungan ini. Jika tidak, setidaknya Rose punya teman untuk berbagi perasaannya."


Mereka terdiam untuk sejenak.


"Hanya aku dan kau yang faham sifat aslinya. Maka dari itu aku percaya padamu. Jadi jangan hancurkan kepercayaanku."


"Kalau begitu saya mengundurkan diri saja, Pak karena saya tidak bisa mendapatkan tugas ini. Terlalu riskan karena menyangkut hati."


Kaisar menatap tajam ke arah Emilio.


"Kau mau berhenti?"


"Ya!"


"Baiklah, kau boleh berhenti, tapi aku tidak akan membuat hidupmu tenang."


"Saya bisa menahan sakit, tapi tidak bisa menyakiti hati wanita karena saya pun punya adik perempuan. Saya tidak rela jika adik saya itu dipermainkan oleh siapapun."


Kaisar tersenyum tipis. Hal ini yang membuat dia yakin jika Rose bisa bahagia bersama Emilio. Pria ini sangat teguh dengan pendiriannya. Dia tidak pernah melihat Emilio keluar sewaktu libur kecuali untuk menemui keluarganya. Dibalik sifatnya yang kaku, Emilio adalah orang yang hangat dengan keluarganya.


Kaisar pun kenal dengan keluarga Emilio, iparnya adalah orang berpengaruh di bidang konstruksi. Seharusnya dia bisa saja kerja bersama iparnya dengan jabatan mumpuni, tapi dia memilih menjadi anak buah Kaisar sebagai pengawal pribadi. Benar-benar Low profile.


"Ya sudah jika kau tidak mau. Namun, aku ingin kau menjaga Rose setiap waktu. Aku tidak percaya padanya. Dia bisa melakukan hal gila lagi jika ditinggal sendiri."


Emilio menatap curiga pada Kaisar. "Anda tidak sedang merencanakan sesuatu kan, Pak?"


"Tidak, aku hanya berpikir bagaimana caranya membuat Rose tersenyum lagi sedangkan kau tahu sendiri jika aku juga punya keluarga. Bahkan tiga hari ini aku sama sekali tidak pulang ke rumah."


"Bukannya Anda sedang menggugat cerai Ibu Cantika?"


Emilio langsung menutup rapat bibirnya. "Maaf jika saya turut campur urusan Anda, Pak."


"Baik, Tuan."


"Ingat, jangan tinggalkan dia!"


Setelah mengatakan itu Kaisar lantas pergi meninggalkan tempat itu. Dia masuk ke dalam lift dan hendak memencet lantai basemen. Namun, dia malah memencet lantai dua. Tempat ruang perawatan khusus anak berada.


Sesampainya di ruangan itu, dia lantas menemui perawat yang sedang berjaga.


"Mba, mau tanya. Beberapa jam yang lalu, saya mengantar anak kecil, katanya sudah masuk ke ruang perawatan."


"Namanya siapa, Pak?"


"Saya tidak tahu, karena dia adalah anak dari pegawai saya."


"Tadi hanya ada dua pasien anak yang masuk ruangan ini. Biar saya lihat." Perawat itu melihat daftar pasien.


"Di sini ada ada dua pasien laki. Yang satu namanya Maulana, umur 5 tahun dan yang satu namanya Febri umur 4 tahun."


"Oh ya, Mba. Sayangnya saya tidak tahu nama anak itu. Ehm ... kalau boleh tahu yang namanya Maulana itu tercatat anak siapa Mba?"


Wajah Perawat itu nampak masam. Kaisar mengeluarkan trik yang enggan dia lakukan. Tersenyum pada sembarang orang.


"Katanya tadi Anda bersama dengan orang tuanya, bagaimana sih ini!" sewot perawat itu.


Ternyata senyumnya tidak laku dipasaran seperti dalam film.


"Mba saya hanya butuh nama orang tuanya." Kaisar mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah di serahkan pada perawat itu.


Perawat itu melihat ke arah kamera pengawas, sepertinya aman karena tidak terlihat. Dia lantas mengambil uang itu secara diam-diam.


"Sebenarnya saya tidak boleh membocorkan data pasien tapi sepertinya Anda memaksa. Nama orangtua dari pasien Maulana adalah Erick Budiman dan Qurota Ayun."


"Nah, benar, berarti itu anaknya. Mereka ada di kamar berapa?"


"Kamar 208 ruangan Daisy. Namun, ini bukan waktu berkunjung."


"Aku hanya ingin memastikan bahwa keadaan anak itu baik-baik saja."


Kaisar lantas pergi ke ruangan yang dituju. Berarti memang benar itu anak wanita itu, bukan Farida. Namun, perkataan Dokter tadi yang mengira jika dia adalah ayah anak itu mengganggu pikiran Kaisar. Dia jadi ingin melihat wajah itu.


Kaisar menatap ke arah satu ruangan bertuliskan angka 208.


Dia lantas maju selangkah, melihat ke dalam ruangan lewat kaca yang ada di pintu.


Nampak Farida sedang berbaring memeluk anak itu sambil mengusap kepalanya. Itu terlihat seperti seorang ibu dan anak.


Tubuh Kaisar membeku seketika. Pikirannya menjadi rumit. Banyak hal yang membuat dia tidak mengerti.


Dia hendak membuka pintu ruangan itu. Namun, gerakannya terhenti. Mungkin dia harus mengikuti alur cerita yang sedang Farida mainkan agar tahu kebenarannya.


Dia rasa tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Setiap pertemuan, sudah dirancang oleh Tuhan. Rasa yang aneh di dadanya bukan hal biasa jika memang mereka belum saling mengenal sebelumnya.


Kini, wanita itu kembali. Itu artinya sebuah pertanda dari Tuhan untuknya. Dia yakin itu. Sebuah keyakinan yang membuat semangat hidupnya kembali.


"Apa yang coba kau sembunyikan, Farida? Kau bermain dengan orang yang salah jika itu tujuanmu."