
Hari sudah menunjukan pukul sembilan malam, Gil belum datang juga. Alesya sampai kesal, untung saja ada Maria dan Bela yang menghiburnya. Mereka berdua juga bingung kenapa Gil belum datang, padahal tadi Dia berpesan hanya sebentar.
"Mom, kapan kita bisa pulang. Aku sudah tidak betah diasini, dan lebih enak di rumah juga." Keluh Alesya.
"Sabarlah sayang, mungkin tiga atau empat harian lagi."Jawab Bela.
" Lihatlah Leo sangat tenang, dia jarang menangis. Memang anak pintar, Aku jadi tidak sabar melihatnya tumbuh besar."Ucap Maria.
"Haha Kau ini, cucuku ini baru saja lahir." Ucap Bela.
"Iya aku tahu." Balasnya.
"Oh ya apa Tio dan Marina sudau tahu Alesya melahirkan?" Tanya Bela.
"Sudah, mungkin besok mereka akan kemari." Jawab Maria.
Perihal itu, Maria memang menerima Jhonson sebagai keluarga barunya. Ia sempat keberatan, tapi Bela dan Gio selalu membujuknya. Dan, sudah beberpa bulan ini dia tinggal bersama keluarga Jhonson pun nama belakangnya sudah berubah.
"Ohhh baiklah, aku akan menunggunya. Sudah lama kami tidak bertemu, dia memang sok sibuk hingga tidak bisa sekedar berkumpul bersama yang lainnya." Ucap Bela.
"Ya Mom Bela, Mommy sekarang selalu ikut Daddy kemanapun. Kurasa itu yang membuatnya terlihat sibuk padahal tugasnya hanya menemani."Kekeh Maria.
" Mungkin Uncle Tio tidak mau kesepian."Sahut Alesya.
"Iya, dan aku yang kesepian." Kesal Maria.
"Benarkah, aku tidak merasa Kakak kesepian."
"Kerena?"
"Sam selalu menemanimu." Goda Alesya.
"Tidak, kata siapa. Mana ada Sam menemaniku, kalau bertemu beberpa kali iya." Sangkalnya.
"Ohhh begitu yah, sampai menginap. Apa itu yang disebut beberapa kali bertemu?"
"Kkka..kamu, bagaimana bisa?"
"Hahahah Maria, Kau sudah nakal rupanya. Cepatlah menikah, sepertinya Sam juga mau." Sahut Bela.
"Ahahaha kita hanya berteman saja Mom." Sangkalnya lagi.
"Menurutku lebih dari sekedar teman." Sahut Alesya.
"Iya."
"Kenapa kalian jadi memojokan ku, beby Leo lihatlah Mommy dan Grandma Mu. Mereka meledekku, bantu aku memarahi mereka."
"Apa yang di katakan Mom dan Grandma benar Aunty " Ucap Alesya menirukan suara khas anak kecil.
Dan mereka semua pun tertawa setelahnya, sudah pukul setenag sepuluh Maria pamit pulang. Sedangkan Gil tak kunjung datang. Akhirnya Ia menyerah, Alesya sudah tertidur lelap di atas ranjang.
.............
Pagi sekali Ia terbangun, karena baby Leo menangis. Dengan telaten Alesya yang sudah di ajari Bela untuk memberilan ASI kepada bayinya. Gil belum juga terlihat, sebenarnya kemana mereka pegi sampai-sampai tidak pulang seperti ini.
Alesya merasa kesal dan khawatir, namun ia alihkan perhatian kepada baby Leo. Putranya yang tampan itu sedang tenang melahap ASI nya, Gil akan bail-baik saja. Alesya percaya itu, mungkin memang pekerjaannya yang membuat dia belum pulang.
"Mom, apa dad Gio mengabari sesuatu?"Tanya Alesya.
"Gil?"
"Dia tidak menghubungiku sama sekali, tenanglah sayang. Gil hanya sedang mengurusi beberapa pekerjaan, dia juga bersama yang lainnya kan."
"Heum iya, mungkin sebentar lagi dia kembali."
"Iya bersabarlah, kamu rupanya sudah sangat merindukan Gil. Padahal hanya semalaman dia tidak pulang, tenang saja nanti akan ku marahi dia jika sudah pulang karena meninggalkan cucu dan menantu kesayangan ku ini sendirian."
"Haha jangan berlebihan Mom, kurasa itu tidak perlu."
"Biarkan, aku akan tetap memarahinya."
"Mom, sudah bertanya aku kapan boleh pulang?"
"Jika kondisimu sekarang sudah mulai membaik Besok juga sudah boleh pulang."
"Syukurlah, Mom sudah sarapan?"
"Sudah saat kalian masih tidur, Ale sebaiknya kalian tinggalah sementara di mansion Mom."
"Emmm nanti akan ku tanyakan kepada Gil terlebih dahulu, tapi sepertinya hanya untuk beberapa minggu saja Mom."
"Tak apa, mungkin sampai Daddy pulang."
"Baiklah."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan kasar, mereka yang berda di dalam ruangan itu langsung menoleh bersamaan kearah pintu masuk.
"Gil."Panggilnya bersamaan.
" Sweetheart i miss you so bad, maafkan aku tidak bisa pulang dengan cepat, maaf."Ucap Gil sambil memeluk dan mengecup berkali-kali kening istri dan anaknya bergantian.
"Sudahlah Gil tak apa, sekarang kamu sudah disini kan.".
" Tapi aku membuatmu menunggu."
"Iya kau memang anak nakal, dimana pikiranmu itu Gil. Tidak mengabari, meninggalkan anak dan istri. Ayah macam apa kau ini, sebagai hukumannya kau harus mengijinkan menantu dan cucu kesayanganku ini menginap di mansion ku sampai Gio datang dari Italia." Sahut Bela.
"Mom, kenapa memarahiku. Aku ada urusan yang benar-benar tidak bisa di tinggalkan, dan aku juga sudah meminta maaf. Dan, untuk hukumannya tidak masalah."Ucap Gil.
" Benarkah?"Tanya Bela dengan nada senang.
"Yes Mom."Jawab Gil.
" Yeeeyy."Ucapnya kegirangan seperti anak kecil.
"Inget umur Mom." Tegur Gil.
"Biarkan, aku sangat senang hari ini."
"Emm Gil kau sudah sarapan ?" Tanya Alesya.
"Belum sempat, mungkin setelah aku menggendong jagoan cilik ini. Maafkan Daddy sayang, uhhh kau gemas sekali." Ucap Gil.
Alesya dan Bela diam dan tersenyum melihat tingkah Gil, Mereka bahagia. Sifat Gil yang hangat kembali, meski tidak sepenuhnya. Mereka tahu sikap Gil berbeda saat di rumah dan di luar, dia membentengi dirinya dengan bersikap dingin tak tersentuh saat di luar, karena untuk membuat semua orang takut pedanya dan agar tidak berani mengusik secuil ujung kukupun dari keluarganya.