My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 9



Susana apartment Gil sangat tegang, salah satu bodyguard yang menjaga apartment mengabari bahwa Alesya kabur Gil langsung pulang.


"Bodoh, untuk menjaga satu gadis saja kalian bisa kecolongan, aku tidak mau tahu temukan gadis itu secepatnya atau nyawa kalian sebagai ganti." ucap Gil marah.


"Bba..bbaik tuan, ampuni kami. Kami tidak akan mengulanginya lagi." ucap salah satu penjaga.


DOR....


Gil menembak tangan bodyguard nya begitu saja.


Arghhh...


"Jika kalian gagal, kepala kalian yang menjadi sasarannya." ucap kemudian pergi menuju ruang kerja.


"Anthony, carikan kebaradaan gadis itu secapatnya."


ucap Gil kepada Anthony.


"Baik sir."


"Sialan beraninya dia bermain denganku, lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini. Dasar ja*ang tidak tahu diri."


...........


Di rumah Audrey, Mereka bertiga sedang berkumpul sesekali bertukar cerita.


"Kurang ajar, dibalik wajahnya yang super tampan ternyata dia Iblis kejam, beraninya sama cewek. " ucap Audrey.


"Yahh Gue juga, gak nyangka. Gila aja, harusnya dia merasa bersalah karena udah bikin lo hancur, sekarang mau apalagi. Gue kira mau tanggung jawab sama perbuatannya ternyata boro-boro ihhh. jangan sampe gue punya laki kaya gitu." cerocos Adela.


"Udahlah, kan udah kejadian ini. Lagian aku gak tahu juga bakal kaya gini." ucapku.


"Lo mah gitu Le, bukannya marah gimana-gimana gitu malah lempeng aja kaya jalan tol." kesal Adela.


"Aku memang marah, benci, cuman aku pikir dia bukan lawanku. kalian tahu, setelah aku di bawa keruang penyiksaan dan berakhir aku hampir mati, membuatku takut ." ucapku sendu.


"Alesya, lo itu udah berani banget. kabur dari dia nunjukin kalo lo bisa ngelawan tuh iblis ganteng." ucap Adela.


"Bener Le, yang harus lo lakuin adalah...."ucap Audrey menggantung.


" Adalah?"ucap ku dan Adela.


"Buat rencana, biar dia lepasin lo. yah minimal gak lepas juga, gimana caranya dia gak nyakitin lo terus-terusan." ucal Audrey.


"Caranya?"


"Lo jangan ngelawan nurut aja Le nanti juga dia bakalan bosen trus lepasin Lo deh, gampang kan." ucap Audrey


"Rey, gak ada ide lain apa. Ntar gimna kalo ngasarin si Ale masa diem aja, bisa mati dong anak orang." Ucap Adela.


"Gue..." belum sempat Alesya melanjutkan tiba-tiba tetdengar suara gaduh di lantai bawah.


"Siapa tuh?" ucap Adela.


"Bentar gue cek dulu." Audrey kemudian pergi untuk mengecek namun belum sempat membuka, pintu kamarnya sudah terbuka dengan kasar. Kami semua kaget dan takut, ada beberapa pria yang berpakaian serba hitam datang kemari.


"Nyonya Alesya mari kembali, tuan memerintahkan kami untuk menjemput anda. Jika tidak mau dengan cara baik-baik kami terpaksa harus berbuat kasar, ini perintah dari tuan."Ucap salah satu dari mereka.


" Siapa kalian, beraninya masuk rumah orang tanpa permisi. mau gue laporin lo ke polisi."Ucap Audrey.


"Nona diamlah dan jangan ikut campur, atau kami terpaksa berbuat kasar."balasnya.


" Sudalah Rey, aku akan ikut bersamanya. percuma melawan toh kita juga akan kalah." ucapku


"Alesya...lo apaan sih, nggak lo tetep tinggal disini bareng gue." larang Audrey.


"Tenang aja, kamu ingat apa yang baru aja kita bicarain? Aku pasti baik-baik saja." ucapku menenangkan.


Kemudian merak mengabur memeluk Alesya dan menangis. Dan pada saat itulah aku membisikan sesuatu kepada mereka.


"Aku akan melakukannya, kalian tenang saja." ucapku.


"Lo yakin le." Ucap Audrey melepaskan pelukan mereka


"Iya rey, del kalian nggak usah khawatir okey." ucapku.


"Okey baiklah, Lo semua bilangin ke tuan lo yang brengsek itu suruh jagain sehabat gue, kasih makan yang bener, tidur di tempat layak, tunggu kita akan berkunjung kesana bagaimana pun caranya." Ucap Adela.


Kemudian mereka pergi membawaku ke tempat iblis sialan itu. Sepertinya kemana pu aku pergi dia akan tahu.


........


Di apartment nya Gil sedang menunggu, sebenarnya dia tahu apa yang di bicarakan teman Alesya karena, bodyguard nya selalu memakai headset wireless komunikasi jarak jauh. Jadi ia bisa mendengar semuanya.


"Menarik, dia pergi tanpa pemberontakan." ucap Gil.


Tak lama, Pintu apartment terbuka dan ternyata itu adalah anak buahnya bersama sang tawanan.


"Bodoh." Satu kata sebagai sambutan untuk Alesya.


"Baru saja kau sembuh sedikit, sudah berani kabur dari ku hah." ucapnya sambil melangkah maju, kemudain menyeret Ale namun tanpa Gil tahu, wajah Alsya begitu pucat.


Brukkk... Tubuh Alesya terkulai lemas.


"Menyusahkan." kemudian Gil membawanya kemar saat pertama kali Ale terbangun.