My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 65



Malam pun tiba, Gil dan yang lainnya sudah datang. Di meja makan tersaji makasan yang terlihat sangat lezat, memang A triplets pandai memasak.


Sekarang semuanya sudah berkumpul di meja makan, tidak banyak yang di masak hanya beberapa menu dan selalu saja Alesya menyelipkan makanan khas Asia.


"Dalam rangka apa kalian memasak dan mengadakan dinner seperti ini?" Tanya Niel.


"Hanya ingin, kita belum pernah makan bersama." Jawab Audrey.


"Sudah, waktu di mansion Gil."


"Itu beda lagi, sekarang tanpa orangtua." Ucap Asal Audrey.


"Kau ini."


"Maaf tidak mengajak Sam, kurasa akan canggung." Sahut Adela.


"It's okey, kita bisa lakukan lagi bersama Sam lain kali." Ucap Gil.


"Aku sudah lapar, bolehkah kita makan sekarang?" Tanya Niel.


"Tentu." Jawab Adela.


"Itu apa yang di bungkus daun hijau?" Tanya Marvel.


"Alesya yang memasaknya." Ucap Adela.


"Pepes ikan, makanan khas Indonesia tempat asalku. Cobalah." Ucap Alesya membuka daun pepes ikan itu.


"Hwoaa harum sekali." Seru Neil.


"Wanitaku memang sangat pintar memasak." Ucap bangga Gil dan hanya medapat senyuman darinya.


"Tso's chicken kesukaanku." Ucap Marvel. "Sayang, kamu yang memasaknya?"Lanjutnya.


" Tentu."Jawab Adela.


"Menu hari ini sangat enak-enak." Ucap Niel sembari menaruh semua lauk yang ke dalam piringnya, Tso's chicken, foie gras, Zharkoye dan pepes ikan.


"Kau yakin akan menghabiskan sebanyak itu?" Tanya Audrey.


"Semuanya pasti habis jika Niel yang memakannya."Sahut Marvel.


" Dia sangat rakus jika kau mau tahu Audrey." Ucap Gil.


"Astaga, aku tidak percaya ini."


"Makanlah dan jangan banyak protes." Kesal Niel.


Semua menggelengkan kepala, Niel memang seperti itu. Dia suka makan, mau sebanyak apapun dia makan tetap saja tubuh proposionalnya tidak akan hilang.


Akhirnya mereka menyantap makanan dengan tenang.


................


Bela dan Gio sedang berkumpul bersama Sam dan Maria, mereka sedang merundingkan sesuatu.


"Mom Bela apa tidak salah, ingin melakukan itu pada Gil. Pasti dia akan menolak, berpisah dengan Alesya adalah mimpi buruk baginya." Protes Sam.


"Hanya seminggu sebelum pernikahan dilakasanakan, itu waktu yang singkat." Ucap Bela.


Karena Alesya dalam proses pemulihan, demi kebaikannya dan kelancaran pernikahan. Acaranya di tunda selama seminggu.


"Jadi bagaimana?" Tanya nya.


"Alesya akan pergi dari mansion ini, Dad sudah menyiapkan apartment untuknya tinggal sementara waktu. Maria apa kamu tidak keberatan jika menani Alesya disana?"Tanya Gio.


" Tidak sama sekali Dad."Balas Maria.


"Dimana?" Tanya Sam.


"Kau tidak perlu tahu, tugasmu hanya menja Gil agar tidak bertemu dengam Alesya. Marvel dan Niel juga sudah Dad beritahu, tidak ada ponsel atau alat elektronik." Jelas Gio.


"Astaga, kau kejam sekali Dad. Aku tidak sabar menunggu respon Gil setelah mendengar ini." Ucap Sam.


"lihat saja nanti."


Tak lama Gil datang bersama Alesya dan, memghampiri mereka.


"Apa aku ketinggalan informasi?" Tanya Gil langsung duduk di sebelah Alesya.


"Kami hanya berbincang santai boy." Ucap Gio.


"Sayang, bagaimana kondisi kaki mu ?" Tanya Bela.


"Sudah mulai membaik, aku harus sering berjalan. Agar pemulihannya cepat, dan luka di pelipisku juga sudah kering." Jelas Alesya.


"Syukurlah, sebaiknya Mom akan mengantarkan mu istirahat. Ayo Maria bantu Mom." Ucap Bela.


"Mom ingin berbicara dengan Alesya sebentar Gil." Ucap Bela tidak ingin di bantah, Akhirnya Gil menurut.


Mereka bertiga sudah berada di kamar, meninggalkan para pria di sana.


"Mom ada apa?" Tanya Alesya cemas karena, tidak seperti biasanya seperti ini.


"Maria kamu sudah kunci pintunya?"


"Sudah Mom." Jawab Maria.


"Begini, besok Mom minta kamu bersama Maria pagi sekali pergi. Dad sudah menyiapkan apartment disana.." Ucapan Bela terpotong.


"Kenapa Mom?"


"Mom hanya ingin membuat pelajaran pada anak itu karena tidak bisa menjagamu dengan baik, hanya samapai acara pernikahan kalian di laksanakan."


"Apa Gil tahu?"


"Tentu tidak, bagaimana sayang. Apa kamu bisa?"


"Hanya seminggu saja tidak masalah."


"Tapi tidak akan ada alat elektronik apapun disana."


"Televisi?"


"Hahaha... hanya handphone dan telpon rumah saja. Mom sudah menyiapakan perlengkapan kalian selama seminggu, jadi tidak perlu keluar."


"Syukurlah jika Kak Maria ikut." Ucap senag Alesya.


"Tentu, aku akan menemanimu disana. Pasti sendiri akan terasa sangat bosan." Sahur Maria.


"Baiklah, bersihkan dirimu lalu istirahat." Ucap Bela.


"Iya Mom."


"Kalau begitu Mom pergi dulu." Pamitnya.


"Aku juga, selamat malam." Ucap Maria.


"Selemat malam juga Kak." Balasnya kemudian bergegas untuk membersihkan diri.


Beberapa menit berlalu Alesya keluar sudah rapi dengan piyama tidurnya, kaget melihat Gil sudah ada dikamarnya.


"Gil, tidrulah dikamarmu." Ucap Alesya.


"Sehari ini saja, biarkana aku tidur bersamamu. Aku janji tidak akan melakukan apapun, hanya tidur okey." Ucap Gil memohon.


Berhubung selama seminggu mereka akan berpisah, Alesya membolehkan Gil.


"Yasudah, awas saja kalau macam-macam."


"Tidak akan sweetheart, kemarilah." Ucap Gil menepuk tempat yang masuk kosong disampingnya.


Alesya sudah merebahkan tubuhnya, Ia tidak bisa tidur.


"Gil, kamu sudah tidur?"


"Belum, kenapa?"Tanya Gil.


" Apa kamu yakin akan menikah denganku?"


"Sangat yakin, kenapa bertanya seperti itu. Apa ada masalah?"


"Tidak, aku hanya takut saja semua ini hanya mimipi dan saat aku terbangun semuanya lenyap."


"Kalau seperti itu, biarakan ini terus menjadi mimpi kita."


"Kapan kamu mulai mencintaiku?" Tanya Alesya.


"Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas saat kejadian di rooftop waktu itu membuatku tidak ingin kehilanganmu selamanya, aku membutuhkan mu Alesya. Jangan pernah berfikiran untuk pergi meninggalkanku." Ucap Gil.


Alesya jadi tidak tega, bagaimana jadinya jika Gil tahu besok dia akan pergi. Semonga rencana berjalan baik-baik saja, Alesya tidak mau semuanya berakibat fatal untul pernikahnnya.


"Jika kamu tak memintaku pergi, aku akan selalu disini bersamamu." Balas Alesya.


Kemudian Gil memeluk Alesya hangat, mencium keningnya lama. Seakan dia menyalurkan rasa cintanya lewat sentuhan itu, nyaman. Itulah yang dirasakan keduanya.


"Tidurlah."Ucap Gil.


" Hmmm." Jawab singkat Alesya.


Tidak ada lagi pembicaraan setelahnya, mereka sudah tenggelam bersama mimpi yang indah.