My True Love Is Mafia

My True Love Is Mafia
chapter 15



Gilbert pov


Semua sedang berkumpul di ruang tamu suasana begitu canggung setelah Gil menyebutkan nama seseorang yang dilihatnya sangat ia benci.


"Sayang Dia Syaqila bukan Selena, kamu salah mengenali Gil." ucap mom


"Tidak mom aku yakin dia orang yang sama." balas Gil


"Tenanglah boy, di dunia ini banyak yang berwajah sama. Mungkin qila salah satunya." ucap dad


"Sebenarnya kau kenapa Gil, kenapa kau terlihat membenciku?" tanya Qila.


"Diamlah, aku tidak suka kau berada di sini."Ucap Gil dan tentu saja Qila sudah berkaca-kaca oleh perkataan Gil yang kasar.


"Om, Tante sebaiknya aku pulang saja."Ucap Qila kemudian bangkit begitu saja dan meninggalkan kami.


" Bicaralah Gil, kenapa kau kasar sekali pada Qila. Dia gadis yang baik."ucap Mom.


"Kalian tidak tahu, dia mantan kekasihku waktu SHS." ucapku.


"Apa, kau punya kekasih saat SHS dan kami tidak tahu. " Ucap Mom


"Lalu kenapa kau terlihat membencinya?" tanya Dad.


"Saat itu aku akan mengenalkannya pada kalian, namun saat itu aku menangkap basah dia sedang berselingkuh dengan sahabtku samuel."jelasku.


" Ya tuhan, Samuel mom kira anak yang baik."Ucap mom.


"Sayang maafkan mom, tapi Qila tidak bersekolah di sini. Dia baru tinggal di New york tahun lalu dan sebelumya keluarga Jhonson tinggal di Macau." Tutur Mom.


"Maksud mom?" tanyaku kaget.


"Siapa nama kekasih mu dulu Gil?" tanya Dad.


"Selena Veina Rusel."


"Sudah jelaskan Qila berasal dari keluarga Jhonson dan mantan kekasihmu bersal dari keluarga Rusel." ucap Dad.


"Tapi kenapa wajah mereka sama?"tanyaku bingung.


" Entahlah, mungkin mom akan bertanya kepada marina mengenai ini."ucap Mom.


"baiklah." ucapku.


"Emm Gil sekarang jelaskan pada kami apa maksudanya kalian sudah tinggal bersama?" tanya mom meninta penjelasan.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, kalian sudah tahu dia kekasihku dan aku yang memintanya untuk tinggal bersama."


"Alesya apa kau benar-benar kekasih anakku, kau terlihat seperti gadis yang polos." tanya mom


"Emmm..i..iya Mrs.Rodrigez." ucap Alesya gugup.


"Panggil aku Mom saja okey, kau sepertinya gadis baik-baik."


"Baiklah Mrs..emm Mo..mom..mom." ucap Ale.


"Sudah berapa lama kalian bersama?" tanya mom.


"Belum sebulan." ucapku.


"Aku tidak bertanya kepadamu Gil." ucap mom


"Dimana kalian bertemu sayang?" tanya mom


"Kampus." jawab Gil lagi.


"Diamlah Gil atau ku tutup mulut mu." Ucapnya.


"Kenapa kau mau menjadi kekasih anakku, kau tahu bukan dia pria brengsek yang suka mempermainkan wanita." ucap Mom menjelekanku.


"Memang seperti itu boy." kini dad yang yang menjawab.


"Terserah." ucapku.


"jadi?" Tanya mom lagi pada Alesya.


"Ak..aku menyukainya karena..." ucapnya menggantung, ku yakin dia sedang memikirkan jawaban yang tepat agar mom percaya.


"Karena..?" ulang mom.


"Karena..Aku yakin. Dia bersikap seperti itu ada alasan yang membuatnya berubah, aku tahu sebenarnya Gil adalah pria yang hangat dan perduli namun, ia tutupi itu untuk membentengi dirinya dari sesuatu." Ucapnya kemudian dia menggenggam tanganku.


"Perlahan pasti sikap dinginnya akan kembali hangat, aku menyukai semua yang ada pada dirinya termasuk kekurangan yang harus aku terima. Karena untuk menjadikan hubungan yang kuat kita harus saling melengkapi benarkan Gil." ucapnya panjang lebar.


Wow...aku tidak percaya dia bisa berbicara seperti itu. Terlihat tulus, Benar-benar totalitas.


kemudian aku mengangguk dan mengecup pipinya, terlihat merona setalah aku mengecupnya benar-benar manis.


"Kau benar nak, dulu Gil adalah pribadi yang tidak tahu malu." Ucap dad


"Yang benar saja dad aku tidak seperti itu." keluhku.


"Benarkah?" tanya Ale antusias


"Waktu itu Gil berumur 9 tahun, kita sedang berlibur akhir pekan dan berkunjung ke sebuah pameran. Karena Bela ingin masuk rumah hantu kami terpaksa harus masuk, apalagi Gil yang waktu itu sangat takut dengan hal-hal yang berbau mistis, saat kami berada di dalam tiba-tiba hantu bohongan itu mengagetkan kami dan Gil samapi mengompol di celana kemudian menangis karena malu." Tutur Dad.


"Shit.. Dad kenapa kau menceritakan hal yang memalukan seperti itu." kesalku


"Hahahaha sungguh, kau mengompol Gil ahahahahh." ucap Ale dan tertawa. tawanya yang lepas membuatku terpana melihatnya.


"Benar, aku sampai kewalahan menenangkannya." ucao Mom


"Sudahlah, sweetheart ayo kita pulang besok bukanya kamu harus kuliah pagi hem." ucapku menyudahi perbincangan ini yang seluruhnya menceritakanku.


"Loh kenapa kalian baru sebentar, menginaplah." ucap mom.


"Tidak bisa mom kita harus pulang, besok aku ada meeting yang sangat penting dan Alesya harus kuliah." ucapku.


" Ayolah hari ini saja."ucap mom memohon.


"Tapi mom...Baiklah kita akan menginap." ucapku karena tidak tega melihat mom seperti itu.


"Akhirnya, aku sangat senang mendengarnya." ucap mom senang.


"Okey Dad akan menyelesaikan beberapa pekerjaan di atas, selamat malam." ucap dad kemudian pergi meninggalkan kami.


"Kalau begitu mom juga akan pergi ke kamar kalian beristirahatlah." ucap mom dan kini tinggal aku bersama Alesya.


"Huffttt akhirnya aku bisa bernapas lega." ucap Ale.


"Kenapa kau?" ucapku


"Ternyata berpura-pura itu melelahkan." ucapnya polos.


"Emm aku akan bertemu dad untuk membicarakan beberapa pekerjaan, kau beristirahatlah di kamarku yang pintunya berwarna cokelat." ucapku dan pergi menyusul dad.


"Apa dia lupa , aku baru saja menginjakan kaki di rumah yang sangat luas ini dan sekarang harus mencari kamarnya."ucap Ale


Alesya naik ke laintai dua dan mecari pintu yang berwarna cokelat, apa mereka tidak kesepian rumah sebesar ini hanya di tinggali dua orang dan beberapa bodyguard saja. Dan akhirnya Ale menemukan pintu yang bercat putih kemudian masuk karena tidak terkunci juga.


Desain yang mencerminkan kepribadian seorang Gilbert, kamarnya dua kali lipat lebih besar di bandingkan denga di apartment.



Setelah puas melihat isinya Alesya berniat membersihkan diri dan ia lupa harus mengenakan apa, alhasil Alesya memberanikan diri memakai kemeja Gil yang kebesaran jika ia kenakan namun tak apa daripada tidak memakai apapun. Setelah itu Ale merebahkan dirinya dan terlelap.